Menuju konten utama

Nilai Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp16.807 per Dolar AS

Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia terpantau kebanyakan melemah pada perdagangan pagi ini.

Nilai Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp16.807 per Dolar AS
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp16.807 per dolar AS pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Mengutip dari Bloomberg, rupiah naik 30 poin dari level Rp16.777 pada penutupan hari sebelumnya, Rabu (4/2/2026).

Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia terpantau kebanyakan melemah pada perdagangan pagi ini. Yen Jepang (JPY) terpantau melemah 0,03 persen, dolar Hongkong (HKD) menguat 0,03 persen, dolar Singapura (SGD) melemah 0,02 persen, dolar Taiwan (TWD) melemah 0,2 persen, Won Korea (KRW) melemah 0,19 persen.

Lalu, Peso Filipina (PHP) menguat 0,26 persen, Rupee India (INR) melemah 0,17 persen, Yen Cina (CNY) melemah 0,04 persen, Ringgit Malaysia (MYR) melemah 0,26 persen, dan Bath Thailand (THB) melemah 0,05. persen.

Di sisi lain, mata uang negara-negara Eropa terpantau bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Mata uang Euro (EUR) menguat 0,08 persen, Pound Sterling (GBP) menguat 0,11 persen, Franc Swiss (CHF) stagnan, Krona Swedia (SEK) melemah 0,07 persen, Kron Denmark (DKK) melemah 0,10 persen.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan nilai rupiah memang diperkirakan melemah pada penutupan perdagangan Rabu kemarin.

"Sedangkan, untuk perdagangan besok [hari ini], mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp16.770-Rp.16.800," ucapnya dalam keterangan yang diterima Tirto.

Ibrahim menyebutkan pelemahan rupiah ini disebabkan dua faktor. Faktor eksternal, kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, setelah militer AS menembak jatuh drone Iran yang "secara agresif" mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden tersebut terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah tinggi, dengan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan potensi serangan militer terhadap Republik Islam Iran.

"Sementara itu, Iran menuntut agar pembicaraan dengan AS minggu ini berlangsung di Oman, bukan di Turki, dan agar ruang lingkupnya dibatasi hanya pada percakapan dua arah mengenai isu nuklir yang memperumit upaya diplomatik yang sudah rumit. Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar negosiasi AS-Iran," ujarnya.

Selain itu, data manufaktur AS yang telah memperkuat pandangan bahwa The Fed mampu bersabar sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Institute for Supply Management (ISM) melonjak menjadi 52,6 pada Januari 2026 dari 47,9 pada Desember 2025—jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 48,5. Sementara, PMI Manufaktur Global S&P sedikit meningkat menjadi 52,4 dari 51,9.

Ibrahim berujar, saat ini para pedagang menurunkan ekspektasi atas penurunan suku bunga The Fed setelah The Fed memutuskan suku bunga tidak berubah pada pertemuannya di Januari dan penunjukan Warsh oleh Presiden AS Donald Trump.

Lalu, faktor internal, Bank Dunia menilai Indonesia sulit keluar dari jebakan status negara berpendapatan menengah atau midlle income-trap jika tidak melakukan reformasi struktural yang lebih dalam pada iklim usaha dan investasinya.

"Meskipun, Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan dan menunjukkan kinerja ekonomi yang cukup baik. Pasalnya, masih terdapat sejumlah tantangan mendasar, terutama terkait kualitas lingkungan usaha," sebut Ibrahim.

"Persoalan tersebut sangat krusial karena Indonesia, seperti negara lain pada tingkat pendapatan yang sama, harus beralih ke mesin pertumbuhan baru. Model pertumbuhan yang membawa Indonesia ke posisi saat ini dinilai tidak lagi memadai untuk mendorong ekonomi menuju level pendapatan tinggi," sambungnya.

Menurut Ibrahim, pendorong pertumbuhan ke depan harus semakin bersifat endogen, berfokus pada produktivitas, serta memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan inovasi.

Berdasarkan analisis World Bank terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia, ditemukan bahwa ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan kurang produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa namun berpendapatan lebih tinggi.

Kemudian, produktivitas perusahaan di Indonesia tidak meningkat seiring dengan pertumbuhan skala usahanya. Temuan tersebut mengarah pada perlunya perbaikan lingkungan persaingan usaha.

"Tantangan tidak hanya terletak pada hambatan regulasi, tetapi juga pada penegakan kesetaraan kesempatan berusaha [level playing field] yang konsisten. Kondisi ini turut berdampak pada sektor keuangan, serta pasar jasa dan industri perngolahan," sebut Ibrahim.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi