tirto.id - Di tengah kecamuk perang dan rangkaian aksi kekerasan yang meletus di berbagai penjuru Bumi, sebuah meme beredar luas. Dalam meme tersebut terlihat sekumpulan hewan duduk berdampingan menyaksikan kehancuran yang ditimbulkan umat manusia.
Sebenarnya, ada dua versi dari meme ini. Versi pertama yang menyertakan sosok alien, dan versi kedua yang murni hanya melibatkan hewan-hewan dari planet ini. Namun, bunyi teks dari kedua meme tersebut sama persis: Humans are really stupid. Manusia benar-benar bodoh.
Sudah jadi kesepakatan umum bahwa manusia adalah makhluk paling berbahaya di muka Bumi. Menurut catatan UK Centre for Ecology and Hydrology, dari total sekitar 50 ribu spesies mamalia, unggas, reptilia, amfibi, dan ikan yang ada di muka Bumi, 14.663 di antaranya, atau nyaris sepertiganya, telah dieksploitasi oleh manusia. Akibatnya, 39 persen dari spesies-spesies itu terancam punah dan ini membuat manusia 300 kali lebih berbahaya dibanding predator-predator macam hiu, singa, serta harimau.
Namun, bahaya yang ditimbulkan manusia tak sampai di sana. Seperti yang disinggung dalam meme "Humans are really stupid" tadi, keganasan manusia tidak berhenti sampai pada mengeksploitasi belasan ribu spesies lain, melainkan juga menimbulkan berbagai kerusakan lewat perang, polusi, dan hal-hal destruktif lainnya. Selain mengeksploitasi spesies lain, manusia juga tega mengeksploitasi, menyiksa, membunuh, bahkan melakukan pembersihan etnis pada sesama spesiesnya sendiri.
Akan tetapi, dengan membandingkan manusia dengan hewan, para pembuat serta pengedar meme telah membuat sebuah kesalahan elementer. Memang benar bahwa hewan-hewan yang ada di Bumi tidak membuat kerusakan dengan skala sebesar yang dilakukan manusia. Akan tetapi, hewan-hewan itu bukannya tidak kapabel melakukan kekerasan terhadap spesiesnya sendiri.
Contohnya adalah apa yang terjadi di Uganda, di mana sebuah komunitas beranggotakan 200 ekor simpanse terlibat dalam perang saudara yang telah menewaskan 24 simpanse, termasuk di antaranya 17 ekor bayi.
Konflik Tanpa Provokasi Manusia
Ya, perang saudara ternyata tidak menjadi hak milik eksklusif Homo sapiens.
Temuan ini dipublikasikan pada 9 April 2026 dalam jurnal ilmiah Science dan langsung menyedot perhatian dunia. Studi yang dipimpin oleh Aaron Sandel, antropolog evolusioner dari University of Texas at Austin, mengevaluasi lebih dari 30 tahun data observasi lapangan yang dikumpulkan sejak 1995 di Kibale National Park, Uganda.
Komunitas simpanse yang dimaksud adalah kelompok Ngogo, yang dinamai berdasarkan sebuah bukit di dalam taman nasional tersebut. Beranggotakan hampir 200 individu, Ngogo adalah komunitas simpanse liar terbesar yang pernah diketahui tercatat secara saintifik.
Selama puluhan tahun, mereka hidup dalam satu kelompok besar yang kohesif. Para jantan berburu dan berpatroli menjaga wilayah bersama, dan yang betina kawin lintas subkelompok. Peneliti bahkan pernah merekam video simpanse jantan dari subkelompok berbeda berpegangan tangan.

Di dalam kelompok besar ini, para peneliti sudah lama mengidentifikasi keberadaan dua kluster utama: Kluster Barat (Western) dan Kluster Tengah (Central). Keduanya bukan dua kelompok terpisah, melainkan seperti dua lingkar pertemanan besar yang saling tumpang tindih. Individu-individu bisa berpindah dari satu kluster ke kluster lain beberapa kali dalam sehari, dan ikatan sosial lintas kluster sangat kuat.
Lalu, segalanya berubah pada 24 Juni 2015.
Pada hari itu, Sandel sedang mengamati sekumpulan simpanse dari Kluster Barat ketika mereka tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka mendengar suara simpanse lain di kejauhan. Namun, alih-alih berjalan maju untuk bersatu seperti biasanya, simpanse-simpanse Kluster Barat itu justru tampak gelisah, saling menyentuh satu sama lain, lalu melarikan diri. Tak lama kemudian, simpanse dari Kluster Tengah mengejar mereka. Setelah kejadian itu, kedua kluster menghindari satu sama lain selama enam minggu penuh. Ini adalah kali pertama hal macam itu terjadi.
John Mitani, primatalog dari University of Michigan dan salah satu pendiri Ngogo Chimpanzee Project, yang sudah mempelajari simpanse selama dua dekade, mengaku tidak tahu makna dari apa yang terjadi kala itu. Padahal, menurut Sandel, jarang sekali ada hal yang mengejutkan atau membuat bingung peneliti seperti Mitani.
Polarisasi terus meningkat dalam tiga tahun berikutnya. Kluster Barat dan Kluster Tengah makin jarang berinteraksi, lalu berhenti kawin silang sama sekali. Catatan genetik menunjukkan bahwa anak terakhir yang lahir dari pasangan lintas kluster tersebut dikandung pada Maret 2015. Setelahnya, semua keturunan yang tercatat lahir dari pasangan dalam kluster yang sama. Pada 2017, wilayah yang dulunya merupakan jantung bersama komunitas Ngogo telah berubah menjadi perbatasan yang dipatroli oleh kedua sisi.
Pada 2018, pemisahan itu menjadi permanen. Dari sini, pembunuhan pun dimulai.
Yang membuat konflik ini luar biasa bukan hanya skalanya, melainkan juga bagaimana ia terjadi. Perlu diketahui bahwa ukuran komunitas Kluster Barat jauh lebih kecil dari Kluster Tengah. Saat pemisahan terjadi, Kluster Barat hanya memiliki 10 jantan dewasa dan 22 betina dewasa, sementara Kluster Tengah memiliki 30 jantan dewasa dan 39 betina dewasa. Namun, justru kelompok yang lebih kecil inilah yang memulai semua serangan.
Antara 2018 dan 2024, simpanse Kluster Barat menyerang dan membunuh rata-rata satu jantan dewasa dan dua bayi per tahun dari Kluster Tengah. Total, para peneliti mencatat 24 serangan yang menewaskan setidaknya tujuh jantan dewasa dan 17 bayi. Namun, angka itu kemungkinan besar adalah perhitungan yang konservatif. Pasalnya, antara 2021 dan 2024, 14 jantan remaja dan dewasa dari Kluster Tengah juga menghilang atau meninggal secara tak terduga tanpa tanda-tanda penyakit sebelumnya.
Konflik berskala seperti ini sebelumnya hanya pernah terjadi sekali dalam catatan ilmu pengetahuan. Pada pertengahan 1970-an, primatalog legendaris Jane Goodall mengamati perpecahan serupa di antara sekitar dua lusin simpanse di Taman Nasional Gombe, Tanzania. Namun, konflik Gombe selalu diliputi tanda tanya: Apakah pertempuran itu dipicu oleh pisang yang disediakan oleh tim peneliti Goodal, sehingga memicu persaingan yang tidak alami?
Sementara itu, simpanse Ngogo tidak pernah diberi makan oleh peneliti. Itu berarti konflik mereka murni, alami, dan muncul tanpa provokasi manusia. "Ini adalah pertama kalinya kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa perang saudara ini benar-benar terjadi," kata Sandel.
Jembatan Sosial yang Melemah
Lalu, apa yang memicunya?
Para peneliti mengidentifikasi beberapa faktor yang kemungkinan jadi pemicu. Pertama, ukuran kelompok Ngogo yang sangat besar, dengan lebih dari 30 jantan dewasa, sudah melampaui batas kemampuan para anggotanya untuk mempertahankan hubungan sosial yang sehat.
Kedua, persaingan reproduksi antara para jantan ikut memperkeruh suasana. Ada tiga peristiwa yang diduga menjadi katalis utama. Pada 2014, lima jantan dewasa dan satu betina dewasa meninggal karena sebab yang tidak diketahui. Kehilangan lebih dari 10 persen jantan dewasa ini melemahkan jembatan sosial yang menyambungkan kedua kluster.

Kemudian, pada 2015, terjadi pergantian alfa yang bertepatan dengan awal pemisahan antara kedua kluster. Dan pada Januari 2017, sebuah wabah pernapasan menewaskan 25 simpanse, termasuk empat jantan dewasa dan sepuluh betina dewasa. Salah satu jantan yang meninggal adalah "salah satu individu terakhir yang menghubungkan kedua kelompok". Rangkaian peristiwa ini membuat kedua kluster simpanse seperti kehilangan para tetua yang dulu rutin menjalin silaturahmi.
Perang saudara di Ngogo itu juga punya implikasi jauh melampaui dunia primatologi. Secara genetik, simpanse berbagi 98,8 persen DNA dengan manusia. Nenek moyang bersama kita hidup sekitar enam juta tahun yang lalu. Maka, apa yang dilakukan simpanse Ngogo menjadi cermin yang pantulannya tak sedap dipandang mata.
Teori dominan selama ini menyatakan bahwa perang, terutama perang saudara, membutuhkan pembeda berupa identitas, entah itu agama, etnis, ideologi, bahasa, dan semacamnya. Konflik Ngogo menggugat asumsi itu secara langsung.
Simpanse tidak memiliki agama maupun ideologi politik. Namun, mereka bisa terpecah, membangun identitas kelompok baru, dan membunuh mantan teman mereka atas dasar keanggotaan kelompok yang baru terbentuk itu. "Dinamika relasional mungkin memainkan peran kausal yang lebih besar dalam konflik manusia daripada yang sering diasumsikan," tulis Sandel dan rekan-rekannya dalam makalah di Science.
Dengan kata lain, bukan perbedaan budaya yang paling berbahaya. Yang paling berbahaya adalah hubungan yang membusuk perlahan-lahan alias silaturahmi yang tidak dipelihara.
Meski demikian, Sandel melihat secercah harapan di balik semua kegelapan ini. Jika konflik bisa tumbuh dari ikatan yang melemah, maka perdamaian bisa dirawat dengan ikatan yang diperkuat. "Dalam kehidupan sehari-hari, dengan orang-orang yang kita temui, jika kita bisa bersatu kembali bahkan di tengah konflik, menurut saya itulah resep untuk menjaga perdamaian," katanya.
Perang saudara simpanse Ngogo diperkirakan hanya terjadi sekali setiap 500 tahun dan kita sedang menyaksikan peristiwa langka itu berlangsung Sementara itu, di antara Homo sapiens yang katanya lebih beradab dan berakal, konflik yang jauh lebih mematikan terjadi jauh lebih sering dari itu.
Barangkali, itulah fakta yang paling menyedihkan dari seluruh cerita ini. Bukan bahwa simpanse bisa berperang, melainkan bahwa kita, manusia, yang sudah dituntun oleh berbagai ajaran agama, moral, dan ideologi, ternyata tidak jauh berbeda dari simpanse.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id







































