tirto.id - GS Supermarket akan menutup seluruh gerainya yang ada di Indonesia pada 31 Mei 2025 mendatang. Perusahaan retail asal Korea Selatan ini, dikabarkan akan diambil alih oleh perusahaan atau investor dalam negeri dan akan berganti dengan nama baru.
"Akan banyak memutuskan untuk berhenti beroperasi," ujar Staf Ahli Himpunan Ritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Yongky Surya Susilo, saat dikonfirmasi mengenai kabar penutupan GS Supermarket kepada Tirto, Senin (19/5/2025).
GS Supermarket adalah jaringan ritel modern asal Korea Selatan yang dikelola oleh PT GS Retail Indonesia, anak perusahaan dari GS Retail Co., Ltd. Dikutip dari laman GS Supermarket, GS Retail, GS Supermarket diluncurkan sejak 1974 yang mulanya bernama Lucky Superchain Co., Ltd., LG. saat diluncurkan.
Pada 2019, perusahaan tersebut melakukan rebranding bersama GS The Fresh yang dilakukan untuk transformasi GS Group menjadi retail modern dengan pasar gaya hidup sehat. Adapun saat ini GS Retail dipimpin oleh Direktur Utama (Dirut), Suhong Hur sejak akhir 2024.
GS Supermarket pertama kali masuk Indonesia pada 7 Oktober 2016 di Legenda Wisata, Cibubur. Total terdapat delapan gerai GS Supermarket di Indonesia yang berlokasi beberapa wilayah, yakni Legenda Wisata, Cibubur; Jatiasih; Cipondoh; Kemang Pratama; Jatibening; Mampang; Tajur; serta Flavor Bliss, Alam Sutera.
Yongky melihat bahwa kondisi pertumbuhan ritel untuk kebutuhan sehari-hari di Indonesia kondisinya memang tengah menurun. Penurunan tersebut membuat sejumlah ritel terpaksa harus memberhentikan operasional tokonya.
“High cost ekonomi juga semakin buruk dengan premanisme dan pungli. Jadi untuk pemain ritel, situasi ini sangat menekan dan mencekik,” kata Yongky.
Yongky menjelaskan bahwa pertumbuhan toko ritel yang fokus pada penjualan produk bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari di Indonesia sangat rendah sejak 2013, yang mana menyebabkan harga-harga komoditas terjun bebas. Pun secara pertumbuhan ritel Indonesia rata-rata nasional hanya 4,9 persen.
Hal tersebut terefleksi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya tumbuh 5 persen, yang mana sangat tidak baik untuk industri ritel. Hal itu karena populasi tumbuh 1,5 persen, serta tingkat inflasi yang rata-rata mencapai 2,5 hingga 3,5 persen. Sedangkan, Indonesia membutuhkan pertumbuhan di atas 6 persen agar konsumsi membaik.
“Daya beli turun dengan indikator sama: volume penjualan barang konsumsi komoditas turun, seperti rokok, air minum, susu, dan lain-lain. Terjadi down trade, konsumen membeli produk-produk lebih murah. Mengurangi kunjungan belanja, dan lain-lain,” kata Yongky.
Bahkan, dia menyebut pertumbuhan ritel saat Lebaran 2025 menurun apabila dibandingkan tahun 2024 sehingga berdampak pada pertumbuhan penjualan ritel. “Ritel hanya bertumbuh jika ekspansi sama store growth bertumbuh tipis bahkan negatif. Sedangkan cost naik. Gaji, rental, produk-produk, logistik,” ujarnya.
Untuk itu Hippindo berharap ke depan agar pemerintah lebih serius dalam membenahi situasi industri dan ritel di Tanah Air. Ia menilai, kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, pihak swasta, dan para pelaku usaha sangat dibutuhkan demi mendorong kemajuan sektor ini.
"Mudah-mudahan pemerintah serius untuk merubah situasi dan bekerja sama dgn pihak swasta dan pengusaha. Karena indonesia punya kesempatan besar dalam industri dan ritel,” kata Yongky.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































