15 Januari 1974

Malari 1974: Protes Mahasiswa yang Ditunggangi Para Jenderal

Oleh: Husein Abdulsalam - 15 Januari 2018
Dibaca Normal 5 menit
Adu kepala.
Dua gajah di lingkar
dalam istana.
tirto.id - Bandara Halim Perdanakusuma, pukul 19.45. Pesawat Super DC-8 JAL mendarat dengan mulus di landasan. Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka dipersilakan keluar dari pesawat. Tidak ada upacara militer dan sambutan kenegaraan. Setelah menerima kalungan bunga, Tanaka meluncur ke Wisma Negara untuk beristirahat.

Presiden Soeharto dan beberapa menteri bertemu dengan Tanaka serta rombongannya pada 15 Januari 1974, tepat hari ini 44 tahun lalu, di Istana Negara. Pada saat bersamaan, ribuan orang, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan pelajar SMA, turun ke jalan melancarkan protes. Mereka berteriak lantang menentang derasnya investasi Jepang yang masuk ke Indonesia.

Sejak Tanaka tiba, tidak hanya Jakarta yang menjadi berbeda. Kehidupan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gelombang protes terbesar pertama setelah Orde Baru berkuasa ini juga menjadi lain. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama “Malapetaka 15 Januari 1974” (Malari 1974).

Hariman Siregar dan Para Demonstran

Hariman Siregar adalah ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM UI) sekaligus pimpinan aksi massa pada hari itu. Atas komandonya, para mahasiswa melakukan long march dari kampus UI, Salemba, menuju Universitas Trisakti, Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat.

Di penjuru lain Jakarta, aksi massa juga berlangsung. Salah satu yang paling mencekam terjadi di Pasar Senen. Di sana massa membakar proyek kompleks pertokoan yang baru saja dibangun. Mereka mengajukan tiga tuntutan yang dinamakan “Tritura Baru 1974”: Pertama, bubarkan lembaga Asisten Pribadi Presiden (Aspri); kedua, turunkan harga; ketiga, ganyang korupsi.

Baca juga: Gelora Tritura Menggulung Riwayat Orde Lama

Bagi para demonstran, modal asing yang beredar di Indonesia sudah berlebihan. Menurut mereka pula, Tanaka berikut investasi, korporasi, dan produk-produk asal Jepang adalah bentuk imperialisme gaya baru.

“Kami akan membakar semua produk Jepang,” kata seorang demonstran, seperti dilaporkan jurnalis New York Times Richard Halloranjan dalam artikel “Violent Crowds in Jakarta Protest the Visit by Tanaka

Soemitro Berorasi di Atas Jip

Soemitro menjabat Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) saat itu. Sesuai dengan namanya, Kopkamtib tentu saja dibentuk untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

Saat mendengar kabar para demonstran masuk ke Jalan Thamrin, dia langsung loncat ke atas mobil jip. Dalam pikirannya hanya satu: para demonstran tidak boleh masuk Monumen Nasional (Monas). Dia bergegas menghampiri mereka.

Namun, baru sampai Sarinah, laju mobil jipnya melambat. Jalanan macet karena terhalangi demonstran yang berkumpul di depan Kedutaan Besar Jepang yang terletak tidak jauh dari Sarinah.

Soemitro lantas naik ke badan mobil jip. Laki-laki yang lahir pada 1925 itu berorasi. Lewat pengeras suara, kata-katanya bisa didengar semua demonstran yang ada di situ.

“Saya mengerti aspirasi saudara-saudara. Saya mengerti uneg-uneg kalian. Tapi, percayakan soal itu kepada pemerintah kita,” kata Soemitro. Ia mengakhiri orasinya dengan pertanyaan, “Kalian percaya atau tidak pada saya?”

Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974 (1996), buku kumpulan kesaksian yang dituturkan Soemitro kepada Heru Cahyono, menyebut orasi itu berhasil. Massa berangsur membubarkan diri. Kecemasan bahwa para demonstran akan memasuki Monas pun sirna dari benak jenderal yang menjabat Pangkopkamtib sejak 1971 itu.

Ali Moertopo dan CSIS

Kantor Centre for Strategic and International Studies (CSIS) terletak di Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat. CSIS disebut sebagai penyumbang pemikiran kebijakan ekonomi pro-korporasi asing yang diterapkan Soeharto.

Pada hari malapetaka itu, tepat di depan kantor CSIS para demonstran berhenti. Mereka berteriak-teriak seraya mengejek lembaga yang didirikan dua orang ASPRI Soeharto, Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani, tersebut. Mereka bilang Ali Moertopo adalah antek-antek Jepang.

