tirto.id - Sudah lebih dari dua dekade Rini mengabdikan dirinya menjadi kader Posyandu di Kecamatan Regol, Kota Bandung. Sejak 2002, beragam fenomena dan kasus dia jumpai di lapangan.
Pekerjaan sukarela itu tak selalu berjalan mulus, apalagi dalam menjalankan program pemenuhan capaian imunisasi. Ada orang tua yang menolak imunisasi karena kekhawatiran soal efek samping hingga adanya keraguan tertentu soal vaksin.
Meski ditolak, Rini dan rekan-rekan kader Posyandu tidak berhenti mendatangi rumah warga. Mereka melakukan sweeping dan kunjungan rumah rutin bersama petugas Puskesmas meski masih diperlakukan sama.
“Tapi tetap jawabannya seperti itu, tetap jawabannya bahwa ayahnya tidak mengizinkan,” kata Rini.
Dalam beberapa kasus, Rini sampai harus meminta bantuan ketua RT agar bisa menemui keluarga anak yang belum diimunisasi.
Kegigihannya sebagai kader Posyandu dalam memberikan imunisasi lengkap pada anak juga kerap dikomentari. Tak jarang orang menganggap dirinya diberi gaji besar dari pekerjaan yang dijalaninya.
“Itulah suka-duka kami selama di lapangan, ada yang menanyakan apakah gajinya besar. Kami itu gajinya alhamdulillah ya, 1.5 S: Sabar, Jujur, Tawakal, dan Terengah-engah,” katanya.
Bagi Rini, menjadi kader Posyandu adalah bagian dari panggilan hati. Kesenangannya saat melihat program imunisasinya berhasil dan edukasinya terserap oleh masyarakat tak bisa terbayarkan oleh uang. Meski kadang dalam perjalanannya, dirinya lah sebagai kader yang harus berkorban.
“Lihat anak-anak sehat, lihat kita. Program imunisasinya berhasil. Sosialisasi dan edukasi dari kita itu dapat terserap oleh mereka sehingga merekanya balik lagi balik lagi ke Posyandu, itu kita bahagia banget,” kata Rini.

Di posyandunya itu Rini membuat program ‘reward’ sederhana berupa sertifikat bagi balita yang melengkapi imunisasi. Reward tersebut dibuat secara swadaya oleh para kader. Mereka bahkan patungan menggunakan uang pribadi untuk membeli hadiah kecil dan mencetak sertifikat bagi anak yang datang imunisasi tepat waktu.
“Seikhlasnya, hitung-hitung sedekah,” kata Rini.
Keinginan Rini tak banyak, dia hanya berharap pemerintah dapat memperbantukan perlengkapan Posyandu agar dapat melayani masyarakat lebih optimal. Demi memberikan pelayanan yang baik, dia juga mengharapkan pelatihan-pelatihan agar dapat bisa lebih mengedukasi masyarakat.
“Kalau bisa difasilitasi seragam,” katanya sambil tertawa
Di wilayahnya, dari total sasaran anak usia 0 hingga 24 bulan, kini tersisa lima anak yang masih masuk kategori zero dose atau belum pernah melakukan imunisasi. Tiga anak dijadwalkan mengikuti imunisasi susulan, sementara dua lainnya masih terkendala izin orang tua.
Ketakutan masyarakat akan imunisasi memang nyata adanya, bagaimana keputusan imunisasi sering kali dipengaruhi rasa takut, pengalaman pribadi, hingga lingkungan keluarga.
Nia misalnya, sempat menghentikan imunisasi anaknya selama bertahun-tahun. Putranya, Kenzi, kini sudah berusia tiga tahun, tetapi baru menerima imunisasi hingga DPT pertama.
“Iya, betul telat,” kata Nia.
Dia mengaku trauma setelah anaknya demam usai imunisasi pertama. Kekhawatiran itu diperkuat oleh larangan dari keluarga akan imunisasi.
Meski belum sepenuhnya hilang, kekhawatiran terhadap meningkatnya kasus penyakit pada anak akhirnya membuat Nia kembali datang ke Posyandu. Dia menyebut akan terus melihat perkembamgan ke depannya meski masih diselimuti dengan rasa takut.
“Paling nanti ditanya dulu kalo disuntiknya,” kata dia.
Berbeda dengan Nia, Ibu Nur tampak tenang menggendong putrinya yang berusia sembilan bulan. Hari itu, anaknya datang untuk imunisasi campak
Ia mengaku tidak pernah ragu membawa anaknya imunisasi. Pengalaman mengimunisasi anak-anak sebelumnya membuatnya yakin vaksin aman diberikan. Menurut Nur, demam setelah imunisasi bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan berlebihan.
“Demam kan biasa cuma DPT aja kalau demam. Tapi kan dikasih obat. Jadi nggak-nggak khawatir yang begitu,” katanya.
Untuk diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatatkan sekitar 2,3 juta anak Indonesia masuk kategori zero-dose atau belum pernah menerima imunisasi sama sekali hingga 2025. Angka tersebut merupakan akumulasi data 2023 hingga 2025.
Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Kementerian Kesehatan, Gertrudis Tandy, menyebut, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia saat ini berada di peringkat keenam negara dengan jumlah anak zero-dose terbanyak di dunia.
“Ini angkanya seperti ini, kita nomor 6 terbanyak di dunia. Ini data dari WHO per yang terakhir gitu ya. Kemudian kalau kita lihat data 2023, 2024, 2025, itu kalau kita akumulasikan sekarang ada sekitar 2,3 juta,” kata Gertudis dalam acara Media Briefing di Kantor UPTD Pelatihan Kesehatan Jawa Barat, Bandung, Senin (11/5/2026) malam.
Meskipun demikian, angka ini bisa berkurang dengan melakukan imunisasi kejar.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































