Menuju konten utama

Sejarawan India Dorong RI Lebih Berani Hadapi Konflik Global

Tekanan terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan Barat, seperti Iran, Kuba, dan Venezuela, dianggap Amerika Serikat bentuk baru imperialisme.

Sejarawan India Dorong RI Lebih Berani Hadapi Konflik Global
Sejarawan India, Vijay Prashad (tengah berpeci hitam), berfoto bersama usai kuliah umum bertajuk The Global South Today: Crisis, Resistance, and Possibilities di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (20/4/2026). Dok: Istimewa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejarawan sekaligus intelektual asal India, Vijay Prashad, mendorong Indonesia mengambil posisi tegas dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks, dengan kembali pada semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 dan warisan pemikiran Presiden ke-1 RI, Sukarno.

Hal itu disampaikan dalam acara Public Lecture bertajuk The Global South Today: Crisis, Resistance, and Possibilities di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (20/4/2026), yang merupakan kelanjutan dari forum serupa di Bandung sehari sebelumnya.

Dalam pengantarnya, Kepala Badan Sejarah DPP PDIP, Bonnie Triyana, mengatakan sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari jejaring internasional gerakan anti-kolonial.

Anggota Komisi X DPR RI ini menyinggung peran tokoh-tokoh global dan momentum Konferensi Asia Afrika sebagai puncak solidaritas negara-negara Global South.

"Kolonialisme mungkin sudah berakhir, tapi kolonialitas masih berlangsung hingga hari ini," kata Bonnie.

Politikus berlatar belakang sejarawan ini juga menekankan pentingnya dekolonisasi tidak hanya dalam politik, tetapi juga dalam bahasa dan cara berpikir.

"Kita harus mendekolonisasi bahasa kita, karena banyak istilah yang kita gunakan sebenarnya produk kolonial," ujarnya.

Sementara itu, Vijay Prashad menyoroti perubahan lanskap global sejak krisis finansial 2007-2008, yang menurutnya memicu kekhawatiran Amerika Serikat dan sekutunya terhadap kebangkitan Asia, terutama Cina.

"Mereka percaya dengan kekuatan militer dan media, mereka bisa memaksa negara-negara seperti Cina dan Indonesia kembali ke posisi lama sebagai buruh dunia," kata Vijay.

Vijay menilai tekanan terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan Barat, seperti Iran, Kuba, dan Venezuela, merupakan bentuk baru imperialisme.

"Iran adalah simbol ketidakpatuhan. Jika Anda tidak mengikuti Amerika Serikat hari ini, Anda harus membayar harganya," ujarnya.

Vijay juga secara terbuka mengkritik agresi militer dan menyebut keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik global, termasuk di Gaza, Palestina.

Dalam konteks Indonesia, Vijay mendorong keberanian untuk mengedepankan semangat dekolonisasi di tengah tekanan global.

"Jika Amerika mengatakan 'America First', maka kita juga harus berani mendekolonisasi cara pandang kita dan mengutamakan kepentingan bangsa," ujarnya.

Vijay menilai semangat tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang pernah ditunjukkan Indonesia, termasuk saat menolak intervensi asing.

Lebih jauh, Vijay mengajak generasi muda untuk kembali memahami sejarah, termasuk peran Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika dan pemikiran para pendiri bangsa.

"Anda harus membaca Sukarno. Jika tidak, Anda tidak akan memahami dinamika Indonesia modern," katanya.

Selain itu, Vijay menyoroti pentingnya gerakan dari akar rumput sebagai bentuk nyata perlawanan terhadap ketimpangan global.

"Banyak orang hari ini merasa tidak punya kuasa, tapi manusia selalu ingin meninggalkan jejak. Kita bukan sekadar penonton, kita bisa bertindak," katanya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK GLOBAL

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto