Mengurai Delapan Taktik Demonstran Hong Kong

INFOGAFIK TAKTIK DEMONSTRAN HONGKONG
Unjuk rasa rakyat Hong Kong di jalan utama dekat Dewan Legislatif ketika mereka melanjutkan protes terhadap RUU ekstradisi yang tidak populer di Hong Kong. AP / Kin Cheung
Oleh: Eddward S Kennedy - 12 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bagaimana cara demonstran di Hong Kong melanggengkan aksinya?
tirto.id - Demonstrasi Hong Kong masih berlanjut. Aksi terakhir yang dilakukan para demonstran adalah menduduki Bandara Internasional Hong Kong pada Jumat (9/8/2019). Kali ini aksi yang digelar difokuskan demi mendapat dukungan publik global terkait isu penolakan RUU Ekstradisi yang sepanjang dua bulan terakhir terus disuarakan.

Para demonstran yang mayoritas berpakaian hitam berkumpul di ruang tunggu bandara untuk menyiarkan “kebenaran” yang terjadi di Hong Kong kepada para penumpang pesawat, wabilkhusus warga negara asing. “Tidak ada perusuh, hanya tirani,” demikian yang selalu mereka teriakkan. Selain itu, para demonstran juga mengangkat spanduk dan kertas--dalam bahasa Tiongkok dan Inggris--yang mengutuk kekerasan polisi: “Selamatkan Hong Kong dari tirani dan brutalitas polisi!”

Semula aksi tersebut dikhawatirkan akan mengganggu jadwal penerbangan, akan tetapi pada kenyataannya bandara masih dapat beroperasi seperti biasa. Okupansi di Bandara Internasional Hongkong rencananya akan berlangsung sepanjang akhir pekan ini. Charlotte Au, siswa berusia 16 tahun yang juga ikut dalam aksi tersebut, mengatakan kepada Channel News Asia: “Kami ingin memberi tahu para penumpang pesawat yang datang apa yang terjadi di Hong Kong. Jadi kami menyiapkan selebaran ini untuk menunjukkan lima tuntutan utama. Kami berharap untuk memberi tahu kepada mereka kebenaran yang ada dan mendapatkan dukungan mereka.”.

Para penumpang yang tiba di Bandara Internasional Hong Kong tampak bingung ketika datang ke aula untuk beristirahat. Namun, banyak pula di antara mereka yang berhenti untuk mengambil foto atau menerima selebaran yang dibagikan oleh para demonstran. Clara Boudehen, seorang warga negara asing yang mengaku datang dari Perancis, kepada Telegraph mengatakan mengaku amat terkesan dengan aksi massa yang ia lihat.

“Demokrasi tidak mutlak. Kita harus berjuang untuk itu. Untuk melihat perjuangan penduduk dalam hal demokrasi sangat penting.”

Adapun Monica Yoon Hee Jung, yang baru saja tiba dari Korea, mengaku sebelumnya sedikit gugup untuk ke Hong Kong, terutama mengingat banyak negara juga telah mengeluarkan travel warning untuk ke sana dalam beberapa hari terakhir. Namun, ketika dia melihat langsung apa yang terjadi, tanggapannya pun segera berubah.

“Ketika saya melihat aksi pengunjuk rasa di sini, itu benar-benar damai. Mereka tidak agresif sama sekali. Saya merasa mereka berusaha menunjukkan hati mereka yang sebenarnya. Sangat tulus,” ujarnya, yang juga dilansir Channel News Asia.

Pertanyaannya: bagaimana aksi massa yang telah berlangsung berbulan-bulan di sebuah negara padat seperti Hong Kong, dengan juga turut menghadirkan khaos di sana-sini, masih mampu menimbulkan simpati dari banyak warga asing? Untuk menjawab pertanyaan ini, penting kiranya membahas sedikitnya delapan taktik yang dilakukan oleh para demonstran selama ini.



Dari Menjadi “Air” hingga Revolusi Berbasis Crowdfunding

Taktik pertama yang digunakan oleh para demonstran Hong Kong adalah meniadakan sosok pemimpin dalam aksi mereka. Taktik perlawanan tanpa pimpinan ini lazim dikenal dengan istilah leaderless resistance. Dengan berbagai varian, sejatinya taktik ini juga digunakan oleh kalangan kanan, kiri, anarkis, hingga jihadis.

Leaderless resistance adalah konsep yang digagas oleh Kolonel Ulius Louis Amoss, seorang mantan perwira intelijen AS, pada awal 1960-an. Amoss melihat konsep tanpa pimpinan tersebut dapat efektif mencegah penetrasi sekaligus menghancurkan penghancuran sel-sel komunis di negara-negara Eropa Timur di bawah kendali Uni Soviet.

Pada 1983, seorang anggota Ku Klux Klan, Louis Beam, kembali menggemakan konsep leaderless resistance melalui esainya. Hal yang sama kembali ia kemukakan pada 1992. Menurut Beam, perlawanan tanpa pimpinan adalah teknik yang tepat bagi kaum nasionalis kulit putih untuk melanjutkan perjuangan melawan pemerintah AS, kendatipun banyak sekali ketidakseimbangan kekuatan dan sumber daya.

Lantas bagaimana cara pengimplementasian taktik leaderless resistance oleh demonstran Hong Kong? Untuk menggantikan posisi komando, mereka mengorganisir diri dengan memanfaatkan teknologi--yang menjadi taktik selanjutnya. Dalam hal ini, konteks yang dimaksud adalah menggunakan pesan terenkripsi melalui aplikasi daring maupun aktif di berbagai forum online, terutama di LIHKG--semacam Reddit versi Hong Kong.

Salah satu contohnya, sebagaimana termuat dalam laporan BBC, hampir 4.000 pengunjuk rasa memberikan suara di grup Telegram untuk menentukan apakah para demonstran pulang pada malam itu atau melanjutkan protes di luar markas polisi Hong Kong. Sebanyak 39% dari mereka memberikan suara ke pos polisi, kendati pengepungan selama enam jam terus berlanjut.

Profesor Francis Lee dari Chinese University of Hong Kong, memiliki istilah menarik mengenai taktik tersebut: “open-source protest”. Ketiadaan pimpinan juga mendorong orang ingin terlibat dalam demonstrasi. Hal ini juga bisa jadi dilandasi perhitungan lain, semisal kemungkinan mereka diincar aparat tidak sebesar Joshua Wong yang menjadi pemimpin Umbrella Movement atau Benny Tai dan Chan Kin-man yang menggagas rencana Occupy Central. Satu hal yang jelas, taktik tersebut secara tidak langsung menunjukkan bagaimana penerapan demokrasi partisipatif yang organik, sehat, dan tepat sasaran.

Kembali ke penggunaan aplikasi pesan. Selain Telegram, fitur lain seperti Airdrop--sayangnya ini hanya terdapat di iPhone--, juga dapat digunakan untuk menyebar poster dan spanduk, bahkan hingga menyasar ke masyarakat, tentang aksi selanjutnya secara cepat dan tanpa sambungan kabel. Sebelum turun aksi, para demonstran di Telegram biasanya juga saling mengingatkan "untuk mengaktifkan AirDrop!".

Sementara itu, ketika aksi berlangsung panas di lapangan, para demonstran di garis depan lazim menggunakan taktik bahasa isyarat untuk mengkomunikasikan hal-hal tertentu. Misalnya untuk meminta agar beberapa peralatan yang dibutuhkan segera sampai ke depan. Nantinya, rantai manusia yang terbentang panjang itu akan bahu membahu membawakan alat atau barang yang dimaksud dari belakang hingga ke depan.

Taktik selanjutnya adalah membuat tim khusus untuk menetralisir/memadamkan gas air mata. Tim ini biasanya hanya terdiri dari lima-enam orang dan menempati posisi sedikit di belakang garis depan. Ketika gas air mata dilemparkan polisi, mereka akan segera menutupnya menggunakan peralatan khusus, yaitu traffic cone, agar persebaran asapnya bisa dibatasi, lalu memadamkannya dengan menuangkan air ke dalam cerobong asap tersebut.

Para demonstran Hong Kong juga memiliki taktik lain yaitu menghindari bentrokan dengan aparat demi mencegah munculnya korban. Sadar tidak memiliki peralatan berat atau taktik pertempuran urban yang mumpuni, mereka akan mencegah bentrok dengan cara setertib dan sedisiplin mungkin. Demonstran di garis terdepan akan memberi aba-aba “satu-dua” sebelum kemudian diikuti oleh garis berikutnya di belakang mereka.

Taktik menghindari bentrok tersebut juga diaplikasikan oleh para demonstran bergerak cair menyebar ke berbagai titik dan tidak lagi memaksakan diri untuk mengokupasi tempat-tempat tertentu, kecuali memang memiliki urgensi terkait agenda mereka. Seperti pendudukan bandara yang dimaksudkan demi mendapat dukungan publik global, misalnya. Taktik ini terinspirasi dari kata-kata Bruce Lee yang terkenal, “Be water”, tentang kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi apa pun.

Taktik terakhir yang digunakan para demonstran adalah mengadakan penggalangan dana dengan tujuan mereka dapat beriklan satu halaman penuh di berbagai surat kabar terkemuka di dunia. Momentum yang mereka incar adalah KTT G-20 yang digelar di Osaka, Jepang, pada akhir Juni 2019 lalu. Crowdfunding tersebut pun berhasil dengan spektakuler.

Hanya dalam beberapa jam saja, dana yang terkumpul mencapai lebih dari £600,000. Relawan khusus bagian desain grafis kemudian membuat poster-poster menarik lalu mengirimnya via surat elektronik ke berbagai surat kabar dunia. Alhasil, iklan hitam putih satu halaman penuh dengan pesan “Stand with Hong Kong at G20” tayang mulai dari New York Times, The Guardian, Le Monde, Süddeutsche Zeitung, The Australian, Asahi Shimbun, Globe & Mail, hingga Seoul Daily, beberapa hari jelang KTT G-20 resmi dimulai.

Baca juga artikel terkait DEMONSTRASI atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Politik)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight