tirto.id - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (26/1/2026) dibuka menguat di level Rp16.784 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya yang berada di posisi Rp16.820 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.27, secara bertahan rupiah menunjukkan penurunan 59 poin atau 0,35 persen hingga mencapai posisi Rp16.761 per dolar AS.
Tekanan jual terlihat cukup dominan pada paruh awal sesi, tercermin dari penurunan tajam hingga mendekati level terendah harian di 16.755.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi penguatan rupiah pada perdagangan pagi ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar, di tengah langkah Bank Indonesia (BI) yang terus menjaga stabilitas nilai tukar di pasar valuta asing.
Pada hari ini mata uang Garuda diperkirakan bakal fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp16.820-Rp16.850. Sedangkan, dalam sepekan ke depan nilai tukar rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp16.790-Rp17.000.
Sementara itu, sebelumnya Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menilai, pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. "Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru," jelas Ibrahim, dalam risetnya, dikutip Senin (26/1/2026).
Karena itu, untuk mengelola volatilitas nilai tukar rupiah, BI telah menerapkan intervensi valuta asing (foreign exchange intervention/FXI). Sementara, IMF menilai intervensi seharusnya dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri.
"Namun demikian, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur," tambah Ibrahim.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






































