tirto.id - Gedung Sekolah Rakyat di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, bakal dibangun mulai tahun ini. Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono, memperkirakan proses pembangunan gedung Sekolah Rakyat ini membutuhkan waktu sekitar satu tahun.
Dia mengatakan Sekolah Rakyat di Kendal tersebut ditargetkan dapat menampung 1.000 siswa untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA.
"Kalau clear akan dibangun Sekolah Rakyat. Pembangunannya Insya Allah mulai tahun ini, buka ajaran barunya di tahun depan [2026]," kata Agus Jabo usai melaksanakan Ground Checking lokasi Sekolah Rakyat di Desa Bandengan, Kecamatan Kendal, Kamis (5/6/2025).
Pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat ini, menurut Agus Jabo, melibatkan kolaborasi lintas-kementerian. Saat ini, Pemkab Kendal telah mengajukan sejumlah berkas administrasi yang dibutuhkan kepada Kementerian Sosial.
Selanjutnya, Kementerian Pekerjaan Umum akan melakukan penilaian teknis di lapangan. Jika usulan Pemkan Kendal disetujui, pembangunan gedung Sekolah Rakyat itu akan segera dimulai.
Untuk pembangunan gedung Sekolah Rakyat, Pemkab Kendal menyiapkan lahan seluas 8 hektare. Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyatakan pengajuan berkas terkait usulan penggunaan lahan tersebut sudah dilakukan.
"Diajukan 8 hektare tapi sebetulnya keseluruhan [lahan] ada 15 hektare. Kemarin, diajukan sertifikat-sertifikatnya dan sudah dilampirkan semuanya," kata Kartika seusai mendampingi Wamensos berkunjung ke lokasi lahan Sekolah Rakyat di Kendal.
Pemda Diminta Usulkan Lahan untuk Sekolah Rakyat
Saat berkunjung ke Kendal, Wamensos Agus Jabo menerangkan bahwa sejumlah Sekolah Rakyat yang dibuka mulai Juli 2025 menggunakan fasilitas sementara. Sekolah-sekolah itu menempati gedung yang sudah ada dan telah direvitalisasi. Sebagian merupakan fasilitas milik Kemensos.
Di Provinsi Jawa Tengah, misalnya, tahap awal pembukaan Sekolah Rakyat memanfaatkan mayoritas gedung eksisting milik Kemensos, yaitu Sentra Antasena Magelang, Pusdiklat Pamong Praja Tegalrejo Magelang, Sentra Satria Baturraden, Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Sentra Margo Laras Pati, dan Sentra Terpadu Prof. Soeharso Surakarta.
Upaya tersebut merupakan langkah awal untuk mempercepat penyediaan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Namun, persiapan jangka penjang tetap penting dilakukan. Maka itu, kata Agus Jabo, pemerintah daerah perlu mengusulkan lahan baru untuk gedung Sekolah Rakyat yang permanen.
"Pemkab harus (tetap) mengusulkan lahan yang akan dibangun untuk jadi sekolah permanen. Jadi tahun berikutnya anak-anak yang kemarin berada di sentra Kemensos akan pindah ke sekolah permanen yang ruang kelasnya lebih luas dan fasilitasnya lebih lengkap," jelas Agus Jabo.
Dia juga menjelaskan, Sekolah Rakyat dibuka untuk anak-anak dari keluarga miskin atau miskin ekstrem yang masuk kelompok Desil 1 di Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sekolah ini berkonsep boarding school (berasrama). Di Sekolah Rakyat,semua kebutuhan siswa, mulai dari makan, buku, asrama, hingga peralatan sekolah, ditanggung negara.
Adapun kurikulum di Sekolah Rakyat mengajarkan ilmu pengetahuan sekaligus pendidikan karakter, baik karakter keagamaan, kebangsaan, maupun sosial. Siswa Sekolah Rakyat juga dibekali keterampilan.
"Misalkan sudah (lulus) SMA, mereka belum mau melanjutkan kuliah karena ingin membantu keluarganya, mau bekerja kita sudah membekali dengan keterampilan-keterampilan yang kita ajarkan di sekolah rakyat," jelas Agus Jabo.
Sekolah Rakyat dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung seperti ruang kelas, asrama, dapur, ruang makan, laboratorium, tempat ibadah, lapangan olahraga dan tempat praktek. Selain itu juga ada fasilitas keterampilan berupa pertanian, otomotif atau keterampilan lain sesuai potensi daerah masing-masing.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































