Inggris Ngamuk dan Republik Remuk dalam Pertempuran Surabaya

Oleh: Petrik Matanasi - 10 November 2016
Dibaca Normal 5 menit
Perbandingan jumlah pejuang Surabaya dengan pasukan Sekutu mencapai empat banding satu. Namun, jumlah korban Indonesia mencapai 5 persen dari keseluruhan pejuang, sedangkan Inggris "hanya" kehilangan 1 persen tentaranya. Tetapi, dalam angka 1 persen itu sudah termasuk dua orang jenderal.
tirto.id - Sejak tiba mendarat Surabaya, prajurit-prajurit Sekutu dari Brigade 49 begitu tinggi semangat dan percaya dirinya. “Mereka baru saja mengalahkan pasukan Jepang, dari pertempuran Birma sampai Semenanjung Malaya,” tulis Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 (2012).

Pasukan pimpinan Brigadir Mallaby yang tiba di Surabaya terdiri dari Batalyon Infanteri Maratha yang terlatih dalam perang kota dan Batalyon Rajputna yang mampu menjadi pasukan penghancur dengan senapan mesinnya. Brigade ini dilengkapi kendaraan lapis baja, angkutan militer juga kesehatan militer. Anggota brigade ini kebanyakan orang-orang India yang berdinas dalam militer Inggris. Mereka yang bersorban biasanya orang Sikh, meski sering dikira Gurkha yang biasanya bermata sipit dan tak bersorban.

Ketika hendak mendarat di Surabaya, mereka berpikir orang Surabaya tak terlatih memegang senjata dengan baik. Tentu saja mereka salah. Menurut Des Alwi, setelah mendarat pasukan sekutu sadar bahwa militer Jepang sudah tidak berkuasa lagi di Surabaya. Orang-orang di Jakarta, menurut PRS Mani dalam Jejak Revolusi 1945 Sebuah Kesaksian Sejarah (1989), masih bisa bersikap ramah terhadap militer Inggris. Namun orang Surabaya tidak.

Sejak pendaratan mereka tak mendapatkan senyum damai dari pemuda Surabaya. Bahkan belum seminggu mendarat, pasukan Inggris India ini malah kehilangan jenderal yang jadi komandan brigade dalam sebuah kerusuhan di muka Gedung Internatio pada 30 Oktober 1945. Tak heran jika Inggris marah. Lalu pembalasan pun teramat kejam dan tanpa ampun.

Amuk Inggris

Tanggal 1 November 1945, HMS Sussex muncul di Pelabuhan Tanjung Perak. Ada juga kapal-kapal lain yang mengangkut semua orang-orang sipil Eropa yang baru dibebaskan dari kamp tawanan Jepang. Sekitar 6 ribu hingga 8 ribu orang bekas tawanan terangkut. Tentu saja kapal-kapal itu tak datang dalam keadaan kosong.

Dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (1988), Ben Anderson mengutip novelet Surabaya (1947) karya Idrus, “Sejak beberapa hari sekutu mendaratkan serdadu-serdadu lebih banyak dan tank-tank raksasa. Tank-tank itu turun dari kapal seperti malaikat maut turun dari langit: diam-diam dan dirahasiakan oleh orang yang menurunkannya.”

Meski uraian Idrus berbentuk karya fiksi, namun keadaan Surabaya yang disaksikan Des Alwi dan ditulis dalam buku Pertempuran Surabaya November (2012) tidak jauh dari gambaran Idrus. Selain ribuan pasukan darat tank, panser dan meriam-meriam artileri juga diturunkan dari kapal.

“Kematian Mallaby menggarangkan Inggris yang mendatangkan Divisi V Malaya. Serta armada Laksamana Peterson (yang terdiri satu kapal penjelajah dan tiga perusak),” tulis A..H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas jilid I (1989). Selain itu, masih menurut Nasution, “Inggris mengirim satu brigade lagi dari Divisi ke-26 dari India ke Jawa dan 2 brigade ke Sumatra. Menurut catatan Inggris serangannya tanggal 10 November di Surabaya dengan satu divisi satu brigade serta Angkatan Udara dan Angkatan Lautnya.”

Menurut "Report Proceedings for November 1945, Public record office, ref N0 203/5384/X/3.1426", seperti dikutip Batara Hutagalung dalam Pertempuran Surabaya, pada 1 November 1945 Inggris mendaratkan 1500 pasukan melalui kapal HMS Cavalier dan HMS Carron. Dua hari kemudian, Panglima Divisi Infanteri Inggris India Kelima mendarat bersama 24 ribu prajurit yang diperkuat panser, tank dan meriam. Jika ditambah sisa-sisa pasukan Mallaby, kekuatan Inggris mencapai sekitar 30 ribu prajurit.

Setelah urusan tawanan dianggap beres di Surabaya, maka Jenderal Mansergh memberi ultimatum pada 9 November 1945 agar orang-orang Indonesia di Surabaya segera menyerahkan senjata paling lambat pada pukul 6 pagi 10 November 1945. Mansergh juga menuntut agar orang yang bertanggungjawab atas tewasnya Mallaby diserahkan kepada Inggris sebagai wakil Sekutu di Surabaya. Ultimatum itu disebar dari udara ke penjuru kota.

Menurut Anderson, sudah jelas tujuan utama Mansergh adalah untuk memberikan hukuman terhadap kematian Mallaby. Ultimatum itu dianggap Anderson hanyalah basa-basi. “Jangka waktu yang diberikan sangat tidak cukup untuk mengumpulkan senjata-senjata yang begitu banyak. Kecil sekali kemungkinan akan diserahkan ‘pembunuh-pembunuh’ Mallaby; bahkan tidak pasti bahwa ia tidak ditembak oleh orang-orangnya sendiri,” tulisan Anderson.

Mansergh tak lupa menyuruh semua perempuan dan anak-anak harus sudah meninggalkan kota sebelum pukul 19.00 malam. Isyarat hukuman mati dari militer Inggris sudah tampak. Setelah pembicaraan tingkat tinggi di pihak Republik Indonesia, akhirnya Gubernur Soerjo melalui radio pada pukul 23.00 malam menolak ultimatum Inggris dan memutuskan Surabaya akan melawan sampai titik darah penghabisan.

Saat itu pasukan darat Divisi Kelima sudah ada di kota Surabaya. Maka sejak pukul 06.00 tanggal 10 November 1045, Inggris memperlihatkan cara perang modernnya pada Indonesia. Kapal-kapal perang Kerajaan Inggis dan juga pesawat armada udara Inggris memuntahkan peluru-pelurunya ke daratan Surabaya. Hingga senja, sepertiga Surabaya sudah diduduki militer Inggris. Tembakan-tembakan itu memudahkan gerakan pasukan Divisi Kelima Inggris untuk menguasai Surabaya yang hampir tiap sudutnya berusaha dipertahankan mati-matian oleh pihak Republik.

“Di pusat kota, pertempuran lebih dasyat, jalan-jalan harus diduduki satu persatu, dari satu pintu ke pintu lainya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, dan kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimpangan di selokan; gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telepon bergelantungana di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah-tengah gedung-gedung kantor yang kosong,” tulis David Wehl dalam Birth of Indonesia (1949) seperti di kutip Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda.

Menurut Des Alwi, tidak benar pemuda Surabaya hanya mengandalkan bambu runcing saja dalam menghadapi militer Inggris. Terdapat lebih dari 37 ribu pucuk senjata api lengkap dengan pelurunya yang dibagikan ke kelompok pemuda. Senjata ini adalah rampasan Jepang. Tentu saja tak semua personil di pihak Indonesia, yang jumlahnya diperkirakan 120 ribu itu, menyandang senjata api. Sisanya memang memakai senjata tradisional.

Bayangkan, tulis David Wehl, “Orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman.” Dari takaran militer profesional, apa yang dilakukan pasukan para pejuang Surabaya bukan lagi berani tapi nekad. Hingga korban banyak jatuh. Hanya sebagian saja dari mereka yang pernah mendapat latihan militer, baik dari Jepang maupun Belanda, pada masa sebelum perang.

Infografik Rekonstruksi 10 November Hari Pahlawan


Modal Dengkul Melawan Inggris

Terlatih dan lengkapnya persenjataan 30 ribu serdadu Inggris-India membuat pejuang Surabaya bertumbangan di banyak front. Apalagi Batalyon Infanteri Maratha terlatih dalam perang kota. Sementara Batalyon Rajputna punya senapan mesin yang bisa memberondong banyak orang Indonesia yang tak jelas persenjataannya. Meskipun orang-orang Indonesia bermodal dengkul dan nekat itu melawan dengan mengerahkan lebih banyak manusia, toh itu tak sebanding.

Jumlah militer Indonesia di Surabaya secara pasti sulit ditemukan di buku-buku sejarah maupun biografi para pelakunya. Ada pihak yang menaksir terdapat sekitar 20 ribu anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR). Meski di Yogyakarta sudah diresmikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) nama BKR masih digunakan di Surabaya. Anggota BKR biasanya bekas PETA, Heiho, KNIL dan pemuda yang tak pernah mendapat latihan militer sama sekali. Sementara jumlah pemuda pejuang di luar BKR diperkirakan mencapai 100 ribu orang. Jadi diperkirakan kekuatan pihak Indonesia mencapai 120 ribu dengan persenjataan tak lebih 50 ribu.

“Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap. Pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang,” tulis David Wehl.

