tirto.id - Bandung Zoo kembali dibuka pada Jumat (4/7/2025) pagi. Sebelumnya kebun binatang ini sempat ditutup pada Kamis (3/7/2025), akibat konflik internal antara dua pihak yang saling klaim sebagai manajemen sah lembaga konservasi. Sebanyak tujuh satwa koleksi Bandung Zoo dikabarkan mati dalam kurun beberapa bulan terakhir.
Saat kembali buka, kedua pihak yang bersengketa tampak hadir. Manajemen lama dipimpin oleh Gatira Brantakusuma selaku Ketua Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) dan Petrus Arbeny selaku General Manager (GM).
Manajemen baru, mulai mengelola destinasi wisata ini dengan nama Kebun Binatang Bandung sejak 20 Maret 2024. Manajemen ini dipimpin oleh John Sumampauw dari Taman Safari Indonesia (TSI) dan Tressia Spanov selaku GM.
Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafii, mengatakan penutupan sehari kemarin dilakukan untuk pembenahan internal. "Kita tutup dulu sehari untuk melakukan pembenahan karena ada dualisme kepemimpinan,” kata Sulhan pada kontributor Tirto, Jumat.
Sulhan membeberkan, Bandung Zoo kembali dibuka oleh manajemen YMT selaku pemegang akta sah Nomor 41 Tahun 2024. “Di dalam akhirnya YMT melakukan pembenahan, bernegosiasi dengan kelompok yang satu lagi akhirnya, hari ini setelah selesai, kita buka," imbuhnya.
Humas TSI, Ully Rangkuti, mengatakan Kebun Binatang Bandung memang harus dibuka kembali. Terlepas, dari adanya masalah internal pengelolaan destinasi.
"Kemarin juga seharusnya tidak ada penutupan. Tapi [diputuskan ditutup], terlepas dari masalah internal di dalam, pengunjung jangan sampai terkena dampaknya," jelas Ully pada wartawan.
Menyoal Satwa Mati
Humas Bandung Zoo, Sulhan, menyatakan setidaknya ada tujuh hewan mati akibat konflik antarmanajemen.
"Satwa yang mati itu terjadi dalam rentang waktu antara tanggal 20 Maret sampai kemarin. Salah satunya adalah pelikan," beber Sulhan.
Mengantispasi satwa agar tidak memiliki masalah kesehatan dan mengakibatkan kematian. YMT melalui Bandung Zoo menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) khusus untuk merawat satwa. Seperti pemberian pakan dan nutrisi.
"Itu selalu kita laksanakan. Setelah kita ambil alih, SOP tersebut kembali kita jalankan secara konsisten," jelas Sulhan.
Di tempat terpisah, Researcher dan Konservasi TSI, Keni Sultan menyebut tidak ada laporan mengenai kematian hewan.
"Sejak kami datang pada 23 Maret sampai hari ini, tidak ada kematian satwa yang tercatat diturunkan," kata Keni di Hotel Dago 101, Kota Bandung, Jumat.
Keni bilang tidak tahu secara pasti, baik secara kronologis serta jenis spesies hewan yang disebut mati dalam pengelolaan TSI melalui Kebun Binatang Bandung.
"Kalau tidak salah, kematian itu terjadi jauh sebelum kami datang, mungkin sekitar sebulan sebelumnya. Jadi bagaimana kami bisa menjelaskan kronologinya, jika bahkan spesies yang sakit pun kami tidak ketahui?" lontarnya.
Keni menyebut, pihaknya memiliki SOP kesehatan satwa termasuk kelahiran, kematian, hingga Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
"Yang juga sudah kami kirimkan ke pemerintah pusat untuk diketahui. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa menjelaskan secara rinci, karena spesiesnya pun belum jelas. Mereka hanya menyebutkan beberapa nama spesies secara umum, tanpa kejelasan," imbuh Keni.
Kisruh Alih Manajemen
Dualisme manajemen berakar dari pengurusan YMT sejak 2017, saat Tony Sumampau diminta mengelola kebun binatang oleh Dewan Pembina saat itu, Romly Bratakusuma.
Setelah Romly Bratakusuma wafat, kelompok Tony yang merupakan pihak dari TSI disingkirkan sepihak oleh Sri Devi yang merupakan istri Romly.
Perselisihan berlanjut hingga penetapan Sri Devi dan Raden Bisma sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati Jabar) atas dugaan korupsi penguasaan lahan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Keduanya, terseret kasus tidak membayar dana sewa lahan sejak 2022-2023 pada Pemkot Bandung yang mengakibatkan kerugian negara Rp25 miliar.
Bisma dan Sri Devi merupakan kakak dari Gantira yang saat ini memimpin YMT.
Konflik kembali memanas hingga penutupan satu hari kebun binatang. Gantira Bratakusuma diduga merusak fasilitas Kebun Binatang Bandung pada Rabu (2/7/2025) sore. Objek perusakan adalah pintu depan dan belakang kantor operasional Bandung Zoo atau Kebun Binatang Bogor, serta kamera CCTV.
John Sumampauw telah melaporkan Gantira ke pihak berwajib atas dugaan tindak perusakan dan pengambilan alihan operasional Kebun Binatang Bandung.
“Semua sarana dan prasarana yang dirusak merupakan barang bukti Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dalam kasus tindak pidana korupsi penguasaan lahan milik Pemerintah Kota Bandung, yang merugikan negara Rp 25 miliar,” ujar John.
Researcher dan Konservasi TSI, Keni Sultan, menambahkan keterlibatan Taman Safari Indonesia dan Kebun Binatang Bandung di Yayasan Margasatwa Tamansari dengan Bandung Zoo telah terjadi sebelum konflik ini mencuat.
Keni mengungkap, ada sekitar 35 ekor satwa dengan 10 spesies milik Taman Safari yang dipinjamkan ke Bandung Zoo.
Humas TSI, Ully Rangkuti, menegaskan dibukanya lagi Bandung Zoo atau Kebun Binatang Bandung bukan berarti konflik internal rampung.
"Meski hari ini buka, ini bukan berarti masalah yang di dalam [internal] selesai. Kami hanya ingin ini [konflik] tidak sampai berdampak kepada pengunjung," tandasnya.
Pada momen libur sekolah ini, pengunjung bisa memasuki kawasan konservasi ini seharga Rp65ribu per orang hingga 6 Juli 2025.
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































