tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp18.058 pada perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2026). Rupiah menguat 129,5 poin atau 0,71 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp18.187,5.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, menguatnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal menguatnya rupiah, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya penyusutan pada posisi cadangan devisa negara menjadi 144,9 miliar dolar AS per akhir periode bulan Mei 2026.
"Terjadi penurunan sebesar US$1,3 miliar jika dibandingkan dengan April 2026 yang mencatatkan level 146,2 miliar dolar AS," ucapnya dalam keterangan resmi, Selasa (9/6/2026).
Ibrahim menyatakan, penurunan ini didominasi oleh kewajiban pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi cadev ini menjadi yang terendah sejak Juli 2024.
Selain itu, Ibrahim menuturkan, pemerintah memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.200 per dolar AS dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Katanya, salah satu pertimbangan pemerintah menyiapkan stimulus adalah untuk menjaga daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat berbagai gejolak ekonomi.
Selain stimulus ekonomi, pemerintah disebut akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC) yang belakangan menjadi perhatian sebagai salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional.
"Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan," urainya.
"Koordinasi tersebut telah dilakukan sejak akhir pekan lalu melalui pembahasan bersama Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal," sambung dia.
Sementara itu, BI menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen hari ini. Kenaikan ini disebut menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027.
Ia menilai, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Ibrahim melanjutkan, faktor eksternal menguatnya rupiah, sentimen pasar membaik setelah Iran dan Israel menghentikan serangan satu sama lain setelah ada seruan dari Presiden AS Donald Trump.
Kata Ibrahim, pasar khawatir bahwa inflasi yang didorong oleh energi dapat tetap tinggi. Hal ini dinilai mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve.
"Dalam beberapa kasus, memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi. Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen AS pada Mei yang diperkirakan akan naik 4,2 persen YoY, setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen," urainya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































