Ali Moertopo

LahirBlora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Indonesia, 23 September 1924
Profesi
Karier
  • Anggota BKR (Badan Keamanana Rakyat) (1945)
  • Asisten Teritorial Pangdam Diponegoro (1956)
  • Kepala Staf Resimen II PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) (1959)
  • Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD)
  • Panglima CADUAD (Cadangan Umum Angkatan Darat)
  • Asisten Kepala Staf CADUAD(Cadangan Umum Angkatan Darat)

Ali Moertopo adalah salah satu intelijen tentara yang turut mengharubirukan Indonesia di masa Orde Baru. Sebelum di DPA, Ali menjadi Menteri Penerangan Indonesia (1978-1984) sebelum akhirnya dijabat oleh Harmoko. Menteri Penerangan di jaman Soeharto adalah corong bagi pemerintah untuk menggelorakan semangat pembangunan Orba. Jabatan yang disandang Ali Moertopo, menunjukkan sinyalemen bahwa dirinya dekat dengan Soeharto.

Sebelum menjabat Menteri Penerangan, Ali Moertopo lama di Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) yang merupakan cikal bakal Badan Intelijen Negara (BIN) sedari tahun 1969-1978. Di Bakin itulah Ali Moetopo banyak melakukan manuver-manuver politik, ekonomi dan militer. Pada 1973, misalnya, Ali melalui operasi intelijennya berhasil menyederhanakan 10 partai politik yang ikut pemilu 1971 menjadi hanya 3 partai: PPP, Golkar, dan PDI. Tujuan dari operasi intelijen di bidang politik ini adalah agar pemerintah bisa dengan mudah mengendalikan kekuatan kelompok-kelompok politik.

Tidak hanya itu saja pada 1972, misalnya, Ali menerbitkan sebuah buku panduan pembangunan berjudul Dasar-dasar Pemikiran tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun. Pemikiran Ali Moertopo ini diterima oleh MPR untuk menentukan stretegi Pembangunan Jangka Panjang (PJP) sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Pokok pikiran modernasi pembangunan ala Ali ini menjadi panduan bagi pembangunan Indonesia ketika itu—yang tentu saja sudah direstui dan direncanakan Soeharto.

Pemikiran intelektual Ali ini tidak bisa dilepaskan dari pemikiran sejumlah intelektual Indonesia yang tergabung dalam Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Lembaga ini didirikan oleh Ali Moertopo bersama Soedjono Hoemardani yang merupakan asisten pribadi Presiden Soeharto pada 1 September 1971 sebagai “perkebunan otak” yang buahnya bisa dimanfaatkan Orba. Lembaga penelitian ini disponsori oleh Yayasan Proklamasi dalam riset dan penerbitan imiahnya.

Di masa kepemimpinannya, Ali membentuk Operasi intelijen Khusus (Opsus). Opsus ini langsung di bawah komando Ali Moertopo yang saat itu pangkatnya masih Letnan Kolonel. Sebagai pembantu kerjanya Ali melibatkan Leonardus Benyamin (LB) Moerdani dan Aloysius Sugiyanto.Tujuan dari Opsus adalah membasmi musuh-musuh politik Soeharto. LB Moerdani merupakan tentara binaan Ali Moertopo sejak Operasi Mandala. Ketika itu Ali menjabat sebagai Wakil Asisten Intelijen Kostrad berpangkat Letnan Kolonel. Ali menunjuk Benny menjadi Wakil Asisten Intelijen Komando Tempur Satu di Medan.

Salah satu cara yang digunakan Ali Moertopo dan anak buahnya untuk menjinakkan musuh-musuh Soeharto dalam Opsus adalah dengan “mengandangkan” mereka. Sebagaimana dilakukannya pada mantan anggota DaruI Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Permesta, atau PRRI. Mereka dibina dan terkadang dimanfaatkan untuk aktifitas intelijen. Untuk melancarkan tugas-tugas tersebut, Ali Moertopo menggunakan jasa intelijen Pitut Soeharto. Pitut inilah yang membina mantan-mantan anggota DI/TII dalam masa-masa Opsus.

Dalam aktifitas intelijen yang dilakukan Bakin, Ali Moertopo memang lebih sering muncul di hadapan publik ketimbang Yoga Sugama, seniornya. Padahal Yoga Sugama inilah yang menjadi tokoh di balik layar kegiatan intelijen di masa Orba. Yoga pula yang membawa Ali Moertopo untuk dekat dengan Soeharto. Pada saat Soeharto melakukan perebutan kekuasaan secara perlahan pasca peristiwa 30 September 1965, Ali Moertopo adalah bawahan Yoga di Kostrad.

Jaringan Soeharto, Yoga Sugama dan Ali Moertopo itu sudah berlangsung ketika mereka sama-sama bertugas di Kodam Diponegoro yang ketika itu bernama Tentara Teritorium IV/Jawa Tengah. Bersama dengan Yoga, Ali adalah bawahan Soeharto yang setia. Pada 1956 saat jabatan Soeharto di Kodam Diponegoro terancam dicopot, Yoga mengontak Ali Murtopo untuk membantu menyelesaikan masalah itu. Berdua mereka menggalang pertemuan tertutup perwira-perwira Kodam Diponegoro di Kopeng Salatiga. Pertemuan itu menyepakati menolak Bambang Supeno sebagai panglima. Kebulatan tekad penolakan itu disampaikan kepada Wakil Kepala Staf AD, Zulkifli Lubis, guru intelijen Yoga. Akhirnya Bambang gagal jadi Pangdam dan Soeharto selamat dari pemecatan.

Sebelum dekat dengan Soeharto di Kodam Diponegoro Ali pernah memimpin Kompi Banteng Raiders yang dulu sempat dipimpin oleh Letkol Ahmad Yani. Kompi ini terlibat dalam penumpasan Darul Islam di Cilacap dan Kebumen.

Meski bisa masuk dalam kesatuan elit Banteng Raiders, Ali Moertopo berbeda dengan Ahmad Yani, Soeharto, maupun Yoga Sugama. Ali tak pernah mendapatkan pendidikan militer secara khusus dia juga tak tertarik pada soal politik. Ali berasal dari Lazkar Hisbullah. Di kelaskaran Islam ini Ali menjadi salah satu komandan peleton yang terlibat dalam peperangan melawan Belanda di daerah Pekalongan.

Ali memang bukan lahir dari lingkungan tentara. Pakde Ali Moertopo, Ali Rahman, yang membesarkannya adalah seorang ulama sekaligus pendidik. Sedari bayi Ali Moertopo tinggal bersama pakdenya yang mendirikan sekolah partikelir di Pekalongan.

Sementara ayahnya Raden Sutikno Kartoprawiro adalah seorang pedagang di Blora, yang meninggal saat Ali Masih kecil. Ibu Ali Moertopo, Soekati, melahirkan Ali Moertopo pada 23 September 1924 di Blora, Jawa Tengah. Ayahnya Kartoprawiro konon masih memiliki garis keturunan Pangeran Diponegoro.