Menuju konten utama

Rupiah Sore Ini Ditutup Menguat di Level Rp16.936 per Dolar AS

Penguatan rupiah terdorong oleh langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan.

Rupiah Sore Ini Ditutup Menguat di Level Rp16.936 per Dolar AS
Seorang calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Kupang menerawang uang pecahan Rp100 ribu saat sosialisasi mengenal rupiah dalam Literasi Keuangan Digtital Bagi PMI di Kota Kupang, NTT, Rabu (1/10/2025). Kegiatan yang digelar Bank Indonesia itu bertujuan untuk mengedukasi calon PMI NTT agar paham tentang keaslian uang rupiah sehingga tidak mudah ditipu saat bekerja di dalam maupun luar negeri. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/sgd/tom.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.936 pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026). Rupiah menguat sebesar 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.956.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah terdorong oleh langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level L 4,75 persen pada RDG BI 20-21 Januari 2026.

Kebijakan tersebut berdampak positif, dimana pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat ke level Rp16.936 per dolar AS.

Keputusan BI, kata Ibrahim, merupakan langkah konsisten untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter dan makroprudensial.

"Keputusan ini konsisten menjaga Rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).

Dia juga menyoroti bahwa meski suku bunga ditahan, ruang untuk pelonggaran moneter tetap terbuka. BI telah menegaskan bahwa penurunan suku bunga dimungkinkan dengan catatan inflasi tahun ini terkendali di sekitar sasaran 4,5 persen plus minus 1 persen.

Kebijakan moneter yang stabil ini berjalan beriringan dengan langkah fiskal ekspansif pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya menegaskan bahwa pelebaran defisit APBN 2025 menjadi 2,92 persen adalah kebijakan kontra-siklus yang disengaja untuk memacu pemulihan ekonomi.

"Kebijakan ini diambil sebagai strategi countercyclical guna membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang tahun 2025," jelas Ibrahim.

Dia menilai, intervensi fiskal dinilai penting untuk menghidupkan sisi permintaan dan penawaran domestik, serta mencegah risiko krisis. Purbaya optimistis langkah ini akan membawa perekonomian ke prospek yang lebih baik.

Di sisi eksternal, ketegangan geopolitik dan perdagangan global masih menjadi faktor risiko. Ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa terkait isu Greenland serta penundaan paket bantuan ekonomi untuk Ukraina menambah ketidakpastian pasar keuangan dunia.

Presiden AS Donald Trump bersikeras pada sikapnya mengenai Greenland dan mengancam tarif terhadap negara-negara Eropa. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan Eropa tidak akan tunduk pada tekanan.

“Trump berusaha menenangkan kekhawatiran dengan mengatakan AS sedang mengupayakan solusi atas masalah ini dan bertujuan untuk mencapai hasil yang memuaskan NATO, tetapi investor tetap berhati-hati,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto