Menuju konten utama

Saat Ramai di Tanah Abang Tak Berarti Daya Beli Aman

Di banyak tempat dan pusat perbelanjaan, ramainya pengunjung tak selalu berbanding lurus dengan omzet.

Saat Ramai di Tanah Abang Tak Berarti Daya Beli Aman
Kerumunan pengunjung memadati lorong Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

tirto.id - Karung-karung berisi gamis masih terikat rapi di depan kiosnya di Blok A Tanah Abang. Di atas salah satunya, Deni (37) duduk santai sambil menggulir layar ponsel. Selasa (10/3/2026) siang itu, lorong pasar yang biasanya hiruk-pikuk justru terasa longgar. Orang tetap lalu-lalang, tetapi jarang yang berhenti untuk membeli.

Padahal, bulan Ramadan biasanya menjadi musim panen bagi pedagang grosir seperti Deni. Menjelang Lebaran, ia dulu hampir tak sempat duduk. Pembeli datang bergelombang, membuatnya harus melayani transaksi tanpa jeda, bahkan sekadar untuk membatalkan puasa.

Tahun ini ceritanya berbeda. Omzet yang dulu bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per hari menjelang Lebaran kini merosot tajam. Deni mengatakan, belakangan ini ia hanya bisa membawa pulang sekitar Rp3 juta sehari. Waktu luang yang dulu nyaris tak ada kini justru melimpah—bahkan cukup untuk bermain catur dengan pedagang di kios sebelah.

Pasar Tanah Abang

Deretan pakaian yang digantung berdampingan dengan tumpukan karung stok yang belum terjual di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (10/3/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Gambaran sepi yang dirasakan Deni itu terdengar janggal jika dibandingkan dengan kesimpulan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sehari sebelumnya, sang bendahara negara datang ke Tanah Abang untuk meninjau kondisi pasar yang disebut sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu.

Di hadapan wartawan, Purbaya menyatakan daya beli masyarakat masih aman. Ia menilai ekonomi Indonesia jauh dari ancaman krisis, sementara wacana resesi disebutnya sekadar spekulasi. Dasar pengamatannya sederhana: kerumunan orang yang ia lihat saat tiba di pasar tersebut.

Namun bagi Deni, kerumunan yang dilihat Menteri Purbaya bukanlah sinyal ekonomi yang meroket, melainkan kerumunan orang penasaran ingin melihat pejabat. "Mungkin lihat orang kumpul buat foto, tapi Pak Purbaya tidak lihat kenyataannya yang terjadi," ucapnya, saat ditemui Tirto.

Nasib serupa dialami Desi (43), pedagang jilbab di salah satu kios Blok B Tanah Abang. Ia mempertanyakan klaim pemerintah bahwa daya beli masyarakat masih aman. Menurutnya, ramainya lalu-lalang pengunjung di pasar tidak selalu berbanding lurus dengan penjualan.

Beberapa pelanggan memang datang ke tokonya. Namun, kebanyakan hanya memegang bahan, menanyakan harga, lalu pergi tanpa membeli. Desi merasa terjepit di antara harga kain yang terus merangkak naik dan daya beli pembeli yang stagnan.

"Lebaran tahun ini rasanya cuma bertahan hidup buat modal bisa muter lagi, karena untung kami sudah habis buat bayar sewa lapak," kata Desi, yang mengaku tetap mempertahankan harga murah agar pembeli tidak kabur, meski margin keuntungannya kini nyaris hanya cukup menutup biaya operasional.

Keluhan serupa disampaikan Rizaludin (48), pedagang celana jeans yang berjualan di emperan Pasar Tanah Abang. Ia punya istilah sendiri untuk menggambarkan kondisi pasar saat ini. "Kalau dibilang ekonomi stabil ya stabil sepinya mas," keluh Rizal, Selasa (10/3/2026).

Menurut Rizal, klaim bahwa daya beli masyarakat masih kuat tidak terasa di lapangan. Pembeli memang datang, tetapi kebanyakan hanya melihat-lihat tanpa melakukan transaksi.

Di sisi konsumen, narasi bahwa kondisi ekonomi baik-baik saja juga terasa jauh dari kenyataan bagi Dita (45), ibu rumah tangga asal Tangerang Selatan, yang sedang berburu baju anak.

Pasar Tanah Abang

Kerumunan pengunjung memadati lorong Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Ia menjadi representasi dari keluarga yang harus melakukan akrobat keuangan demi membeli pakaian Lebaran. Menurut Dita, daya beli mungkin terasa aman bagi mereka yang gajinya naik setiap bulan. Namun, bagi keluarganya, pendapatan suami tidak lagi cukup karena harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.

"Uang buat baju Lebaran tahun ini kepotong banyak buat stok beras sama minyak goreng yang harganya tidak turun-turun padahal saya sudah keliling pasar buat cari harga paling murah," tutur Ratna dengan wajah lelah.

Biasanya, aku Dita, ia membelikan anak dua pasang baju Lebaran, tetapi tahun ini satu pasang saja sudah cukup karena ia harus mencari yang paling murah demi memenuhi kebutuhan makan harian.

Cerita berbeda datang dari Dika Shafitri (22), seorang karyawan muda yang berkunjung ke Pasar Tanah Abang. Ia mengaku datang hanya untuk melakukan "survei": mengecek bahan dan model pakaian secara langsung sebelum membeli lewat aplikasi belanja daring demi mendapatkan harga promo.

Menurut Dika, selisih harga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu cukup berarti untuk menghemat ongkos kerja keesokan harinya.

"Saya lebih pilih beli lewat aplikasi online shop karena ada kupon diskon dan saya tidak perlu keluar ongkos transportasi lagi untuk angkut barang yang berat," jelas Dika sembari memotret model pakaian yang diincarnya sebagai referensi belanja online.

Keramaian di pasar Tanah Abang, atau pusat perbelanjaan lainnya, memang tak bisa jadi indikator daya beli. Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan, lemahnya ekspektasi konsumsi masyarakat bahkan tak berpengaruh pada jumlah orang yang mendatangi gerai ritel. Itu sebabnya, muncul fenomena yang disebut Rojali dan Rohana—akronim dari "rombongan jarang beli" dan "rombongan hanya lihat-lihat"

Sementara pelemahan daya beli, dapat tergambar salah satunya dari hasil survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia. Mengacu pada sigi tersebut, BI melaporkan bahwa IKK Februari 2026 turun menjadi 125,2 dari level 127,0 di Januari.

Meski IKK di atas 100 masih tergolong sebagai indikator "optimisme" konsumen, survei tersebut menunjukan adanya penurunan salah satu variabel, yakni indeks ekspektasi konsumen (IEK)—dari 138,8 menjadi 134,4. Sedangkan variabel lainnya, yakni indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE), hanya naik tipis dari 115,1 menjadi 115,9.

“Jadi ada problem, memang konsumen ini mengalami tekanan ke daya beli," ujarnya kepada Tirto.

Sementara jika diperinci lebih jauh, merosotnya IEK disebabkan oleh seluruh variabel yakni indeks ekspektasi penghasilan (146,0 menjadi 140,7), ekspektasi ketersediaan lapangan kerja (135,1 menjadi 131,7) dan ekspektasi kegiatan usaha (135,3 menjadi 130,9).

Indeks ekspektasi penghasilan, yang mengalami penurunan terparah terekam terutama pada responden di semua kelompok pengeluaran.

"Antara 1 sampai 2 juta turun, 2 sampai 3 juta turun, sama di atas 5 juta juga turun. Saya kira ini tergambar bahwa memang ada problem daya beli kita. Sempat naik di awal tahun, tapi sekarang sudah mulai melemah,” jelas Ahmad.

Tak hanya keyakinan konsumen, tekanan daya beli masyarakat juga dapat berpangkal pada tingginya indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi. Sebabnya jelas, berdasarkan rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Februari 2026 telah mencapai level 4,76 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Angka ini dinilai sangat berat bagi sebagian besar masyarakat kelas menengah bawah, yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk konsumsi. Pasalnya, tingginya IHK berasal dari kenaikan komponen harga bergejolak (volatile food) yang mencakup berbagai kebutuhan pokok.

Alhasil, belanja kebutuhan tersier seperti pakaian akan mulai dikurangi ketika harga-harga barang harian mengalami lonjakan.

“Kenaikan harga bahan bahan pokok ini cukup berat dihadapi oleh mereka,” kata Tauhid Ahmad.

Meski demikian, Ahmad berpendapat bahwa perbaikan daya beli masih dimungkinkan sepanjang program bantuan sosial pemerintah bisa berjalan lebih luas dan menjangkau masyarakat yang terdampak langsung.

“Saya kira bisa dimungkinkan sepanjang bantuan sosial dari pemerintah itu jalan, program bantuan sosial bisa lebih besar jangkauannya dan lebih luas. Kemudian tidak ada menunda kenaikan beberapa harga yang diatur pemerintah, misalnya kenaikan bensin. Kalau nanti gara-gara perang di Timur Tengah harga bensin naik, kemungkinan daya belinya akan merosot lagi,” pungkas Tauhid.

===============

Hanang Septioyudho berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.

Baca juga artikel terkait DAYA BELI LEMAH atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - News Plus
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Hendra Friana