Pandemi COVID-19

Risiko PHK di Industri Otomotif Saat Penjualan Mobil Terus Turun

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 30 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pandemi COVID-19 menghantam sejumlah sektor usaha, termasuk industri otomotif. Isu PHK karyawan pun menguat di tengah penjualan mobil yang semakin turun.
tirto.id - Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) menerpa industri otomotif. Kabar ini tak mengherankan karena pandemi Corona atau COVID-19 membuat penjualan terus merosot. Prediksi penjualan kendaraan roda empat selama 2020 hanya akan mencapai 400 ribu unit, turun dari target semula yang diyakini menyentuh 1,1 juta unit.

Secara umum, penjualan wholesales otomotif di Indonesia selama Mei 2020 sudah turun signifikan dengan kisaran 95,8% year to year (yoy), dari 84.367 unit menjadi 3.591 unit. Pada Januari-Mei 2020 penurunannya 41,4% yoy, atau dari 423,817 unit menjadi 248.310 unit.

Salah satu perusahaan yang sempat menjadi bahan pembicaraan adalah PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Mereka belum lama ini mengurangi jumlah karyawan, tetapi membantah jika langkah itu adalah PHK.

“Untuk karyawan di Astra Daihatsu Motor tidak ada PHK, tetapi mereka yang masa kontraknya habis, saat ini diputuskan untuk tidak diperpanjang,” ucap Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra, Selasa (23/6/2020) sepertii dikutip dari Antara.

ADM menilai langkah tak memperpanjang kontrak pegawai yang habis masa kontraknya memang tak terelakan. Langkah itu menjadi salah satu solusi menekan biaya di tengah penjualan yang terus turun.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales merek Daihatsu selama Mei 2020 berada di angka nol unit. Nilainya turun 100% dari posisi Mei 2019 yang menjual 14.178 unit.

Periode Januari-Mei 2020, penjualan wholesales Daihatsu sudah turun 39% secara year on year (yoy). Dari 81.003 unit menjadi 49.443 unit.


“Kami juga pastikan bahwa tidak ada penawaran pensiun dini kepada karyawan-karyawan kami,” ucap Amelia.

Perusahaan lain, PT Sokonindo Automobile, agen pemegang merek (APM) DFSK, juga tengah mempertimbangkan efisiensi karyawan sebagai dampak COVID-19. Namun Sokonindo saat ini masih enggan membeberkan bentuk efisiensi apa yang akan dilakukan. Sejauh ini perusahaan masih memastikan kalau langkah yang ditempuh tak akan merugikan karyawan.

“Memang pasti ada efisiensi yang nantinya dipilih oleh perusahaan. Yang jelas tidak akan merugikan karyawan kami,” ucap PR and Digital Manager Sokonindo Automobile Arviane D.B, Senin (22/6/2020) seperti dikutip dari Antara.

Menurut data Gaikindo, penjualan wholesales DFSK selama Mei 2020 cukup mengalami penurunan tajam hingga minus 90,2% secara yoy. Jumlahnya turun dari 338 menjadi 33 unit.

Secara Januari-Mei 2020, penjualan wholesales DFSK turun atau minus 22,4% dari periode yang sama di tahun 2019. Jumlahnya turun dari 910 menjadi 706 unit.

Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospek Motor (HPM) Yusak Billy mengatakan belum ada rencana maupun tindakan pengurangan jumlah karyawan di perusahaannya. Hanya saja, HPM tetap menjalankan strategi efisiensi yang menyesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar.

“Sampai saat ini Honda tidak melakukan pengurangan karyawan. Tentunya kami terus memonitor kondisi pasar, melakukan efisiensi dari sisi produksi dan operasional untuk tetap menjaga produktivitas perusahaan,” ucap Billy dalam pesan singkat, Rabu (24/6/2020).

Penjualan HPM mengalami penurunan cukup signifikan. Menurut data Gaikindo, penjualan wholesales Honda pada Mei 2020 turun 99,1% yoy. Dari 11.048 di Mei 2019 menjadi 101 unit di Mei 2020.

Januari-Mei 2020, penjualan merek Honda turun 27,2% yoy, dari 51.523 menjadi 37.502 unit. Meski mengalami penurunan penjualan selama April-Mei 2020, Billy bilang booking di Juni 2020 sudah menunjukkan tren membaik.


Honda, kata Billy, masih menyetop lini produksi sejak April 2020. Waktu itu HPM mengumumkan penghentian produksi sementara selama 14 hari mulai 13 April 2020 dengan alasan kondisi pasar sedang menurun, gangguan rantai pasok produksi, dan antisipasi COVID-19.

Meski lebih panjang dari rencana awal, penghentian ini dipastikan hanya sampai akhir bulan ini.

Karyawan di bagian produksi masih dirumahkan. Selama periode itu, Billy memastikan HPM tetap memenuhi hak karyawan sesuai kesepakatan dengan serikat pekerja di awal April 2020.

Sedangkan Direktur Komunikasi BMW Indonesia Jodie O’tania juga menyatakan perusahaan mobil asal Jerman itu tidak akan melakukan PHK pada pekerja di Indonesia. Jodie tak menampik bila BMW global sempat mengumumkan PHK 5.000 karyawan, tetapi ia menyatakan itu merupakan imbas penutupan pabrik di Jerman.

“Di Indonesia tidak melakukan hal itu. Kami masih akan memberikan strategi dan inovasi,” ucap Jodie, Kamis (18/6/2020) seperti dikutip dari Antara.


Baca juga artikel terkait INDUSTRI OTOMOTIF atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight