tirto.id - Latar belakang pertempuran Medan Area dan tokoh-tokohnya menjadi salah satu bahasan penting dalam sejarah Indonesia. Pertempuran Medan Area merupakan peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Sumatera Utara atau Sumut (dulunya Provinsi Sumatera) pada 1945-1946.
Pertempuran Medan Area ini terjadi ketika negara Indonesia masih seumur jagung. Indonesia kala itu menghadapi tekanan hebat dalam mempertahankan kemerdekaan selepas proklamasi.
Pasalnya, gelombang pasukan Sekutu di bawah kendali Inggris yang membawa juga pihak Belanda mendatangi wilayah Sumatra. Para masyarakat yang nasionalis pun meyakini bahwa pihak eksternal ingin memperoleh kembali daerah jajahannya.
Latar Belakang Pertempuran Medan Area
Kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan oleh Sukarno-Mohammad Hatta di Jakarta, 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan itu menyudahi masa penjajahan panjang.
Kendati demikian, kabar kemerdekaan tak lekas sampai di Medan meskipun operator radio telah menangkap siaran dari Jakarta pada 19 Agustus 1945. Siaran tak sampai ke pemimpin-pemimpin Indonesia di Medan lantaran wilayah ini masih dikontrol oleh Kempetai (Polisi Militer Jepang).
Masyarakat Medan baru mengetahui kabar kemerdekaan Indonesia beberapa hari kemudian usai berbagai rangkaian peristiwa. Pembentukan birokrasi pemerintah RI juga agak telat di sana.
Mengutip catatan dalam Sejarah Daerah Sumatera Utara (1978), wakil pemerintahan RI di Sumatra baru Gubernur Teuku Mohammad Hassan resmikan pada 3 Oktober 1945. Tidak lama kemudian, rentetan kejadian yang menjadi latar belakang pertempuran Medan Area mulai berlangsung.
Sejarah latar belakang pertempuran Medan Area adalah kehadiran sekutu di Sumatra usai perang Dunia II berakhir. Pasukan Sekutu di bawah kendali Brigjen TED Kelly mendarat di Sumatra pada 9 Oktober 1945.
Mereka awalnya datang ke wilayah Belawan, kemudian bergerak menuju Kota Medan untuk mengurus tawanan dan melucuti tentara Jepang. Mengutip dari Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 Daerah Sumatera Utara (1979-1980), masyarakat setempat bahkan turut membantu Sekutu hingga aksi pelucutan itu tidak mendapat perlawanan dari tentara Nippon.
Kendati begitu, Sekutu bersama tentara Belanda kala itu tergabung dalam Netherland Indies Civil Administration (NICA). Kehadiran tentara NICA dalam rombongan sekutu melecut kecurigaan para pejuang pro Republik.
Semua meyakini Belanda bernafsu menjajah Indonesia kembali sehingga situasi di banyak wilayah Indonesia lekas mendidih. Sebut misalnya di Surabaya, bentrok akbar meledak dalam peristiwa pertempuran 10 November.
Sementara kondisi di wilayah Sumatra, kejanggalan makin kentara saat Sekutu hendak melucuti senjata dari tangan bumi putra. Oleh karena itu, pertempuran Medan Area meletus.
Sikap rakyat Medan lekas berubah ketika mengetahui para tawanan Jepang justru direkrut jadi bagian KNIL (Koninklijke Nederlandsche lndische Leger). KNIL merupakan tentara Hindia Belanda.
Para pejuang pro kemerdekaan RI makin panas saat tahu Sekutu mengirim pasukannya di tempat-tempat strategis, seperti Binjai, Brastagi, dan Tanjung Morawa. Strategi tersebut seolah membangun perisai bagi pasukan induk Sekutu di Medan.
Sumbu konflik makin pendek saat tentara Sekutu menggeledah markas Barisan Pemuda Indonesia serta Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Medan. Mereka bahkan menurunkan bendera merah putih di setiap gedung yang didudukinya.
Sekutu kemudian membuat pembatas berbentuk papan-papan yang di dalamnya terdapat tulisan Fixed Boundaries of Protected Medan Area. Menurut Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area (1990), istilah pertempuran Medan Area berawal dari papan ini.
Tentara Sekutu mulai memasang papan-papan bertuliskan Fixed Boundaries of Protected Medan Area pada 1 Desember 1945. Kejadian ini merupakan kelanjutan dari rangkaian peristiwa yang terjadi sejak pasukan Brigjen TED Kelly datang pada 9 Oktober 1945.
Kronologi Pertempuran Medan Area
Kronologi pertempuran Medan Area meletus saat terjadinya insiden tanggal 13 Oktober 1945. Tentara NICA saat itu merampas dan menginjak-injak lencana merah-putih milik pemuda Indonesia yang sedang melintas di Jalan Bali, Medan.
Barisan Pemuda dan TKR lantas membalas provokasi itu dengan menyerbu pasukan NICA dan Sekutu di berbagai titik. Mereka juga merebut gedung-gedung yang semula dikuasai Jepang.
Pada 18 Oktober 1945, Brigjen TED Kelly menyikapi situasi ini dengan cara mengeluarkan ultimatum. Dia memerintahkan agar seluruh senjata yang ada di tangan rakyat Indonesia diserahkan kepada Sekutu.
Para pejuang tentunya tidak menuruti kemauan pihak TED Kelly. Oleh sebab itu, Sekutu menetapkan garis batas Fixed Boundaries of Protected Medan Area pada 1 Desember 1945.
Puncak pertempuran Medan Area terjadi pada 10 Desember 1945. Momen ini bertepatan saat tentara Inggris menyerang Markas Komando Laskar Medan Area di Deli tua atau juga dikenal sebagai Two-Rivers (Trepes).
Serangan menyebar ke sekitar Medan hingga memunculkan pertempuran-pertempuran antara para laskar pejuang RI melawan pasukan Inggris. Bahkan, pasukan NICA juga melakukan teror.
NICA menggerakkan orang-orang bersenjata yang dibayar guna menciptakan kekacauan di sekitar Kota Medan. Mereka mengusahakan langkah tersebut sehingga kubu Inggris punya alasan untuk melakukan tindakan lebih keras.
Pertempuran Sekutu dan NICA dengan para pemuda berlangsung di seluruh Kota Medan. Situasi yang panas ini terus berlanjut sampai bulan April 1946, tepatnya ketika Sekutu menguasai Kota Medan.
Gubernur Sumatera, Wali Kota Medan, dan petinggi TKR sempat harus menyingkir ke Pematang Siantar. Kondisi pertempuran Medan Area ini berlangsung hingga pertengahan 1946.
Kubu Sekutu dan Belanda akhirnya berunding dengan Indonesia. Oleh karena itu, muncul ide dan kesepakatan mengenai pelaksanaan gencatan senjata pada 14 Oktober 1946 silam.
Tokoh-Tokoh Pertempuran Medan Area
Pemimpin pertempuran Medan Area dari kubu Sekutu ialah Brigjen TED Kelly. Sementara dari pihak Indonesia, Achmad Tahir menjadi tokoh pelopor sekaligus orang yang terlibat dalam pertempuran tersebut.
Berikut daftar tokoh pertempuran Medan Area dari Indonesia yang memegang peran penting:
- Achmad Tahir
- Dr. Ferdinand Lumbantobing
- Abdul Karim M. S.
- Djamin Ginting
- Mayor Teuku Cut Rahman
- Mayor Hasan Achmad
- Nukum Sanany
- Soehardjo Hardjowardojo
Penulis: Dicky Setyawan
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id





































