tirto.id - Harga minyak kembali mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (21/4/2026) seiring munculnya tanda-tanda bahwa Iran akan menghadiri perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan. Perundingan ini bakal menjadi pembicaraan damai kedua antara kedua belah pihak.
Mengutip Bloomberg, harga minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni sempat turun hingga 2,2 persen ke sekitar 86 dolar AS per barel.
Sementara berdasarkan catatan Reuters, harga minyak acuan Brent dibuka turun 95 sen atau 1 persen, menjadi 94,53 dolar AS per barel.
Ihwal rencana pembicaraan gencatan senjata kedua, seorang sumber mengatakan bahwa Iran akan mengirimkan perwakilan ke ibu kota Pakistan tersebut saat hari perundingan datang.
Rencana ini diungkapkan setelah sebelumnya Teheran menyatakan masih ragu untuk berpartisipasi dalam perundingan damai lanjutan dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance akan berangkat pada Senin malam untuk melanjutkan perundingan, yang dikatakan Presiden Donald Trump baik akan berlangsung pada Selasa (21/4/2026) malam atau Rabu (22/4/2026) pagi.
Meski begitu, Trump juga mengatakan, “sangat kecil kemungkinan” ia akan memperpanjang gencatan senjata, yang akan berakhir pada “Rabu malam waktu Washington.”
Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir harga minyak telah mengalami gejolak. Kondisi ini terjadi di tengah perubahan cepat persepsi terkait status perundingan serta apakah kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz— jalur perairan yang biasanya dilalui hampir seperempat pasokan minyak mentah dunia.
Di sisi lain, kebuntuan terkait Hormuz berpotensi memperdalam krisis energi global dan menjadi salah satu dari sejumlah isu yang belum terselesaikan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk kemampuan nuklir Republik Islam tersebut serta invasi Israel ke Lebanon.
“Para trader masih memperdagangkan komentar-komentar yang bernilai berita dari kedua pihak dan berharap gangguan pasokan hanya akan berlangsung singkat,” ujar profesor ekonomi komoditas dan keuangan di Bayes Business School, Michael Tamvakis.
Sebelumnya, sesi perdagangan Senin (20/4/2026) diwarnai pernyataan yang saling bertentangan dari mengenai waktu dan kelayakan perundingan damai. Hal ini lantas memperpanjang kenaikan harga minyak, setelah Trump mengatakan bahwa AS akan terus memblokir kapal-kapal yang keluar atau masik di pelabuhan-pelabuhan Iran hingga kesepakatan gencatan senjata tercapai.
Sementara itu, arus lalu lintas di Hormuz masih nyaris terhenti. Menurut Citigroup, harga minyak berpotensi naik hingga 110 dolar AS per barel jika gangguan di jalur perairan tersebut berlanjut selama satu bulan lagi.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































