Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp16.802 per Dolar AS Hari Ini

Menguatnya rupiah dinilai karena salah satunya Kemenkeu mencatat bahwa APBN membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun per akhir Januari 2026.

Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp16.802 per Dolar AS Hari Ini
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.802 pada perdagangan hari ini, Senin (23/2/2026). Rupiah menguat 0,51 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.888.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar menguatnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa APBN membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun per akhir Januari 2026.

"Defisit/surplus APBN tersebut setara dengan 0,21 persen dari produk domestik bruto (PDB), devisit tersebut dengan rincian bahwa pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun per Januari 2026," ucapnya dalam keterangan resmi, Senin.

"Realisasi itu setara 5,5 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun," lanjut dia.

Sementara itu, Ibrahim menyebutkan belanja negara sudah mencapai Rp227,3 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun.

Artinya, kata dia, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara. Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen dari PDB. Angka ini dinilai masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.

Ibrahim mengatakan, defisit keseimbangan primer tercatat mencapai Rp4,2 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun.

"Adapun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak ada kenaikan dalam defisit APBN. Pada akhir Januari 2024, defisit APBN mencapai Rp23 triliun atau setara 0,09 persen dari PDB," ucap Ibrahim.

Sementara itu, faktor eksternal menguatnya rupiah, pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda.

Ibrahim menyatakan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat mengatakan ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan bahwa solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka, komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi.

Kemudian, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan aka. mengenakan tarif 10 persen pada pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 UU Perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.

"Pemerintahan kemudian menaikkan tarif menjadi 15%, maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran tentang tindakan balasan dan potensi gangguan pada rantai pasokan global," tutur Ibrahim.

"Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, menambah volatilitas pasar," lanjut dia.

Ibrahim melanjutkan faktor eksternal lain, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal keempat tahun lalu menurun dari 4,4 persen menjadi 1,4 persen secara tahunan yang disebabkan oleh penutupan pemerintah AS selama 43 hari.

Sementara, data PCE inti terbaru semakin memperkuat pandangan bahwa Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga tetap dalam beberapa bulan mendatang. PCE inti tingkat tahunan meningkat menjadi 3,0 persen dari 2,8 persen tetap di atas target 2 persen bank sentral.

Baca juga artikel terkait RUPIAH MENGUAT atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama