Sejarah Indonesia

Proklamasi Kemerdekaan RI Bermula dari Nyali H.O.S. Tjokroaminoto

H.O.S. Tjokroaminoto. Foto/istimewa
Oleh: Iswara N Raditya - 18 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Gagasan tentang zelfbestuur (pemerintahan sendiri) bagi rakyat Indonesia sudah dicetuskan H.O.S. Tjokroaminoto sejak tiga dekade sebelum kemerdekaan RI.
tirto.id - Di atas podium Kongres Sarekat Islam di Bandung pada 17-24 Juni 1916, Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto berorasi dengan nada tinggi. Pemimpin Besar Sarekat Islam ini berseru tentang ide kemerdekaan bagi bangsa Hindia (Indonesia). Gagasan itu disebutnya dengan istilah zelfbestuur atau pemerintahan sendiri.

“Orang semakin lama semakin merasakan, baik di Nederland maupun di Hindia, bahwa zelfbestuur sungguh diperlukan,” lantang Tjokroaminoto di hadapan ratusan peserta kongres yang datang dari seluruh penjuru negeri.

“Orang semakin lama semakin merasakan,” lanjutnya dengan berapi-api, “bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan seorang tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya!”

Tjokroaminoto adalah orang Indonesia pertama yang dengan berani mencetuskan ide kemerdekaan, atau setidaknya memunculkan wacana agar bahwa rakyat Indonesia sudah seharusnya memiliki pemerintahan sendiri, tidak lagi menjadi jajahan Belanda atau bangsa-bangsa asing lainnya.


Guru Bapak Bangsa

Andai Indonesia merdeka pada dekade abad ke-20 itu, bukan mustahil Tjokroaminoto bakal menempati posisi sebagai presiden. Ia adalah orang pribumi paling berpengaruh dan disegani. Menurut Bernard Siagian (ed.) dalam 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia (2009), pemerintah kolonial Hindia Belanda bahkan menjulukinya De Ongekroonde van Java atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota” (hlm. 75).

Tjokroaminoto merupakan pemimpin tertinggi Sarekat Islam, perhimpunan rakyat paling kuat sekaligus mewakili kepentingan kaum Muslimin di Hindia Belanda. Kardiyat Wiharyanto dalam buku Perkembangan Nasionalisme di Asia Tenggara (1996) mencatat, jumlah anggota SI pada 1919 menembus angka 2,5 juta orang atau yang paling besar saat itu (hlm. 26).

Kendati memakai label “Islam”, keanggotaan SI tidak hanya terbatas untuk kalangan santri. Segala unsur ada di situ, termasuk mereka yang tergolong abangan, bahkan orang-orang yang cenderung memilih jalan kiri. Lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI) juga berawal dari Sarekat Islam.


Tjokroaminoto memimpin SI sejak 1913 setelah mengambilalih tampuk kuasa dari kubu Hadji Samanhoedi di Solo. Disebutkan Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula (2003), SI sudah dibentuk pada 1909 di Bogor dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI) oleh Tirto Adhi Soerjo (hlm. 152).

Setelah berhasil mengambilalih kepemimpinan pusat SI atau Centraal Sarekat Islam (CSI) dari Samanhoedi, Tjokroaminoto memindahkan kantor pusatnya ke Surabaya. Kemudian ia pindahkan lagi ke Yogyakarta dan berafiliasi dengan Muhammadiyah pimpinan K.H. Ahmad Dahlan.

Pada perkembangannya, Tjokroaminoto menjadi sosok paling berpengaruh di kancah pergerakan nasional. Ia menjadi pemimpin besar SI hingga akhir hayatnya pada 1934. Di tahun 1929, SI berubah jadi partai politik bernama Partai Sarekat Islam Indonesia.

Tjokroaminoto masuk sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia) yang diresmikan pemerintah kolonial sejak 1916. Meskipun menjadi anggota parlemen bentukan kolonial, namun Tjokroaminoto kerap bersuara keras demi memperjuangkan kepentingan rakyat bumiputera.


Di bawah naungan Tjokroaminoto, SI menghimpun tokoh-tokoh penting pergerakan nasional. Ada Agus Salim, Abdoel Moeis, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), Soerjopranoto, hingga Semaoen dan Alimin.

