Menuju konten utama

Rupiah Kembali Melemah, Dibuka Rp17.800 per US$ Hari Ini

Tekanan terhadap rupiah meningkat seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat.

Rupiah Kembali Melemah, Dibuka Rp17.800 per US$ Hari Ini
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda dibuka melemah 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp17.848 per dolar AS di pasar spot.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga ditutup melemah 32 poin ke posisi Rp17.794 per dolar AS.

Sementara itu, di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS cenderung beragam. Won Korea Selatan melemah 0,14 persen, rupee India 0,20 persen, yuan Tiongkok 0,11 persen, ringgit Malaysia 0,27 persen, baht Thailand 0,18 persen, dan peso Filipina 0,18 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, dolar AS melemah terhadap dolar Singapura sebesar 0,08 persen

Analis pasar uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih akan berlanjut. Menurut dia, tekanan terhadap mata uang domestik meningkat seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang masih kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga the Fed paska FOMC. Indeks dolar AS sendiri mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun," katanya saat dihubungi Tirto, Jumat (19/6/2026).

Selain sentimen suku bunga AS, pergerakan rupiah juga dibayangi kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak mentah global yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut masih menjadi perhatian pelaku pasar meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.

Dari dalam negeri, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market dinilai cukup melegakan dan berpotensi menopang pergerakan rupiah. "BI rate sendiri sangat penting untuk mendukung rupiah dan diperkirakan masih akan dinaikkan kedepannya paling tidak 50bps lagi," tambahnya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana