Menuju konten utama
TirtoEco

Buaya, Penyintas Kepunahan Massal & Potret Lelaki Hidung Belang

Buaya sebagai hewan setia merujuk pada aligator. Sementara buaya air asin dan buaya muara yang terdapat di Nusantara justru mewakili ketidaksetiaan.

Buaya, Penyintas Kepunahan Massal & Potret Lelaki Hidung Belang
Seekor buaya liar berkalung ban bekas berjemur di Sungai Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (15/1/2020). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Warsa 1971, warga di Soronganyit, Jember, Jawa Timur, dibuat resah dengan hilangnya seekor buaya jantan dari penangkaran. Mereka punya jadwal kapan buaya harus berada di air dan kapan naik ke darat.

Tiga bulan kemudian, buaya itu ditemukan bersama seekor betina yang bukan pasangannya, bahkan masih sangat muda. Warga yang kesal spontan berteriak, "Dasar buaya!"

Merujuk catatan wartawan dan penyair, Samsudin Adlawi, dalam bukunya Makan Kapal Selam (2020:110), sejak saat itulah laki-laki yang ketahuan berselingkuh atau berhubungan gelap dengan perempuan lain dijuluki buaya darat.

Label tersebut dilekatkan pada laki-laki hidung belang yang lihai merayu, pandai bermanuver dalam asmara, dan mampu membuat banyak perempuan merasa istimewa, namun akhirnya ingkar janji dan mengkhianati komitmen.

Narasi tentang lelaki semacam ini kian dipelihara dalam budaya populer dan media massa. Era koran kuning seperti Pos Kota atau Lampu Merah, misalnya, penuh dengan berita sensasional tentang perselingkuhan dan rumah tangga hancur akibat ulah buaya darat dengan judul-judul yang bombastis.

Budayawan Ajip Rosidi dalam kolomnya "Peribahasa" di Pikiran Rakyat pada 27 Februari 2010 menulis, selain buaya darat, ada juga ekspresi lain yang cukup lama dikenal dalam percakapan publik, misalnya air mata buaya, yang merujuk pada kepura-puraan atau empati palsu.

Faktanya ternyata demikian. Merujuk Studi British Journal of Ophthalmology (2002), buaya memang mengeluarkan cairan dari kelenjar lakrimal (kelenjar yang memproduksi air mata) saat makan, namun bukan karena emosi, tetapi tekanan fisiologis.

Dari sini pula budaya populer menyederhanakannya menjadi simbol kemunafikan.

Mesin Pembunuh Paling Efisien

Dalam klasifikasi biologis, buaya berada di Kingdom Animalia, Filum Chordata, Subfilum Vertebrata. Semuanya menandakan hewan yang memiliki tulang belakang. Ia juga termasuk Kelas Reptilia bersama kura-kura, ular, dan kadal. Lebih sempit, buaya berada alam Ordo Crocodylia yang bernaung di bawah Famili Crocodylidae, yang juga diisi Alligatoridae dan Gavialidae.

Menurut studi Herpetological Conservation and Biology di Brazil (2024), Famili Crocodylidae mencakup buaya sejati, termasuk buaya muara (Crocodylus porosus), buaya rawa (Crocodylus palustris), dan buaya Nil (Crocodylus niloticus). Sebarannya sangat luas, dari sungai dan rawa di Afrika dan Asia Tenggara, delta sungai di Amerika Tengah dan Selatan, hingga pesisir utara Australia.

Sedangkan Ordo Crocodylia lainnya, Alligatoridae, mencakup aligator Amerika (Alligator mississippiensis) dan kaiman hitam (Melanosuchus niger) banyak menyebar di Amerika. Lalu Gavialidae yang hanya menyisakan gavial India dengan moncong panjang ramping yang tergolong punah di timur India.

Dilansir artikel tinjauan taksonomi oleh Christopher A. Brochu dalam Annual Review of Earth and Planetary Sciences (2003), hingga kini terdapat sekitar 25-28 spesies buaya di seluruh dunia. Sementara menurut konsensus terkini dari IUCN Crocodile Specialist Group (CSG) per 2024–2025, di seluruh dunia ada sekitar 26 spesies yang masih hidup. Angka ini mencakup seluruh kelompok Crocodylia, bukan hanya buaya sejati.

Di perairan Nusantara, spesies yang akrab adalah buaya air asin, dikenal juga sebagai buaya muara atau nama binomialnya Crocodylus porosus.

Tubuhnya merupakan hasil evolusi yang efisien untuk berburu. Sisik oval dengan osteodermata (tulang pelindung reptil) kecil melindungi kulitnya. Warna tubuh dan makanannya berubah seiring usia. Anakannya berwarna kuning pucat dengan garis hitam sebagai kamuflase di semak rawa. Mereka memakan serangga, amfibi, krustasea, dan ikan kecil.

Sementara yang dewasa berwarna abu-abu kehitaman dengan perut putih pucat. Santapannya makin luas, mulai dari kepiting lumpur, kura-kura, ular, burung air, hingga mamalia besar seperti kerbau liar dan babi hutan.

Di muara dan laut, mereka memangsa ikan pelagis, bahkan hiu yang tersesat ke perairan dangkal. Keluwesan ini menjadikan Crocodylus porosus predator yang kerap mengancam di balik tenangnya permukaan air.

Panjang jantan dewasa bisa mencapai enam meter dan berat lebih dari satu ton, sedangkan betina jarang melebihi tiga meter. Moncongnya lebar dan kokoh, memberi ruang bagi otot rahang yang mematikan.

Rahang buaya bisa disebut senjata biologis paling efisien. Dengan 64–68 gigi kerucut tajam, mereka mencengkeram dan meremukkan tulang mangsa. Tekanan gigitannya adalah yang terkuat di dunia hewan darat. Sebagai predator penyergap, mereka bersembunyi di bawah air, hanya menyisakan mata dan hidung, nyaris tak terlihat.

Organ sensorik di kulitnya mendeteksi getaran sekecil apa pun, membuat mereka mampu menyerang dengan presisi. Begitu mangsa masuk zona, buaya melesat dengan tenaga ekor, mengunci gigitan, lalu menyeret ke dalam air.

Menurut Abigail Price (2017), jika mangsa terlalu besar, mereka akan melakukan jurus pamungkas yang disebut death rollputaran maut yang mematahkan tulang dan mencabik daging.

"Buaya Darat" Bukan Mitos

Jika menengok budaya Betawi, buaya dipandang sebagai penjaga alam sekaligus hewan yang setia. Jakarta yang dialiri tiga belas sungai besar seperti Ciliwung, Angke, dan Pesanggrahan, membentuk ekologi rawa dan muara yang dibuktikan dengan toponimi daerah seperti Rawa Buaya, Muara Karang, atau Pulo Gadung.

Di sungai dan rawa-rawa itu, buaya muara (Crocodylus porosus) berkuasa. Legenda siluman buaya putih di Setu Babakan, misalnya, dipercaya sebagai pelindung gaib kawasan. Sepasang roti buaya dalam acara pernikahan Betawi, melambangkan doa agar pengantin hidup dalam kesetiaan, kemapanan, dan perlindungan sepanjang hayat.

Temuan tentang kesetiaan buaya, umumnya banyak disebut dalam studi pada aligator Amerika (Alligator mississippiensis), bukan buaya Crocodylus. Penelitian pada tahun 2009 di Suaka Margasatwa Rockefeller di Louisiana itu menunjukkan bahwa sekitar 70 persen betina aligator tetap kawin dengan pasangan yang sama selama bertahun‑tahun, bahkan ketika betina itu bergerak dalam populasi yang padat dan bebas bertemu pejantan lain.

Artikel di sejumlah media di Indonesia kemudian sering salah kutip rujukan tersebut sebagai "buaya setia". Padahal aligator berbeda spesies dengan buaya, mereka kerabat jauh dalam keluarga Crocodylia. Perbedaan keduanya bersifat taksonomi (klasifikasi evolusi), anatomi, fisiologi, habitat, dan perilaku.

Pada 2024, observasi sosial jangka panjang pada buaya air asin di Australia menemukan beberapa pasangan jantan-betina "menjaga hubungan" selama bertahun-tahun di habitat alami. Pejantan menarik perhatian betina dengan mendengus, menggeram, dan meniup gelembung.

Betina sangat selektif dalam memilih lokasi sarang, bahkan bisa menempuh jarak hingga 50 km dan membutuhkan lebih dari sebulan untuk memilih lokasi yang tepat. Namun peneliti sendiri menyimpulkan bahwa perilaku tersebut lebih ke ikatan sosial daripada monogami kawin.

Pada buaya muara, kajian genetika di Northern Territory, Australia (2012), menunjukkan bahwa pada satu sarang bisa punya banyak ayah (multiple paternity) dan sistem kawin banyak pasangan atau promiskuitas.

Penelitian tersebut menganalisis 386 sampel buaya dari 13 sarang liar dan penangkaran, menggunakan penanda mikrosatelit DNA. Hasilnya mengejutkan, di mana patenitas (asal-usul jantan) ganda sangat lazim. Pada populasi liar, 69 persen sarang dibuahi oleh banyak pejantan, sementara di penangkaran sebanyak 38 persen.

Seekor betina bisa kawin dengan dua hingga empat jantan dalam satu musim. Bahkan genotipe pejantan yang sama ditemukan di beberapa sarang berbeda, membuktikan betina dan jantan sama-sama memiliki banyak pasangan.

Temuan itu membantah asumsi bahwa satu pejantan alpha menguasai seluruh betina. Para biolog seperti dilansir studi Ecology and Evolution (2019), menduga poliandri betina lebih terkait dengan konflik seksual. Mereka menerima banyak pejantan untuk menghindari agresi fatal.

Hal tersebut menggambarkan bahwa buaya merupakan hewan dengan sistem reproduksi acak, penuh manipulasi, dan jauh dari komitmen. Di sinilah metafora "buaya darat" menemukan pijakan zoologisnya—representasi nyata dari ketidaksetiaan yang sejak lama hidup dalam bahasa dan budaya masyarakat urban.

Rahasia Biokimia Umur Panjang

Julukan seperti "hewan purba", "dinosaurus modern", atau "fosil hidup" kerap disematkan pada buaya, seolah mereka makhluk yang membeku dalam waktu. Kesan ini lahir dari penampilan mereka dengan sisik keras bak zirah, mata dingin, moncong bergigi tajam, dan tubuh merayap yang mengingatkan pada rawa-rawa Mesozoikum (zaman reptil).

Buaya dianggap tak pernah berubah selama jutaan tahun. Padahal menurut artikel di National Geographic, paleontologi dan biologi evolusi justru menunjukkan sebaliknya, di mana nenek moyang buaya modern, crocodylomorphs, adalah kelompok yang sangat dinamis, bereksperimen dengan bentuk tubuh dan ekologi selama lebih dari 200 juta tahun.

Bukti di atas diperkuat dengan artikel lainnya dari Harvard University, yang menyebut fosil purba membuktikan keragamannya. Ada buaya darat kecil yang berlari lincah, buaya laut dengan ekor mirip lumba-lumba, raksasa sepanjang 12 meter yang memangsa dinosaurus, hingga buaya herbivora berhidung pendek.

Keseragaman 26 spesies modern, seperti buaya sejati, aligator, caiman, dan gharial, merupakan hasil seleksi brutal. Mereka adalah penyintas elite yang lolos dari dua kepunahan massal, termasuk tumbukan asteroid 65 juta tahun lalu yang memusnahkan dinosaurus non-unggas.

Kunci kelangsungan hidup buaya ialah gaya hidup generalis, fleksibel, mampu berpindah antara darat, sungai, dan laut.

Selain sejarah panjang, buaya juga dianugerahi umur ekstrem. Banyak spesies mampu hidup 70 hingga 100 tahun di alam liar tanpa tanda penuaan berarti. Strategi pertumbuhan tak terbatas dan kematangan seksual yang tertunda memberi mereka umur panjang, mirip pola pada paus dan gajah.

Rahasianya ada pada sistem imun. Buaya rutin terpapar air keruh penuh bakteri, bangkai beracun, hingga luka parah akibat perkelahian, tetapi jarang mati karena infeksi. Eksperimen pada aligator (Alligator mississippiensis) pada 2023 menunjukkan mereka mampu menetralkan dosis bakteri mematikan dengan mekanisme imun unik saat memuntahkan isi perut, menurunkan metabolisme, dan memusatkan energi pada pertahanan lokal tanpa repons berlebihan.

Lebih menakjubkan lagi, mikrobioma usus buaya menghasilkan peptida antimikroba dan senyawa bioaktif yang terbukti melumpuhkan sel kanker manusia. Sistem perbaikan DNA mereka menjaga telomer tetap stabil, menekan mutasi, dan memperlambat penuaan sel.

Kombinasi imunologi radikal dan mikrobioma pembasmi tumor menjelaskan mengapa buaya bisa hidup lebih dari satu abad. Tak heran, penelitian farmakologi kini menempatkan buaya sebagai inspirasi utama untuk antibiotik generasi baru dan terapi penyakit degeneratif.

Menariknya, buaya berperan sebagai predator apeks yang menjaga keseimbangan rantai makanan. Mereka menekan populasi herbivora besar dan mesopredator seperti ikan predator, kura-kura, dan mamalia kecil, yang biasanya merusak vegetasi, mendominasi area pemijahan, dan menyebabkan kepunahan pada tingkatan trofik yang lebih rendah.

Artikel di The Royal Society Publishing (2025) mencatat populasi buaya muara yang pulih memberikan tekanan sebagai predator yang memangsa pada babi liar (top-down) dan menyumbang nutrisi ke perairan melalui nutrisi (bottom-up).

Menurut studi di Australia utara tersebut, melalui pembuangan nitrogen sebanyak 186 kali lipat dan fosfor 56 kali lipat, buaya muara mampu mendongkrak produktivitas fitoplankton dan mikroba air. Ini terjadi saat migrasi betina membawa protein akuatik ke daratan lewat telur yang gagal menetas, lalu memberi subsidi nutrisi bagi hutan kering. Semua ini menjadikan buaya menjadi ecosystem engineer yang menopang kehidupan rawa dan pesisir.

Namun, hubungan manusia dan buaya sering tidak harmonis. Kebanyakan serangan terjadi ketika korban berada di dalam atau sangat dekat air, misalnya berenang, mandi, memancing, yang dilakukan buaya yang sangat besar berukuran 2,5–5,0 meter.

Secara global, buaya muara Crocodylus porosus dan buaya Nil Crocodylus niloticuspaling banyak menyerang manusia. Di Indonesia, antara 2010–2019 tercatat sedikitnya 665 insiden serangan buaya muara terhadap manusia, dengan tingkat fatalitas mencapai 47 persen.

Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur menjadi lokasi insiden sosial-ekologi tertinggi, di mana penambang pasir timah dan nelayan tradisional sering menjadi korban. Hilangnya hutan di tepian sungai, danau, dan rawa (riparian) serta mangrove akibat tambang, sawit, dan tambak perikanan memaksa buaya keluar dari habitat alami.

Mereka bersaing langsung dengan manusia untuk sumber protein. Konflik makin parah saat musim kawin dan kemarau panjang, ketika buaya menjadi lebih agresif dan manusia terpaksa berbagi ruang air untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca juga artikel terkait BUAYA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi