Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Menguat Hari Ini ke Level Rp16.759 per Dolar AS

Menurut pengamat mata uang, menguatnya rupiah karena pasar menilai positif tentang putusan MA AS yang membatalkan sebagian kebijakan tarif Donald Trump.

Rupiah Ditutup Menguat Hari Ini ke Level Rp16.759 per Dolar AS
Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.759 pada perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2026). Rupiah turun sebesar 40,5 poin atau 0,24 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.800.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan menguatnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal, pasar menilai positif tentang putusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) yang membatalkan sebagian kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump langsung direspons Pemerintah RI.

Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya mengkaji seluruh potensi risiko pasca-keputusan tersebut, terutama terhadap implementasi perjanjian dagang Indonesia–AS.

"Pemerintah memastikan, meski ada perubahan dalam kebijakan tarif Trump, perjanjian dagang Indonesia–AS tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah disepakati karena perjanjian bilateral memiliki mekanisme tersendiri," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.

Namun, Ibrahim mengatakan Pemerintah RI menilai kebijakan tarif 10 persen yang berlaku sementara selama 150 hari relatif lebih baik dibandingkan skenario sebelumnya.

Selain itu, akan ada pembedaan perlakuan antara negara yang telah menandatangani perjanjian dan yang belum. Diplomasi dan negosiasi disebut akan terus dilakukan secara adaptif dengan menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama.

"Pemerintah memastikan implementasi perjanjian perdagangan tetap memberi manfaat konkret bagi stabilitas ekonomi dan daya saing nasional di tengah dinamika global, termasuk perubahan arah kebijakan tarif Trump," kata Ibrahim.

Ia melanjutkan faktor eksternal melemahnya rupiah, pasar mengamati perkembangan diplomatik saat pejabat AS dan Iran bersiap untuk bertemu di Jenewa, Swiss untuk membahas kembali program nuklir Teheran.

Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan para pejabat Iran di Jenewa pada Kamis sore, saat Washington berupaya mencapai kesepakatan mengenai program nuklir dan rudal balistik Teheran.

Ibrahim mengatakan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah mengisyaratkan resolusi diplomatik masih dapat dicapai, jika kedua belah pihak berkomitmen untuk keterlibatan yang konstruktif.

"Presiden Donald Trump mengatakan bahwa hal-hal buruk dapat terjadi jika kemajuan yang berarti tidak tercapai. Kemudian, pasar menilai dampak dari tarif AS yang baru diumumkan setelah putusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini yang mengubah kerangka hukum untuk beberapa langkah perdagangan," ucapnya.

"Pengenalan bea masuk global baru hingga 15 persen telah menambah ketidakpastian atas prospek perdagangan global. Selian itu, pasar telah mengurangi ekspektasi terhadap pemotongan suku bunga Federal Reserve [Fed] dalam waktu dekat karena para pembuat kebijakan terus menyampaikan kekhawatiran atas tekanan inflasi yang terus berlanjut," lanjut dia

Ibrahim berujar Presiden Fed Chicago, Austin Goolsbee telah mengatakan bahwa ia berhati-hati dalam melakukan pemotongan suku bunga tanpa bukti yang jelas bahwa inflasi secara berkelanjutan kembali menuju target dua persen.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama