Sastra untuk "Dunia yang Penuh Tipu Cedera"

Oleh: Dea Anugrah - 8 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
“Bersama, atau kalau terpaksa, tidak dengan Tuhan, kita akan maju dan mesti maju,” ujar Amal Hamzah, seorang penulis Indonesia pada masa pendudukan Jepang dan Revolusi.
tirto.id - Masa pendudukan Jepang di Indonesia, meski hanya berlangsung sejak Maret 1942 hingga Agustus 1945, menentukan banyak hal. Ia tak hanya "mematangkan revolusi" dalam konteks pergerakan nasional, tetapi juga dalam urusan bahasa dan kesusastraan.

Menurut M. Balfas dalam “Modern Indonesian Literature in Brief” (Literaturen, volume 1, 1976), administrasi Jepang menetapkan sensor ketat terhadap segala jenis terbitan di Indonesia sejak awal kekuasaannya. Mereka bahkan menghentikan penerbitan sejumlah surat kabar dan majalah, termasuk Pujangga Baru, majalah sastra paling berpengaruh di Indonesia pada masa itu. Namun, di sisi lain, Jepang menyukai karya-karya sastra romantik bertendens nasionalisme yang dipopulerkan majalah tersebut.

Nasionalisme romantik memudahkan propaganda Jepang. Mereka hanya perlu menambahkan omong-omong elok persaudaraan Asia Raya buat memelintir sentimen patriotik orang-orang Indonesia menjadi dukungan terhadap kampanye militernya. Pada poster-poster rekrutmen ketentaraan, misalnya, tertulis: “Saya Heiho Angkatan Laut. Mari serta dalam pembelaan tanah air!” dan “Saya berjuang dalam Tentara Pembela Tanah Air. Ikutlah!”

Banyak orang Indonesia, termasuk sejumlah intelektual dan seniman, menghirup abab Jepang itu dalam-dalam; salah satunya ialah Usmar Ismail, yang kelak menjadi tokoh penting perfilman Indonesia. Penuh keyakinan, Usmar muda menjerit dalam puisi “Kita Berjuang”: “Sebagai dendang menyapu kalbu,/Bangkit hasrat damba nan larang,/Ingin ke medan ridlah menyerbu:/'Beserta saudara turut berjuang!'”

Tetapi kesukaran hidup sehari-hari segera menyingkapkan kepalsuan dan kehampaan karya-karya semacam itu. Puja-puji mengerut di hadapan kelangkaan beras, terkelucak seperti tumit prajurit-prajurit Heiho dalam sepatu mereka yang bermutu rendah. Orang-orang terbangun dan mimpi Asia Raya menguap ke udara.

Penderitaan yang intens, ujar Burton Raffel dalam The Development of Modern Indonesian Poetry (1967), membentuk para penulis Indonesia masa itu, terutama yang berusia muda dan baru mulai, jadi lebih kritis ketimbang pendahulu mereka. “Penulis-penulis Pujangga Baru memandang dunia lewat kaca romantisisisme yang berembun; sedangkan generasi baru, yang mengalami masa pendudukan Jepang, lebih condong kepada realisme yang sinis dan skeptis,” tulisnya.

Kita tahu Chairil Anwar, penyair yang membusungkan dada sebagai manusia merdeka di hadapan kolektivisme ternak a la Jepang, membangkitkan kekayaan bahasa Indonesia, serta menyediakan dasar bagi penulisan puisi kita hingga kini.

Kita tahu Idrus, pionir penulisan prosa yang kaya tetapi sangkil, yang cerita-cerita pendeknya secara akurat menampilkan kehidupan dan hubungan antar manusia pada masa perang lewat keterusterangan dan humor pahit. H.B. Jassin dan Balfas menyebut gaya penulisan Idrus sebagai “kesederhanaan baru.” Gaya itu mempengaruhi banyak penulis Indonesia di kemudian hari; termasuk Pramoedya Ananta Toer, dan Pramoedya, dalam sebuah wawancara pada 1995, menyebut Idrus sebagai "stylist terbesar sampai saat ini."

Kita kerap membicarakan mereka. Merekalah representasi “Angkatan 45.” Merekalah “orang besar” dalam puisi Chairil “Catetan Th. 1946.” Namun, kata sang penyair kemudian, bukan hanya mereka yang patut dibicarakan. Rekan-rekan sezaman mereka yang jarang atau tak pernah kita dengar, yang “tenggelam beratus ribu”, juga “harus dicatet” dan “dapat tempat.”

Infografik Amal Hamzah


Salah satu penulis Angkatan 45 yang menarik tetapi relatif jarang dibicarakan ialah Amal Hamzah. Ia lahir di Binjai, Langkat, Sumatera Utara, 31 Agustus 1922, sebagai putra wakil sultan Langkat Tengku Muhammad Adil. Salah satu kakaknya, berusia 11 tahun lebih tua, adalah penyair terbaik Pujangga Baru: Amir Hamzah.

Sejak muda, Amal membaca sastra Melayu, karya-karya penulis India Rabindranath Tagore, dan karya-karya kakaknya. Dengan pengaruh bacaan demikian, wajar bila pada mulanya ia menulis dengan pembawaan romantik. Namun, sebelum masa formatifnya selesai, ia mengalami zaman pendudukan Jepang.