Ali Moertopo tidak terima. Laki-laki yang juga menjabat deputi kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) itu marah dan meraih pistolnya.

Jusuf Wanandi, yang saat itu bekerja di CSIS, berusaha mencegah tindakan Ali.

“Apa kamu takut,” kata Ali kepada Jusuf.

“Bukan seperti itu, Pak. Saya pernah dalam posisi meraka. Mereka sangat kuat dan dapat menggilas CSIS,” balas Jusuf, seperti diceritakannya dalam Shades of Grey: A Political Memoir of Modern Indonesia, 1965-1998 (2012).

Para Aparat dan Soeharto

Pada hari itu juga, wartawan Tempo Martin Aleida mendapat tugas memotret. Dalam suatu tayangan dokumenter bertajuk “Menolak Lupa” yang disiarkan Metro TV, dia mengisahkan ketika iring-iringan massa lewat di depannya sambil meneriakkan ucapan yang menyeramkan.

Syahdan, dua atau tiga tentara berseragam memanggil Martin. Mereka meminta rol film yang terdapat dalam kameranya. Martin tidak punya alasan untuk menolak. Dia juga berpikir, toh foto itu tidak akan bisa dimuat di majalahnya. Dia pun menyerahkan film kamera itu.

Kepada New York Times, Richard Halloranjan melaporkan, sebagian besar polisi dan tentara Indonesia yang dikirim untuk berpatroli hanya berdiri dan menonton. Mereka hampir tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan para demonstran.

Baru pada sore hari, peluru peringatan ditembakkan ke udara. Lalu, setelah malam tiba, aparat keamanan mulai bertindak kasar. Polisi mengangkut sekitar selusin demonstran ke sebuah kantor polisi terdekat. Richard juga menyebut ada seorang demonstran yang dipukuli di belakang kepala.

Pada malam itu juga, saat jamuan makan malam, Presiden Soeharto meminta maaf kepada Tanaka atas gelombang protes yang muncul. Tanaka menanggapinya dengan mengatakan dia paham atas situasi yang terjadi. Dia pun meminta Soeharto untuk tidak mengkhawatirkannya.

Ali Sadikin dan TVRI

Keesokan hari, 16 Januari 1974, aliran demonstrasi tidak kunjung mereda. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin resah. Laki-laki yang akrab disapa Bang Ali itu memutuskan pergi ke kampus UI di Salemba.

“Saya masuk dari belakang, dari rumah sakit,” sebut Bang Ali dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977 (1995).

Kabar Bang Ali sedang berada di UI itu pun sampai ke Soemitro lewat laporan dari Kepala Staf Kopkamtib Sudomo. Soemitro meminta Bang Ali untuk meneruskan dialog dengan mahasiswa. Pesan Soemitro: katakan kepada mahasiswa bahwa persoalan sudah selesai, usahakan supaya aksi mahasiswa mereda.

Baca juga:

Pada malam hari, Bang Ali berbicara kepada para mahasiswa seraya menekankan, jika demonstrasi terus berlangsung, korban dari pihak mahasiswa akan berjatuhan. Bang Ali pun mengajak Hariman ke TVRI. Lewat siaran TVRI, Hariman mengumumkan persoalan yang dihadapi mahasiswa sudah selesai.

Imbauan Hariman di TVRI itu mampu meredam aksi mahasiswa. Namun, malapetaka sudah kadung terjadi. Sebanyak 807 mobil dan motor buatan Jepang hangus dibakar massa, 11 orang meninggal dunia, 300 luka-luka, 144 buah bangunan rusak berat, 160 kg emas hilang dari toko-toko perhiasan.

Dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1976) yang disusun O.G. Roeder, Soeharto menyebut peristiwa ini sebagai “satu lagi lembaran hitam” dalam pertumbuhan negara.

Siapa Menabur Angin, Ia Menuai Badai

Setelah Malari 1974, Soeharto memecat Soemitro dari jabatan Pangkopkamtib. Ia juga membubarkan lembaga Aspri dan Ali Moertopo dipindah tugas sebagai Wakil Kepala Bakin.

Pencopotan jabatan juga terjadi pada orang-orang terdekat Soemitro. Sutopo Juwono—dikenal sebagai “orangnya Soemitro”—dicopot dari jabatan Kepala Bakin. Soeharto lalu memanggil Yoga Sugama yang tengah menjadi perwakilan Indonesia di PBB untuk menggantikannya.

Baca juga:


Sedangkan “nasib baik” justru menghampiri Ali Sadikin. Berkat keberaniannya menerobos kampus UI, Bang Ali dihomati betul oleh para mahasiswa.

Sementara itu, beberapa media massa terkena imbasnya. Karena dianggap memberikan proporsi berita berlebihan dan memanaskan suasana, Harian Abadi, Pedoman, Indonesia Raya, Harian KAMI, dan The Jakarta Times diberedel pemerintah.

Lalu, sebanyak 775 orang aktivis ditangkap. Di antaranya Hariman Siregar, tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI, partai bentukan Sutan Sjahrir yang sudah lama bubar) Soebadio Sastrosatomo, aktivis HAM Adnan Buyung Nasution dan J.C. Princen, dan akademisi Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.

Sebagaimana dilansir Rahasia-rahasia Ali Moertopo, dalam proses penangkapan aktivis yang dinilai terlibat Malari 1974, orang-orang Soemitro berupaya menangkap pendukung Ali Moertopo. Begitu pula sebaliknya. Kelompok Ali Moertopo berusaha menangkap pendukung Soemitro. Pola seperti itu menjadi salah satu indikasi adanya perseteruan antara Soemitro dan Ali Moertopo di balik peristiwa Malari 1974.

Perseteruan tersebut sebenarnya sudah muncul sebelum Malari 1974 meletus. Mereka seolah-olah berlomba merebut perhatian dan berusaha mendekatkan diri kepada jantung kekuasaan saat itu: Soeharto. Salah satu cara yang ditempuh yakni dengan menunggangi gerakan mahasiswa yang mulai mencuat sejak 1970 dan menguat pada 1973.

Baca juga: Tentara Tak Pernah Salah

Infografik Mozaik Malari


Dalam artikelnya di majalah Prisma (No. 12, Desember 1981) berjudul “Mahasiswa, Ilusi tentang Sebuah Kekuatan”, Masminar Mangiang mencatat, variasi gerakan seperti Komite Anti Korupsi, golongan putih pada Pemilihan Umum 1971, serta penolakan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan RUU Perkawinan sepanjang 1970 sampai 1974 adalah indikasi makin memanasnya hubungan antara pemerintah dan mahasiswa.

Baca juga: Walk Out Legendaris yang Dilakukan NU-PPP di Era Orde Baru

Ali Moertopo dinilai berhasil menguasai mahasiswa UI lewat intervensi yang dilakukannya dalam pemilihan Hariman sebagai Ketua DM UI. Menjelang akhir 1973, saat situasi politik memanas, Soemitro rajin menyambangi kampus-kampus, kecuali UI.

Salah satu indikasi lain yang dijelaskan Soemitro dalam biografinya adalah soal keberadaan Dokumen Ramadi. Kata “Ramadi” merujuk pada nama seorang anggota MPR dari Golkar yang juga menjadi penasihat Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI). Keberadaan dokumen ini sudah diketahui Soemitro sejak September 1973 tetapi tidak terlalu digubrisnya.

Dokumen tersebut memuat rencana revolusi sosial yang dijadwalkan meletus pada 4 April dan 6 Juni 1974. Revolusi itu dikatakan mampu menggantikan Soeharto dengan seseorang berinisial “S”—maksudnya tentu saja Soemitro.

Menurut Soemitro, pada masa itu memang ada penggalangan orang-orang eks DI/TII—yang berhubungan dekat dengan Ali Moertopo—untuk masuk GUPPI. Karena itu, bagi Soemitro, isi Dokumen Ramadi adalah desas-desus yang disebarkan kelompok Ali Moertopo untuk menjatuhkan namanya.

Baca juga: Pengeboman BCA 1984, Soeharto, dan Islam

Sementara itu, Kepala Bakin Yoga Sugama, yang ditugaskan menyusun laporan mengenai Malari 1974 oleh Presiden Soeharto, punya perspektif lain. Seperti diungkapkannya dalam Memori Jenderal Yoga (1991), dia menyebut, pergolakan yang terjadi pada akhir 1973 dan awal 1974 itu tidak murni sebagai gerakan mahasiswa.

Hasil penelusurannya bermuara pada kesimpulan bahwa ada kelompok lain yang menggerakkan mahasiswa dari balik layar. Kelompok itu adalah simpatisan Partai Sosialis Indonesia dan Kelompok Ramadi—orang “binaan” Ali Moertopo yang pernah diungkapkan Soemitro.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan