Sobron Aidit yang Berenang-renang ke Surga

Sobron Aidit. Twitter/@SobronAidit
Oleh: Irfan Teguh - 23 Maret 2018
Dibaca Normal 5 menit
Di hari tuanya, Sobron Aidit banyak menulis kuliner, pengalaman masa kecil, serta kegalauan ditinggal kawan-kawan lama.
tirto.id - “Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna ‘yang kalah’, air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. ‘Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.’ Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga…”

Begitu akhir hidup Bro dalam cerpen Melarung Bro di Nantalu karya Martin Aleida yang sempat memicu perdebatan tentang Trotskyisme. Dalam cerpen tersebut diceritakan kehidupan Bro ketika hidup di luar negeri, yakni di Tiongkok dan Prancis. Narasi riwayat kehidupan inilah yang memicu silang pendapat antara Martin Aleida dengan Tatiana Lukman.

Tatiana menuduh Martin telah berbohong dengan mengisahkan Bro sebagai orang yang amat sengsara dan blangsak dirundung Revolusi Kebudayaan dan sempat luntang-lantung di Paris. Padahal menurut Tatiana, hidup Bro tak seburuk itu. Siapa sebetulnya tokoh yang mereka perdebatkan?

Bro atau Sobron Aidit lahir di Tanjung Pandan, Belitung, pada 2 Juni 1934. Dia adik dedengkot PKI, Dipa Nusantara Aidit. Abdullah Aidit, ayahnya, menikah dua kali. Pertama beristrikan Nyi Ayu Mailan dan mempunyai anak: Achmad (DN. Aidit), Basri, Ibrahim, dan Murad. Dari pernikahannya yang kedua, yaitu dengan Marisah, punya anak lagi: Sobron dan Asahan.

Tahun 1948 Sobron merantau ke Jakarta. Dalam Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara (2010) karya Tempo, di Jakarta Sobron bertemu dengan Chairil Anwar dan sastrawan lainnya seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan H.B. Jassin. Sobron sejak remaja menyukai sastra. Pada usia 13 tahun, atas bantuan Chairil Anwar, puisinya dimuat di Mimbar Indonesia.


“Malam setelah sajak itu dimuat, Chairil mentraktirnya makan-makan. Sobron menyantap soto, empal, nasi campur, dan rupa-rupa lauk. Sesudah makan, Sobron baru tahu bahwa uang makan itu adalah honor puisinya di Mimbar Indonesia,” tulis Tempo.

Sebagai pengarang muda, Sobron juga bertemu dengan pengarang muda yang lain seperti Ajip Rosidi, SM Ardan, Soekanto S.A., Sjumandjaja, Riyono Pratikno, dll. Bersama Ajip dan Ardan, mereka membuat buku kumpulan puisi bersama bertajuk Ketemu di Jalan (1955). Menurut Ajip, judul buku diusulkan Ardan dan proyek buku tersebut terinspirasi Tiga Menguak Takdir (1950) karya Chairil Anwal, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Sekali waktu mereka mengadakan perjalanan ke kampung Ajip di Jatiwangi. Mula-mula mereka turun di stasiun Bandung, disambung becak ke Dago, dan esoknya dilanjutkan pakai bus ke Cirebon. Perjalanan mereka, kata Ajip, menyenangkan karena belum ada pertikaian berdasarkan paham politik atau keyakinan agama.

“Aku satu becak dengan Soekanto. Sobron dengan Sjumandjaja. Tukang becak yang menarik Sobron ngos-ngosan karena Sobron tubuhnya gendut. Sjumandjaja menyuruh tukang becak itu turun, lalu dia yang menggenjot becak yang ditumpangi Sobron sampai ke tujuan. Tukang becak itu mendorong sambil lari-lari kecil di belakangnya,” tulis Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah (2008: 101)

Sebelum badai politik 65 terjadi, bersama sejumlah wartawan dan seniman Indonesia, Sobron berangkat ke Tiongkok untuk memenuhi undangan pemerintah Tiongkok dalam rangka HUT RRT. Sejak itu ia kesulitan untuk kembali ke tanah air. Baru tahun 1996 ia pulang untuk pertama kalinya ke Belitung. Dan setelah Soeharto lengser, Sobron mulai kerap pulang ke Indonesia.

Suka Masak dan Doyan Makan

Setelah keluar dari Tiongkok ketika Revolusi Kebudayaan berlangsung, Sobron kemudian pindah ke Eropa dan menetap di Paris. Bersama beberapa orang koleganya, ia membuka restoran “Indonesia” yang menyajikan ragam hidangan Nusantara. Kisah jatuh bangun memperjuangkan restoran tersebut ia tulis dalam Melawan dengan Restoran (2007).

Selama tinggal di Eropa dan teknologi komunikasi memungkinkan ia berhubungan langsung dengan orang-orang di Indonesia, Sobron mulai aktif di berbagai grup milis. Ia rajin menuliskan ketertarikan dan pengalamannya dengan kuliner. Beberapa catatannya tentang kuliner sempat dihimpun dalam memoar Surat Kepada Tuhan (2003).


Sekali waktu ia menceritakan cara memasak Sop Buntut dan ketertarikan kepada Guo Ba—masakan Cina yang ia dapatkan ketika singgah di Chengdu, ibukota Provinsi Sechuan di barat laut Tiongkok.

“Di sebuah restoran kami lihat, petugas resto menyiramkan sup yang entah apa isinya, ke dalam mangkuk besar atau pinggan cekung besar yang ada gorengan kerak. Dan bunyinya berdesis…serrr…panjang sekali. Dan lalu asap membubul ke atas, bagus sekali. Dan bunyi desis goreng kerak panas itu ditengok orang-orang yang sedang makan di meja lain. Bau aroma harumnya sangat memikat,” tulisnya.

Di lain waktu ia menulis surat dari Jakarta membicarakan tentang makanan dan selera. Menurutnya, Jakarta adalah kota yang melimpah oleh makanan lezat, ada bakmi, tahu nenek-moyang, roti cane, dll. Ia juga menulis kenangannya pada tahun 1950-an dan 1960-an tentang para pedagang makanan yang berjajar sepajang jalan Pacenongan, Sawah Besar, Pintu Besi, Glodok, Jatinegara, dan Margonda.

“Saya sangat suka roti cane, katanya asal mulanya dari Aceh. Rotinya berbentuk ada jaringan jala, karena itu ada juga yang menamakannya roti jala. Makannya pakai kuah, saos gulai kambing, acar segar, dan sambal khusus. Tapi jangan sampai kekenyangan kalau mau merasakan enak dan nikmatnya. Dan kalau kekenyangan, lalu tak terasa nikmat sedapnya,” tulis Sobron.

Selanjutnya ia bercerita ihwal sate kambing lezat di penjual yang ada di warung dan yang memakai gerobak dorong. Ia lancar berkisah, memandu pembaca mengetahui seluk beluk kuliner yang pernah ia cicip.


“Perkara sate misalnya, banyak jenisnya. Ada sate kambing Pak Kumis, ada sate kambing Mak Jalal, ada sate kambing Mpok Jarot, dan banyak lagi. Masing-masing bumbunya tidak sama dan selalu ada rahasia menunya, hak patennya,” tambahnya.

Sekali waktu Sobron dijamu makan oleh koleganya yang aktif di grup milis Jalan Sutra yang dikelola Bondan Winarno. Ia mengeluh melihat kawan-kawannya yang doyan makan tapi tubuhnya tidak gemuk seperti dirinya.

Hindun Tersayang

Sewaktu bocah dan tinggal di kampung halamannya di Tanjung Pandan, Sobron sempat berjualan makanan kecil yang ia jajakan sambil berjalan kaki dan tanpa alas kaki, sekitar tahun 1946 sampai 1948. Ia menjual kue kontol bebek atau untir-untir, pulut panggang, ketan, goreng pisang, lemper, nasi lemak, nagasari, bugis telanjang, cucur, dll.

Di kampungnya banyak terdapat permukiman orang Bugis yang berada di pelabuhan dan pasar ikan. Sobron yang menjajakan jualannya sambil berteriak, kerap merasa khawatir ketika melewati perkampungan orang Bugis tersebut. Sebabnya adalah ia menjual kue bugis telanjang. Takut orang-orang Bugis tersinggung, maka ia cukup meneriakkan hanya, “kue bugiisss…kue bugiisss…”, tanpa ditambahi kata “telanjang”. (Potret Diri dan Keluarga: 2015 hlm. 52)

Dalam berjualan, Sobron mempunyai kawan perempuan yang sama-sama menjual kue. Namanya Hindun. Kue yang dijual Hindun kebetulan berbeda dengan yang dijual Sobron. Maka mereka kerap berjalan bersama menjajakan jualannya. Lama-kelamaan, karena sering bersama, Sobron menaruh hati pada gadis itu.

“Lama-lama saya suka dengannya. Anaknya baik. Putih dan ada tahi lalat dekat bibirnya. Rambutnya halus dan hitam legam. Bila tertawa manis sekali,” kenangnya.

Sekali waktu Sobron berjualan sendirian karena Hindun sakit cacar air. Ia sambangi rumahnya sambil membawa dua buah jambu bol yang ia bungkus dengan sapu tangan bersih. Maklum orang yang tengah sakit, Hindun sangat susah makan. Namun saat Sobron membawakannya jambu bol, Hindun mau memakannya. Saat ibunya pergi ke dapur untuk memasak, ia melihat wajah Hindun agak merah, agak segar.

“Abang tetap berjaja?” Tanya Hindun

“Ya, Ndun, abang tetap berjaja dan selalu datang ke tempat yang kita biasa bertemu itu,” jawabnya.






Kisah persahabatan yang mulai menumbuhkan benih cinta itu berakhir saat Sobron harus merantau ke Jakarta. Sebelum Sobron pergi, Hindun menulis surat buat dirinya. Ia hendak menunggu Sobron walaupun entah kapan bujang pujaannya itu akan kembali.

“Berapa lama Abang akan melanjutkan sekolah di Betawi itu, rasanya Ndun akan tetap menunggu Abang. Kira-kira kita sudah pada berbesaran, mendewasa, dan kita tidak lagi berjaja seperti beberapa bulan yang lalu,” tulisnya.

Lalu Hindun bercerita kenangan-kenangannya yang indah selama bersama Sobron saat naik pohon bakau yang dihiasai pemandangan perahu-perahu nelayan di kejauhan, yang Sobron bilang sebagai kupu-kupu putih yang berkilat. Kenangan waktu menangkap ikan di muara Sungai Baro, dan kisah lainnya.

Surat itu, seperti permulaannya, dipungkas oleh kesediaannya menunggu Sobron yang hendak belajar jauh ke pulau Jawa.

“Tetapi Bang, semua ini hanyalah akan jadi kenangan yang paling menyenangkan, paling indah dalam hidup Ndun. Sekarang yang jadi pertanyaan Ndun dalam hati, akan berapa lama kita terpisah karena Abang harus meneruskan sekolah ini. Rasanya, Bang, sekali lagi, rasanya, Ndun akan bertahan tetap menunggu Abang pulang, menunggu Abang, dan semoga kesampaian,” pungkasnya.

Nyatanya harapan Hindun tak kesampaian, ia tak berjodoh dengan Sobron. Hindun menikah dengan Baha, kawan dekat Sobron semasa kecil.

Galau Menjelang Pungkas Hayat

Setahun sebelum ajal menjemput, Sobron sempat menulis kegalauannya tentang kawan-kawannya yang sudah mulai berkurang, tua dan sakit, serta pergi mendahului dia. Catatan bertitimangsa 4 Mei 2006 itu dihimpun dalam Surat kepada Tuhan (2003) bertajuk “Semakin Kekeringan Persinggahan, Semakin Landai Pantai”.

Setiap pulang ke Indonesia, ia kerap berkunjung ke rumah Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, HR. Bandaharo, Bakri Siregar, dll. Mereka mengobrol, bertukar kisah, berdebat dan bercanda. Bagi Sobron, kawan-kawannya itu ibarat persinggahan, gunung tinggi sekaligus teluk yang dalam.

Setelah Rivai Apin wafat, Joebaar Ajoeb meninggal pada tahun 1997, dan Pramoedya menyusulnya pada 30 April 2006, sementara kawan-kawannya yang lain kian tua dan sakit-sakitan, tempat persinggahan itu semakin berkurang. Ia bingung hendak ke mana lagi.

“Dulu masih begitu banyak daerah persinggahan, masih begitu banyak gunung tinggi dan teluk yang dalam yang luas. Tetapi kini rasanya sudah semakin mengecil. Sudah semakin mengering dan pantainya sudah semakin landai. Dan saya dalam hati terisak-isak sendiri. Mau ke mana saya sesudah ini? Sudah begitu kekeringan tempat persinggahan. Sudah begitu landai pantai yang dulu sangat bagus, sangat menarik dan asyik. Kini tak tahulah saya. Barangkali memang begitulah adat dunia dalam kehidupan ini,” tulisnya.

10 Februari 2007, di Paris, Sobron Aidit meninggal. Menyusul kawan-kawannya yang telah mendahului. Ia dalam kata-kata Martin di penghabisan cerpen Melarung Bro di Nantalu: “sedang berenang-renang ke surga….”

Baca juga artikel terkait SASTRA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS
DarkLight