Menuju konten utama

Rugi Rp136 Miliar, GS Supermarket Akan Dicaplok Investor Lokal

GS Supermarket disebut akan diambl alih investor lokal usai mengumumkan tutup pada 31 Mei 2025. Dua tahun terakhir, ritel asal Korsel ini merugi.

Rugi Rp136 Miliar, GS Supermarket Akan Dicaplok Investor Lokal
Pengunjung berbelanja di GS Supermarket, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Jumat (9/5/2025). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/Spt.

tirto.id - Jaringan ritel modern asal Korea Selatan, GS Supermarket, dikabarkan akan diambil alih oleh investor lokal usai mengumumkan penutupan gerainya pada 31 Mei 2025. Hal tersebut disampaikan Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah.

“Betul diambil investor baru. Ritel lokal yang ambil, per Juni (2025) sudah buka,” ujar Budi melalui pesan singkat kepada Tirto, Senin (19/5/2025).

Namun, dia enggan berbicara banyak terkait siapa investor lokal itu. Nantinya, investor lokal itu akan diumumkan saat Juni 2025 mendatang. “Tunggu saja Juni 2025,” ucapnya.

Sebagai informasi, GS Supermarket dikelola oleh PT GS Retail Indonesia, anak perusahaan dari GS Retail Co., Ltd. Mengutip laporan keuangan perusahaan, GS Retail Indonesia mencatatakan rugi dua tahun berturut pada 2023 dan 2024 masing-masing sebesar 4,39 miliar Won Korea dan 11,56 miliar Won Korea atau setara Rp52,08 miliar dan Rp136,55 miliar (kurs Rp11,84 per Won Korea)

Dihubungi terpisah, Staf Ahli Hippindo Yongky Surya Susilo menyatakan, perusahaan retail asal Korea Selatan ini akan berganti dengan nama baru usai diambil alih. "Akan banyak memutuskan untuk berhenti beroperasi," ujarnya saat dikonfirmasi mengenai kabar penutupan GS Supermarket kepada Tirto, Senin (19/5/2025).

Menurut Yongky, pertumbuhan ritel untuk kebutuhan sehari-hari di Indonesia memang dalam kondisi penurunan dan membuat sejumlah ritel terpaksa harus memberhentikan operasional tokonya.

High cost ekonomi juga semakin buruk dengan premanisme dan pungli. Jadi untuk pemain ritel, situasi ini sangat menekan dan mencekik,” kata Yongky.

Yongky menjelaskan bahwa pertumbuhan toko ritel yang fokus pada produk bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari juga relatif rendah sejak 2013, demikian pula dengan pertumbuhan ritel Indonesia yang rata-rata hanya 4,9 persen.

Rendahnya laju bisnis ritel juga terkonfirmasi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di kisaran 5 persen, dan kurang memberikan stimulus pada bisnis ritel. Padahal, dengan pertumbuhan populasi 1,5 persen, serta tingkat inflasi yang rata-rata mencapai 2,5 hingga 3,5 persen, Indonesia membutuhkan pertumbuhan di atas 6 persen agar konsumsi membaik.

“Daya beli turun dengan indikator sama: volume penjualan barang konsumsi komoditas turun, seperti rokok, air minum, susu, dan lain-lain. Terjadi down trade, konsumen membeli produk-produk lebih murah. Mengurangi kunjungan belanja, dan lain-lain,” kata Yongky.

Bahkan, dia menyebut pertumbuhan ritel saat Lebaran 2025 menurun apabila dibandingkan tahun 2024 sehingga berdampak pada pertumbuhan penjualan ritel. “Ritel hanya bertumbuh jika ekspansi sama store growth bertumbuh tipis bahkan negatif. Sedangkan cost naik. Gaji, rental, produk-produk, logistik,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait RETAIL atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Hendra Friana