Orang-orang Indonesia di Kubu NICA

Oleh: Petrik Matanasi - 8 Agustus 2016
Dibaca Normal 5 menit
Di masa revolusi, banyak orang-orang Indonesia yang ingin NICA menjajah kembali Indonesia. Keberpihakan itu biasanya karena dorongan rasa mapan, kesetiaan yang mengakar atau masalah politis lainnya.
tirto.id - Sebelum pecah Perang Dunia II, banyak orang Indonesia terpelajar yang lebih memilih jadi pegawai kolonial Hindia Belanda. Mereka merasa mapan dengan menjadi pegawai kolonial Hindia Belanda. Ada jaminan rutinitas penghasilan, kemapanan, dan keamanan finansial.

Sementara di kalangan keluarga raja-raja atau pemuka masyarakat, dekat dengan Pemerintah Belanda bukan hal aneh. Suka tidak suka, kaum penguasa tradisional lebih memilih menjadi sahabat Belanda. Jika tidak jadi raja setidaknya jadi pegawai sipil kolonial saja. Angkat senjata melawan pemerintah kolonial jelas cari mati bagi mereka. Setelah Indonesia merdeka, banyak dari mereka masih setia kepada Kerajaan Belanda dengan bergabung dengan Nederlands Indie Civil Administration (NICA).

Golongan berikutnya adalah orang-orang pribumi yang menjadi militer kolonial dalam Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Golongan terakhir adalah pihak swasta pro kolonial, yang biasanya bekerja di perusahaan atau jadi pedagang. Seringkali, kaum swasta ini menjadi mata dan telinga bagi intel Belanda yang disebut Nederlands Force Intelligence Service (NEFIS).

Dari kalangan swasta, ada nama Tjia Pit Kay. Dia adalah seorang pengusaha, yang dekat dengan Kapten Westerling. Tjia Pit Kay pernah tinggal di beberapa kota besar Indonesia dan kemudian juga ikut ke Jakarta ketika Westerling berada di Jakarta. Dia pernah juga menumpang pesawat angkut militer Belanda. Westerling terus berhubungan dengan Tjia Pit Kay juga ketika menyusun gerakan anti republik di tahun 1950. Selain Tjia Pit Kay terdapat Tjie Yoek Moy dan juga Nio Peng Liang.

Tentu saja NEFIS juga merekrut beberapa orang Indonesia sebagai agen. Tak hanya dari kalangan militer, tapi juga sipil. NEFIS mulai buka kantornya di Jakarta sejak Oktober 1945. Sebelumnya, NEFIS berkantor di Australia. NEFIS dianggap memberi banyak kontribusi dalam pengumpulan informasi tentang Indonesia demi operasi militer tentara Hindia Belanda di Indonesia yang kemudian bergolak.

Golongan Feodal dan Pegawai Sipil

Dengan kondisi yang tidak stabil sebelum dan setelah kemerdekaan, maka berubah-ubah profesi menjadi hal yang umum. Bukan hal aneh jika ada polisi yang pernah jadi polisi Belanda, lalu jadi polisi Jepang, lalu jadi polisi Republik, lalu jadi polisi Belanda lagi. Ada polisi bernama Yassin. Dia adalah intel polisi Belanda yang mengerti banyak soal dunia bawah dan gerakan bawah tanah juga. Di masa pendudukan Jepang, Yassin adalah Polisi Jepang. Di zaman Revolusi, Yassin kembali menjadi Polisi NICA.

Yassin tentu bukan satu-satunya pegawai sipil yang berpihak pada Belanda. Setidaknya, pernah ada laporan di tahun 1950 tentang orang yang bekerja sama dengan Belanda di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah pejabat inspektur pertanian bernama panggilan S Bone, yang konon kerap berhubungan dengan Westerling selama Kampanye Pasifikasi (1946-1947).

Andi Tjallo Areng Mallusetasi, juga pernah dilaporkan dekat dengan Belanda dalam kurun waktu 1945 hingga 1949. Bersama beberapa bangsawan, dia mendukung Belanda. Andi Tjallo memerintahkan Andi Tjate bersama Polisi Negara (BAPIT) dalam daerah Adjatappareng untuk menangkapi dan memenjarakan semua pengurus-pengurus dan anggota-anggota BPRI, PKR, API, Al Anzhar dan lainnya di Pare-pare. Di tahun 1950, Bangsawan ini kabur ke Surabaya.

Andi Tjallo tentu bukan satu-satunya bangsawan yang dekat dengan Belanda. Raja Gianyar, Anak Agung Gde Agung juga dekat dengan Belanda di awal Revolusi. Menurut Geoffrey Robinson, dalam Sisi Gelap Pulau Dewata (2006), Anak Agung Gde Agung membentuk Pemuda Pembela Negara (PPN), yang pernah bertempur melawan milisi pro Republik Indonesia. PPN pun ikut menindas pejuang Republiken di Gianyar, dari 1945 hingga 1948.

Ada yang menganggap Anak Agung Gde Agung sebagai kaum opportunis yang pro dengan Belanda. Sebagian lagi menganggap, dia tidak begitu suka dekat dengan Belanda. Belakangan, Anak Agung Gde Agung jadi Pahlawan Nasional sejak November 2007, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 068/TK/Tahun 2007 tanggal 6 November 2007.

Jumlah orang-orang Indonesia yang bekerja-sama, atau terpaksa bekerja sama, di Indonesia Timur atau di daerah luar Jawa lainnya tentu saja banyak. Kebanyakan, raja-raja kecil di luar Jawa ini dipengaruhi agar berpihak pada NICA dan mendirikan negara-negara boneka.

Wilayah Indonesia timur, semasa revolusi dikuasai oleh NICA dan KNIL. Hingga seorang nasionalis seperti Arnold Mononutu tidak punya pilihan untuk berjuang demi kepentingan Republik dengan menjadi anggota Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) yang didirikan Belanda. NIT beribu kota di Makassar, dengan bangsawan Bali bernama Tjokorda Gde Sukawati Raka sebagai presidennya.

Sultan Hamid II dari Pontianak, yang merancang lambang Garuda Pancasila juga orang yang dekat dengan Belanda. Sebelum Indonesia merdeka, Hamid adalah Letnan KNIL. Ia kemudian menggantikan ayahnya yang dibunuh tentara Jepang untuk menjadi Sultan Pontianak. Hamid tak dinas di KNIL lagi dan belakangan diberi pangkat kehormatan Mayor Jenderal.

Kebanyakan pejabat NICA memang diberi pangkat perwira militer, meski mereka bukan militer. Mochtar Lutfie, ulama asal Padang yang pernah dibuang ke Digoel pun, diberi pangkat Mayor di Makassar. Meski terlihat di pihak Belanda, Lutfie sebetulnya diam-diam mendukung Indonesia. Dia akhirnya mati dibunuh oleh serdadu-serdadu KNIL saat salat subuh.

Nama Abdulkadir Widjojoatmodjo barangkali yang paling kesohor di antara orang-orang Indonesia yang bekerja pada Belanda di masa Revolusi 1945-1949. Dia adalah bekas pegawai tinggi Hindia Belanda yang ikut kabur ke Australia ketika Belanda dikalahkan Jepang pada tahun 1942. Abdulkadir masih keturunan keluarga priyayi pamongpraja di Pekalongan.
Ayahnya adalah bupati Pekalongan, masih terhitung keluarga dengan bekas Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Abdulkadir adalah ayah tiri dari saudara sepupu Hoegeng.

Ketika NICA kembali ke Indonesia, Kadir pernah menjadi wakil pemerintah NICA di Papua antara tahun 1944-1946.12 Sebagai loyalis Belanda, Kadir pernah mengancam orang-orang yang tak setia pada Belanda melalui radio dari Australia. Dalam buku sejarah dituliskan, Abdulkadir adalah ketua delegasi Belanda dalam perundingan Renville. Ketika itu, Indonesia diwakili oleh Amir Syarifudin. Sebagai pejabat tinggi NICA, Abdulkadir mendapat pangkat kolonel.




Kaum Militer Bayaran

Zaman perang yang penuh ketidakpastian dan menyengsarakan banyak orang Indonesia, membuat banyak anak muda menjadi pengangguran. Ketika NICA baru masuk ke Indonesia di tahun 1945, di beberapa daerah, KNIL mulai merekrut banyak pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi serdadu KNIL. Gajinya cukup menggiurkan untuk ukuran di zaman yang penuh ketidakpastian itu. Jadi serdadu KNIL mungkin jalan untuk lepas dari kelaparan.

Alasan lain menjadi serdadu Belanda yang lain bisa jadi balas dendam. Setelah terjadinya kerusuhan anti Belanda dalam Masa Bersiap, yang dilupakan sejarah Indonesia masa kini, membuat banyak orang Belanda ketakutan. Dalam Masa Bersiap, dengan semena-mena pemuda Republik yang benci buta pada orang-orang Belanda, melakukan penganiayaan, pembunuhan, perempokan dan perkosaan pada orang-orang Belanda maupun orang-orang pribumi yang bekerja untuk Belanda. Rasa terancam membuat orang-orang yang dianggap Belanda itu kemudian masuk militer Belanda. Barangkali, Joost Muskita salah satunya.

Bahkan ada bekas pejuang yang kecewa setelah bentrok dengan Tentara Republik lalu belakangan ikut KNIL. Mereka ditempatkan dalam unit khusus yang disebut Hare Majesteits Ongeregelde Troepen (HAMOT) atau Laskar Ratu Belanda.

Orang-orang Indonesia sohor yang berpihak dalam militer Belanda ini terdapat Letnan Kolonel Suriosentoso. Sebetulnya dia adalah pensiunan Mayor KNIL yang diaktifkan kembali. Ketika Indonesia baru merdeka, dia diajak untuk menjadi pejabat pertahanan setara menteri, namun dia menolak dan memilih ikut KNIL. Menurut Rudolf Mrazek dalam Syahrir: Politik dan Pengasingan (1996), Semasa pendudukan Jepang, Suriosentoso terlibat dalam gerakan bawah tanah anti Jepang. Dia pensiun lagi sebagai Kolonel di tahun 1950.

Selain Santoso, ada nama Julius Tahiya. Dia sersan Marsose sebelum Perang Dunia II meletus. Di masa perang, Tahiya memimpin misi khusus di Saumlaki dengan sukses. Pangkatnya lalu menjadi Letnan. Julius Tahiya, sebagai orang Indonesia, dijadikan staf Letnan Jenderal Spoor dengan pangkat Kapten, meski tidak lama. Pada April 1946, Tahiya mengikuti pendidikan di jawatan Keuangan Jakarta. Setelahnya dia jadi orang berpengaruh di Indonesia Timur. Ketika KNIL bubar, Tahiya masuk TNI sebentar lalu keluar dan bekerja di Caltex. Setelahnya dia dikenal sebagai pengusaha.

Berkat pengaruh Tahiya, KNIL memberi kesempatan untuk melatih Joost Muskita menjadi perwira di School Reserve Officier en der Infenterie atau sekolah calon perwira infantri di Bandung. Kawan sekelas Joost adalah Andi Azis yang belakangan menjadi ajudan Presiden NIT di Makassar. Keduanya masuk TNI. Namun, Andi Azis yang lebih dulu bergabung, justru terlibat kekacauan di Makassar, yang dikenal dengan nama Peristiwa Andi Azis pada April 1950. Sementara Joost melanjutkan karier sebagai perwira operasi yang terlibat dalam penumpasan Republik Maluku Selatan pada 1950. Meski perwira cemerlang, Joost tak pernah diberi jabatan strategis di TNI. Namun, Joost menyandang pangkat terakhir Mayor Jenderal dan pernah jadi duta besar.

Joost punya alasan mengapa dirinya dulu ikut Belanda. Dia dibentuk dalam lingkungan keluarga yang dari generasi sebelumnya bekerja untuk pemerintah kolonial. Dia adalah anak sersan KNIL. Setia kepada Ratu Belanda adalah hal biasa, bahkan wajib. Ditambah lagi merasakan hal buruk di masa pendudukan Jepang, di mana banyak pimpinan Republik kebanyakan adalah orang yang bekerja-sama dengan Jepang.

“Kehidupan saya sejak kecil merupakan—tanpa saya sadari—kelanjutan sejarah Maluku yang penuh dengan pergolakan, sehingga pernah saya tulis kepada Bapak Presiden, bahwa: saya adalah produk dari sejarah suku saya.... Antara lain sebab itu juga saya dibesarkan dalam tradisi kesetian kepada Huis van Orangje alias keluarga Raja Oranje Belanda dengan segala romantika dan akibat-akibatnya yang pahit,” aku Joost dalam kumpulan pengakuan lulusan HBS KW III, Aku Ingat (1996).

Nama lain yang unik adalah Purbo Sumitro. Dia adalah lulusan akademi militer Belanda di Breda, lalu jadi KNIL. Ketika Indonesia baru merdeka, Purbo diajak bergabung ke pihak Republik. Belakangan, dia malah ikut KNIL lagi ketika revolusi. Setelah revolusi selesai Purbo juga tak masuk TNI seperti KNIL lain. Dia lebih memilih bergabung dengan Angkatan Darat Belanda, Koninklijk Landmacht, sebelum akhirnya pensiun sebagai perwira tinggi.

Di Bukittinggi, ada cerita menarik seseorang eks KNIL yang jadi pejuang lalu jadi KNIL lagi. Dia bernama Kawuntu. Dia bekas KNIL yang pernah menjadi tawanan Nippon. Sesudah bebas dan Indonesia merdeka, dia masuk TNI dengan pangkat Letnan. Sebelum tahun 1947, Kawuntu adalah pelatih sabel di Sekolah Opsir Divisi Banteng di Bukittinggi. Setelah wilayah Indonesia menyempit di tahun 1948, Kawuntu kembali bergabung dengan KNIL lagi. Tak jelas apa alasannya. Barangkali karena Kawuntu berfikir Republik Indonesia sudah tamat riwayatnya.

Baca juga artikel terkait NICA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti