Menuju konten utama

Rupiah Melemah Pagi Ini, Makin Dekat ke Rp17.000 per Dolar AS

Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia dan Eropa terpantau bervariasi pada perdagangan pagi ini.

Rupiah Melemah Pagi Ini, Makin Dekat ke Rp17.000 per Dolar AS
Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah alami pelemahan ke level Rp16.997 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1/2026) pukul 09.00 WIB. Mengutip dari Bloomberg, nilai tukar rupiah semakin mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Pada pagi ini, rupiah melemah sebesar 42,00 poin atau 0,25 persen dari level Rp16.955 pada penutupan hari sebelumnya, Senin (19/1/2026). Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia terpantau bervariasi pada perdagangan pagi ini.

Yen Jepang (JPY), terpantau menguat 0,03 persen, dolar Hongkong (HKD) melemah 0,01 persen, dolar Singapura (SGD) melemah 0,06 persen, dolar Taiwan (TWD) melemah 0,19 persen, dan Won Korea (KRW) melemah 0,36 persen.

Sedangkan, Peso Filipina (PHP) melemah 0,01 persen, Rupee India (INR) melemah 0,05 persen, Yen Cina (CNY) menguat 0,04 persen, Ringgit Malaysia (MYR) menguat 0,05 persen, dan Bath Thailand (THB) melemah 0,08 persen.

Di sisi lain, nilai tukar mata uang negara-negara Eropa juga terpantau bervariasi terhadap dolar. Euro (EUR), terpantau mengalami penurunan 0,04 persen, Pound Sterling (GBP) menguat 0,03 persen, Franc Swiss (CHF) melemah 0,01 persen, Krona Swedia (SEK) melemah 0,01 persen, Kron Denmark (DKK) melemah 0,04 persen.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan rupiah berasal dari kombinasi penguatan dolar AS di panggung global dan kekhawatiran pasar terhadap prospek fiskal Indonesia. Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen pasar global didominasi oleh penguatan indeks dolar AS. Penguatan ini dipicu dua faktor utama.

Pertama, eskalasi ketegangan perdagangan. Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru pada delapan negara Eropa sehingga meningkatkan kekhawatiran akan perang dagang yang lebih luas.

"Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas," ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Kedua, data ekonomi AS yang kuat, khususnya di pasar tenaga kerja, membuat pasar mempertanyakan agresivitas pemotongan suku bunga The Fed.

"Pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," tambah Ibrahim.

Di sisi domestik, sentimen terhadap rupiah dibebani oleh kekhawatiran kesehatan fiskal. Terungkapnya defisit anggaran 2025 yang mendekati batas hukum 3 persen di tengah penerimaan negara yang masih lemah memicu kewaspadaan investor.

"Kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah," katanya.

Meski Bank Indonesia (BI) aktif melakukan intervensi di pasar untuk membatasi volatilitas, efektivitasnya dianggap terbatas.

“Toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," jelasnya.

BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan mendatang untuk menopang rupiah. Upaya pemerintah memperketat pengelolaan devisa ekspor juga dinilai bisa memberikan bantalan.

Namun, kekhawatiran utama tetap menganga. Ibrahim memperingatkan risiko defisit fiskal tahun ini yang berpotensi melebar melampaui batas 3 persen, seiring rencana peningkatan belanja pemerintah di tengah tekanan penerimaan.

Kombinasi faktor eksternal yang keras dan kerentanan fiskal domestik ini terus membayangi pergerakan rupiah ke depan.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi