tirto.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan jumlah pemudik pada Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang. Angka tersebut mengalami penurunan 2,49 juta sekitar 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 146,4 juta orang. Berdasarkan proyeksi Kemenhub, Jawa Tengah diprediksi menjadi daerah tujuan mudik terbesar dengan jumlah pemudik mencapai 38,71 juta orang.
Penurunan jumlah pemudik tersebut dinilai berkaitan dengan kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abdul Manap Pulungan, menilai dampak tambahan konsumsi dari pencairan tunjangan hari raya (THR) pada tahun ini tidak akan terlalu besar terhadap perekonomian.
Ia memperkirakan total THR yang beredar di masyarakat sekitar Rp200 triliun, terdiri dari sekitar Rp45-50 triliun untuk aparatur sipil negara dan sekitar Rp150 triliun untuk pekerja sektor swasta. Nilai tersebut setara dengan sekitar 0,5-0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Namun, menurutnya, besarnya nominal THR tidak serta-merta mendorong lonjakan konsumsi karena daya beli masyarakat telah tergerus inflasi dalam beberapa waktu terakhir.
"THR kemungkinan tidak akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian pada kuartal pertama 2026. Fungsinya lebih untuk menjaga agar daya beli masyarakat tidak turun lebih dalam," ujar Abdul Manap dalam diskusi bertajuk "Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang", dikutip Selasa (10/3/2026),
Ia menambahkan, pola konsumsi selama Ramadan juga tidak merata di semua kelompok masyarakat. Kelas menengah atas cenderung tetap mempertahankan konsumsi tinggi, seperti aktivitas makan di luar atau berkumpul di pusat perbelanjaan. Sementara itu, sebagian besar kelas menengah yang berada di lapisan bawah lebih fokus menjaga konsumsi dasar.
Menurutnya, kelompok masyarakat yang jumlahnya besar justru berasal dari kelas menengah rentan yang pengeluarannya hanya sekitar 2 hingga 5 dolar AS per hari. Kelompok ini masih akan berusaha mempertahankan konsumsi, tetapi dengan sangat terbatas.
Kondisi tersebut membuat tambahan likuiditas dari THR lebih berfungsi sebagai penahan penurunan daya beli ketimbang menjadi pendorong kuat bagi lonjakan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Lebaran.
"Lalau kelas menengah atas itu yang aspire (middle class) itu memang dia akan tetap konsumsi tinggi. Tapi kan mereka tidak banyak ya. yang banyak itu adalah kelas menengah yang hampir miskin," jelasnuya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