Tjokroaminoto juga menjadi bapak sekaligus mentor bagi tokoh-tokoh yang kelak amat berpengaruh dalam riwayat berdirinya RI. Sukarno adalah salah satu murid kesayangan Tjokroaminoto dan pernah tinggal di kediamannya semasa muda. Begitu pula dengan Maridjan Kartosoewirdjo, Muso, dan lain-lain.

Ide Pemerintahan Sendiri

Berkata-kata soal kemerdekaan pada masa kolonial pertaruhannya terlalu besar. Bisa-bisa ditangkap lalu dipenjara dengan tuduhan subversif. Istilah Indonesia belum berani dimunculkan, yang ada adalah Hindia Belanda. Tjokroaminoto lebih sering menyebutnya dengan istilah Hindia saja atau Hindia Timur.

Meskipun berisiko tinggi, Tjokroaminoto ternyata punya nyali. Ia melantangkan bahwa zelfbestuur menjadi salah satu tujuan Sarekat Islam dalam kongres tahun 1916 itu. "Kemerdekaan anak negeri dan kemerdekaan Hindia adalah tujuan dari perjuangan Sarekat Islam!" seru Tjokroaminoto.


Dengan lebih keras lagi, ayah Siti Oetari—istri pertama Sukarno—ini mengecam praktik kolonialisme dan imperialisme. Tjokroaminoto tidak sudi negeri kelahirannya selalu dijadikan ajang eksploitasi oleh bangsa asing.

“Tidaklah pada tempatnya menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya,” tukas Tjokroaminoto, dikutip dari Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli (1981) suntingan Pitut Soeharto dan Zainoel Ihsan (hlm. 230).

“Tidaklah pantas menganggap negeri ini sebagai tempat ke mana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan,” imbuhnya.

“Dan sekarang,” sambung Tjokroaminoto, “sudah tidak pada tempatnya lagi, bahwa penduduknya, terutama anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak turut berbicara dalam soal-soal pemerintahan, yang mengatur nasib mereka!”

Tjokroaminoto bahkan sudah memikirkan soal persatuan dan kesatuan jika nantinya bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perbedaan ini mencapai kemerdekaan.


“Bilamana kita memperoleh zelfbestuur yang sesungguhnya, artinya bila tanah air kita, kelak menjadi suatu negara dengan pemerintahan sendiri, maka seluruh lapisan masyarakat semuanya akan menuju ke arah dan bersama-sama memelihara kepentingan kita bersama, dengan tidak pandang bulu, bahasa, bangsa maupun agama.”

“Seandainya kepentingan yang kita perjuangkan bersama itu sampai terancam oleh sesuatu pengaruh atau bahaya dari luar, maka kita akan berdiri serempak untuk berjuang menghalau bahaya yang mengancam kita,” lanjut Tjokroaminoto seperti dinukil Ridwan Saidi dalam Islam dan Nasionalisme Indonesia (1995: 112).


Penantian Tiga Dekade

Tidak terjadi apa-apa terhadap Tjokroaminoto setelah seruan yang sebenarnya membahayakan itu. Pemerintah kolonial tampaknya telah memperhitungkan dampaknya jika Tjokroaminoto diusik. Ia adalah tokoh pribumi paling berpengaruh yang bisa saja menggerakkan rakyat untuk melakukan perlawanan.

Pemerintah kolonial memilih bersikap lunak terhadap Tjokroaminoto dan SI, merangkulnya untuk masuk ke jajaran anggota dewan atau Volksraad, meskipun di forum-forum parlemen tetap saja Tjokroaminoto bersuara lantang.

Namun, seruan zelfbestuur yang diteriakkan Tjokroaminoto tidak pernah terwujud hingga ia menutup mata untuk selama-lamanya pada 1934. SI awalnya disibukkan oleh kisruh internal, yang kemudian melahirkan sempalan kiri bernama PKI. Selanjutnya, SI malah ikut larut dalam ingar-bingar politik kolonial.


Nyaris tiga dekade berselang sejak Tjokroaminoto pertama kali melantangkan wacana zelfbestuur, atau 11 tahun setelah wafatnya, Sukarno—murid dan menantu kebanggaannya itu—menyatakan proklamasi kemerdekaan atas nama rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sukarno, juga Mohammad Hatta, boleh-boleh saja menyandang gelar sebagai proklamator. Tapi Tjokroaminoto adalah penggagas ide awal kemerdekaan Indonesia kendati ia tidak sempat merasakan kehidupan di masa-masa berdaulat.

Baca juga artikel terkait HARI KEMERDEKAAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight