tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.944 pada perdagangan hari ini, Kamis (11/6/2026). Rupiah melemah 44,5 poin atau 0,25 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.899,5.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal melemahnya rupiah, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan defisit APBN 2026 akan melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal, yaitu 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah. Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB. Angka proyeksi defisit 3 persen pada 2026 ini juga tercatat meningkat dibandingkan dengan realisasi defisit pada 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB," tuturnya dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026).
"Adapun, pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh tekanan harga komoditas global," lanjut dia.
Ibrahim menyatakan, harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB melalui peningkatan belanja subsidi BBM, jika penahanan harga BBM bersubsidi dipertahankan.
Di satu sisi, OECD mencatat Pemerintah RI telah memberi sinyal kuat untuk mempertahankan defisit tetap berada di bawah pagu aman 3 persen dari PDB.
Ibrahim mengatakan, untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah diyakini harus mengambil langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB. Langkah tersebut termasuk pemangkasan pengeluaran di sektor lain serta potensi pengenaan pajak durian runtuh atau windfall taxes kepada eksportir komoditas unggulan Tanah Air.
"Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke level 4,7% pada 2026, sebelum kembali pulih ke level 5,0 persen pada 2027. Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi, di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja," urainya.
Sementara itu, Ibrahim mengatakan, laju inflasi diproyeksikan akan merangkak naik ke posisi 3,4 persen pada 2026. Kenaikan ini disebut dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi.
Ia melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah, komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial. Iran turut mengatakan setiap kapal yang mencoba lewar akan ditembak.
Blokade Iran selama berbulan-bulan terhadap selat tersebut telah membuat harga minyak tetap tinggi.
Namun, militer AS mengatakan, kapal komersial terus melintas masuk dan keluar dari selat tersebut. Mereka juga mengatakan tidak ada kapal perang AS yang terkena serangan di selat tersebut."Selain itu, data menunjukkan harga konsumen AS naik 4,2 persen pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, laju tercepat dalam tiga tahun, sebagian besar didorong oleh biaya energi yang lebih tinggi," tuturnya.
"Laporan inflasi memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dan bahkan dapat melanjutkan pengetatan kebijakan moneter akhir tahun ini jika tekanan harga terus berlanjut," lanjut Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id







