H.B. Jassin menulis tentang Amal dalam Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948): “Meskipun dia banyak menerjemahkan Rabrindanath Tagore, sajak-sajaknya sendiri yang ditulisnya semasa Jepang penuh dengan rasa benci, dendam dan berontak terhadap masyarakat dan dunia sekeliling. Dan dalam putus asanya ia menjadi materialis yang sekasar-kasarnya.” Sedangkan Jakob Sumardjo, dalam Lintasan Sastra Indonesia Modern 1 (1992), menyatakan bahwa masa pendudukan Jepang menjadikan karya-karya Amal mengarah kepada naturalisme, yang menampilkan kenyataan secara kotor dan busuk.

Dalam puisinya yang paling populer, “Melaut Benciku”, Amal mencampakkan pandangan umum orang Indonesia tentang kesucian hubungan suami-istri, dan secara terus-terang menyebutnya “pelukan cinta berahi” yang menghasilkan “benih membusuk diri”, “tercampak ke dunia sebagai hasil nafsu kedua.” Sedangkan dunia ini, baginya, “penuh tipu cedera.”

Dalam puisi “Kesombongan”, ia mengaku tak peduli apakah jiwa manusia abadi atau tidak, hanya, “Satu padaku: Hari yang kuhadapi akan kureguk sepuas-puasnya.” Lumayan. Namun, puncak kekasaran Amal, yang mungkin membuat Jassin yang saleh merinding, ialah puisi “Sembrono.” Dalam puisi itu jugalah Amal Hamzah mencapai salah satu pengucapan puitiknya yang paling lentur sekaligus bertenaga:

Tapi aku orang sembrono
Bermain bersenda dengan neraka!

Kurangkum neraka bermulut api
Kuterjang sekali segala ajaran suci!

Pandangan dunia yang gelap itu juga muncul dalam karya-karyanya selain puisi. Dalam kumpulan esainya yang berjudul Buku dan Penulis (1950), Amal Hamzah menyatakan: “Filsafat yang mengatakan bahwa kita di akhirat nanti mendapat kebahagiaan dan kesenangan yang berlipat ganda dari si kafir, yang sekarang naik mobil dan naik kapal terbang, adalah filsafat orang gila. Bersama, atau kalau terpaksa, tidak dengan Tuhan, kita akan maju dan mesti maju.”

Amal Hamzah, kata Jassin, adalah “orang kenyataan yang mengejek dan mengutuk kenyataan”, tetapi ia “tak sepatutnya direndahkan, seperti juga kita tidak akan merendahkan jago naturalis [Emile] Zola yang … dengan kepahitan jiwanya membongkar yang busuk-busuk dan kotor-kotor, yang orang penjijik tak suka melihat serta mengerjakannya. Sebab kehidupan bukan cita-cita saja dan bukan kenyataan saja, tapi persatuan keduanya.”

Berbeda dari para penulis Pujangga Baru, penulis-penulis terbaik Angkatan 45 umumnya tahu bahwa mereka bukanlah katib sembahyang Jumat. Mereka juga cenderung tak menggawat-gawatkan perkara, menampilkan konflik dan kontradiksi dalam hidup sehari-hari secara wajar. Dan yang paling menarik: sekalipun hidup di masa perang, masa yang bahkan tak mengizinkan mereka menonton sandiwara sampai selesai (Chairil menulis: “Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang”), merekalah generasi penulis Indonesia pertama yang mempelajari kesusastraan dunia secara luas.

Dari angkatan Pujangga Baru, ada Sutan Takdir Alisyahbana yang tak pernah bisa menutup mulut tentang keharusan belajar kepada Barat, tetapi bahan pelajarannya terbatas pada kelompok Tachtigers atau penulis-penulis Romantik Belanda era 1880an. Jika dibandingkan dengan usaha Angkatan 45 mempelajari dan menerjemahkan karya-karya puncak kesusastraan dunia (Dostoyevsky, Tolstoy, Chekhov, Pushkin, Ehrenburg, Rilke, Gide, Malraux, Saint Exupery, de Maupassant, Huxley, Hemingway, Steinbeck, dan lain-lain), studi Takdir cuma kelihatan seperti pengisi waktu luang bini pejabat yang tercekik kebosanan.

“Pelajaran-pelajaran itu membangkitkan kesadaran penulis-penulis kita atas kelemahan dan kegagalan mereka selama ini, baik dalam hal isi maupun bentuk. Sebelum masa pendudukan Jepang dan Revolusi, tak pernah kaum intelektual Indonesia menyadari bahwa mereka begitu terbelakang,” tulis Raffel.

Pada 1943, Chairil menyatakan situasi itu di buku hariannya (kemudian dalam sebuah pidato di Pusat Kebudayaan) dengan cara lain, yang lebih brutal: “Seni kita sampai kini masih dangkal-picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahi pun tidak!” Dan sebabnya, menurut Chairil, adalah sikap kebanyakan seniman Indonesia yang mengandalkan “wahyu” atau inspirasi alih-alih kerja intelektual dalam mencipta.

“Kalau diturut mereka, maka pikiran dan dasar seni atau pilsapat itu datangnya sebagai cahaya surya dari langit, memanaskan kita dan jenak itu juga matang! Akibatnya: Ange’ ange’ ciri’ ayam!” ia melanjutkan.

Padahal, kerja kesusastraan seharusnya berarti “menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpul-satukan”, tak bisa setengah-setengah, sebab “jika kerja setengah-setengah saja, mungkin satu waktu nanti kita jadi impropisator. Sungguhpun impropisator besar, tapi hasil seni impropisasi tetap jauh di bawah dan rendah dari hasil seni cipta.”

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti