tirto.id - Kontroversi film animasi Merah Putih: One for All tidak berhenti sampai di jumlah biaya dan tampilan karya. Saat ini warganet dikejutkan dengan karakter tokoh animasi yang disebut-sebut milik kreator di luar pembuat film.
Junaid Miran, kreator 3D asal Pakistan, mengaku sebagai pembuat karakter tokoh animasi yang akan tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025 ini. Ia mengklaim tidak mendapatkan kredit ataupun bayaran dari pembuatan film.
Sebagai informasi, film animasi garapan rumah produksi Perfiki Kreasindo ini mengangkat tema kebangsaan. Cerita di dalamnya berisi petualangan mencari bendera Merah Putih yang hilang di sebuah desa.
Terdapat delapan anak dari berbagai etnis yang ditugaskan untuk mencari bendera. Mereka harus melalui berbagai tantangan.
Film yang disutradarai oleh Endiarto ini naskahnya ditulis oleh Bintang Takari. Dengan dukungan Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, film ini telah merilis trailer-nya pada 8 Agustus 2025 lalu dan siap tayang di bioskop dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan atau HUT RI ke-80.
Lalu, siapa sebenarnya sosok Junaid Miran yang menyebut bahwa karakter tokoh dalam animasi tersebut mengambil karyanya? Simak penjelasan berikut ini.
Siapa Junaid Miran & Kaitannya dengan Animasi Merah Putih: One for All?
Junaid Miran merupakan seorang seniman 3D asal Pakistan. Ia menduga tim produksi film animasi Merah Putih: One for All memakai karakter buatannya tanpa izin.
Hal itu ia sampaikan di kolom komentar YouTube-nya bahwa ia mengaku tidak pernah dihubungi tim film tersebut. Padahal, karakter buatannya disebut telah digunakan sebagai tokoh utama.
Sebagai seorang seniman freelance digital artist yang sudah berkecimpung di dunia seni selama 15 tahun, ia menjual aset karakter 3D buatannya di platform Reallusion dengan harga sekitar USD$149 atau sekitar Rp2,4 juta. Hal ini tentu bertentangan dengan etika dan ketentuan penggunaan karya milik orang lain dalam konteks komersial.
Miran pada awalnya menerima apresiasi karakter 3D-ya digunakan untuk tokoh utama film animasi garapan Perfiki Kreasindo tersebut. Salah satunya yakni karakter anak laki-laki berkulit hitam dan berbaju merah yang memimpin teman-temannya mencari bendera yang hilang. Fitur-fitur wajah dan fisik karakter dalam film itu sangat mirip dengan karakter buatan Junaid di platform yang memuat karyanya.
Tak berhenti sampai di situ, Miran pun menyebut bahwa tidak hanya satu karakter 3D karyanya yang dicomot pembuat film. Setidaknya ada enam (6) karakter, tetapi dirinya tidak menyebut karakter mana saja.
“Terima kasih atas apresiasinya, semuanya dari Indonesia! Untuk menjawab pertanyaan paling umum: Tidak, tidak ada satu pun dari tim produksi yang menghubungi saya atau memberi saya penghargaan atas penggunaan karakter saya sebagai karakter utama dalam film ini. Mereka telah menggunakan total 6 karakter,” tulis Junaid Miran di kolom komentar unggahannya pada 11 Agustus 2025.
Namun, sutradara film, yakni Endiarto, menyebut bahwa memang ada kemiripan, tapi menurutnya kemiripan tersebut adalah hal yang wajar. Ia tidak menjawab secara gamblang apakah desainnya diambil dari platform animasi luar negeri yang merujuk pada karya Miran di Reallusion.
Endiarto hanya mengatakan bahwa ada kebebasan gaya dan interpretasi dalam dunia animasi. Menurutnya, kemiripan sering terjadi karena dunia animasi sangat luas.
Tidak hanya itu, dirinya juga menegaskan bahwa tim animator film Merah Putih: One for All sudah bekerja keras. Termasuk juga menyiapkan setting menyerupai perdesaan dan alam di Indonesia.
Dirinya bahkan menyerahkan penilaian kepada penonton. Namun, ia mengharap masyarakat menonton secara utuh terlebih dahulu sebelum menilai.
Perlu diketahui, Junaid Miran aktif menjual karya-karya animasinya di platform berbayar. Salah satunya yakni Reallusion.
Tak hanya menjual karya, ia juga sering membagikan tutorial cara membuat karakter animasi bergerak di kanal YouTube pribadinya. Di sana, komentar warganet Indonesia pun bermunculan, mendukung Miran yang diduga karyanya dicuri.
Menurut warganet, penggunaan aset orang lain tanpa izin bertentangan dengan label “karya anak bangsa” yang dibangga-banggakan melalui film animasi Merah Putih: One for All itu.
Pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak informasi mengenai animasi dapat membaca kumpulan artikel sejenis melalui tautan berikut ini.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Wisnu Amri Hidayat
Masuk tirto.id


































