tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.944 pada perdagangan hari ini, Rabu (10/6/2026). Rupiah menguat 114 poin atau 0,63 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp18.058.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, menguatnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal menguatnya rupiah, pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi 5,5 persen.
"Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga obligasi 7,4 persen sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara [SUN]," tuturnya dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).
Ia menyatakan, kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara BPI Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru.
Kata Ibrahim, kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir.
"Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi," ucapnya.
Ibrahim melanjutkan, faktor eksternal menguatnya rupiah, AS melancarkan serangan baru terhadap target Iran setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Hal ini dinilai kembali memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.
Di satu sisi, Iran mengaku menargetkan pangkalan AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai tanggapan atas serangan AS. Eskalasi terbaru ini disebut mengancam menggagalkan kemajuan sementara menuju de-eskalasi setelah Iran dan Israel sepakat menghentikan serangan.
Sementara itu, para pedagang disebut sempat menafsirkan jeda dalam permusuhan sebagai tanda bahwa konflik mungkin bergerak menuju resolusi diplomatik, yang memicu aksi jual minyak mentah.
"Perhatian tetap terfokus pada Selat Hormuz, jalur penting untuk pasokan energi global yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Meskipun, Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Teluk telah membaik dalam beberapa pekan terakhir, ia memperingatkan bahwa aliran energi masih di bawah normal dan mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya," urai Ibrahim.
Ia menyebutkan, harga minyak naik sekitar 1 persen. Hal ini dinilai menambah kekhawatiran biaya bahan bakar yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve.
Kata Ibrahim, prospek inflasi mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga AS. Lebih dari 70 persen pelaku pasar diklaim memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada Desember 2026.
Ia menambahkan, imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir sementara dolar tetap kuat menjelang laporan inflasi.
"Investor mengamati dengan saksama data CPI untuk melihat tanda-tanda apakah tekanan inflasi meningkat. Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan akan naik menjadi sekitar 4,2 persen pada Mei," tutur Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id






