Menurut Des Alwi, memasuki pekan kedua pertempuran, tembakan dari meriam-meriam artileri Inggris dilakukan agak serampangan. Tidak berdasarkan titik tertentu di daerah musuh, namun hanya ke arah musuh saja. Intensitas tembakan pun seolah tanpa henti. Begitu juga meriam dari kendaraan lapis baja kavaleri Inggris.

Pertempuran ganas itu berlangsung tiga minggu. Kerugiannya luar biasa besar. Akhir November, kota jatuh ke tangan Inggris sepenuhnya. Para pejuang republik yang babak belur terpaksa mengungsi ke luar kota bersama pengungsi-pengungsi lain.

David Wehl, dengan sinis namun jujur menulis, “Jika seandainya pertempuran-pertempuran seperti ini berlangsung di seluruh Jawa, jutaan orang akan tewas dan baik Republik Indonesia maupun Hindia Timur Belanda akan tenggelam dalam lauatan darah.”

Artinya, prospek kemenangan bagi Indonesia sebenarnya kecil, justru korban akan sangat amat banyak. Namun hal itu cukup mampu menciptakan kengerian yang mencekam bagi Belanda juga.

Wehl menulis lagi: “Akan tetapi, fanatisme dan kemarahan Surabaya yang luar biasa itu tidak pernah terulang kembali, dan bahkan ketika perang terbuka antara Belanda dan Republik Indonesia dimulai, tidak ada pertempuran yang dilancarkan Republik yang dapat disebandingkan dengan pertempuran Surabaya, baik dalam keberanian maupun kegigihannya.”

Tewasnya Dua Jenderal

“Meski tembakan senjata penangkis serangan udara, pasukan kita sering tidak akurat, sampai tanggal 14 November 1945 mereka (mengklaim) sudah berhasil merontokan tujuh pesawat musuh. Dan tidak boleh dinafikan, sebuah lucky blow bahkan telah memangsa seorang perwira tinggi Inggris. Korban dengan pangkat tertinggi selama babak kedua pertempuran Surabaya,” tulis Des Alwi.

Sebuah pesawat yang dipiloti Letnan Osborn yang ditumpangi Brigadir Robert Guy Loder-Symonds jatuh pada pukul 09.50 pada 10 November, hari pertama pertempuran Surabaya itu.

Sementara, Mayor Jenderal Mansergh dan media Belanda menyebut pesawat itu jatuh karena kecelakaan ketika sedang lepas landas dari lapangan terbang Morokrembangan. Pesawat itu terbakar dan jatuh Loder-Symonds. Salah satu yang menumpang pesawat tersebut adalah Komandan Kesatuan Artileri Militer Inggris. Kematiannya menambah koleksi korban jenderal pihak Inggris yang selalu diceritakan dengan bangga orang-orang Indonesia.

Sebelum 10 November saja, pihak republik mencatat seorang perwira tinggi, 15 perwira dan 217 prajurit Inggris-India terbunuh. Hingga berakhirnya pertempuran 10 November, terdapat 600 korban di pihak Inggris-India menurut taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965). Tentu saja pihak Republik lebih besar dalam jumlah korban. Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c. 1300, terdapat 6 ribu korban di pihak Indonesia.

Jika diasumsikan kekuatan Republik Indonesia sekitar 120 ribu dan Inggris 30 ribu, maka perbandingan kuantitas sebenarnya mencapai 4:1. Akan tetapi itu perbandingan kuantitatif, bukan kualitatif yang menghitung keahlian dan persenjatan. Jika melihat persentase jumlah korban, korban dari pihak Indonesia diperkirakan mencapai 5 persen. Sementara Inggris hanya kehilangan 1 persen dari keseluruhan anggota militernya di Surabaya. Jika dilihat dari wilayah yang diduduki Inggris di Surabaya hingga akhir November 1945, maka Inggris adalah pemenang pertempuran tersebut.

Kemenangan bagi Republik Indonesia terletak pada kemenangan mental. Meski harus terpukul mundur ke luar kota dan menelan korban yang jauh lebih banyak, Indonesia -- melalui arek Suroboyo-- memperlihatkan daya tahan yang hebat menghadapi gempuran Inggris. Keberhasilan menewaskan dua perwira tinggi yang pangkatnya setara jenderal pun menjadi catatan yang menginjeksi moral para pejuang.

Kenekatan para pejuang Surabaya itu juga menerbitkan sikap yang lebih respek dari Inggris kepada Indonesia. Kendati tahu mereka akan tetap memenangkan pertempuran andaikan terjadi insiden lain dengan Indonesia, Inggris tak mau lagi sembrono. Mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa mengerikannya kenekatan para pejuang Surabaya. Terlalu mahal ongkosnya jika harus mengulangi pertempuran dengan arek-arek Suroboyo.

Para pejuang Indonesia, bisa dikatakan, menguatkan moralnya dengan mengangkat gelas untuk Mallaby dan Loder-Symonds.

Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan
DarkLight