tirto.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Rosan P. Roeslani, mengaku bakal menerima semua kritik yang ditujukan padanya maupun kementerian yang dipimpinnya, termasuk ucapan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa yang mengatakan iklim investasi Indonesia masih berantakan.
Namun, alih-alih mengeluarkan pernyataan untuk menanggapi kritik yang disampaikan Purbaya atau pihak-pihak lainnya, ia mengaku lebih senang berbicara tentang angka pertumbuhan realisasi investasi.
"Ya, semua masukan kan selalu kami terima, baik dari Bapak Menteri Keuangan juga. Tapi, kalau saya lebih senang bicara angka dan statistik, ya," ujar Rosan kepada awak media usai Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2025).
Jika bicara soal angka, seperti yang telah dipaparkannya di hadapan para anggota dewan, realisasi investasi sampai kuartal III 2025 menunjukkan kinerja positif. Dari catatan BKPM, realisasi investasi untuk periode Januari-September 2025 sudah lebih dari Rp1.400 triliun, atau mencapai 75,3 persen dari target yang ditetapkan senilai Rp1.900 triliun.
Tidak hanya itu, dengan adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, pihaknya juga sudah memberikan izin investasi dengan mekanisme fiktif positif kepada ratusan pemohon.
"Kami mendapatkan masukan yang positif justru dari para investor dalam dan luar negeri, kenapa? Dari salah satu kebijakan yang baru saja keluar, itu adalah peraturan PP-nya, peraturan PP kita sudah keluar nomor 28 tahun 2025, yang dimana itu malah memberikan kepastian dari persoalan perizinan," jelas Rosan.
Bahkan, PP 28/2025 menjadi salah satu kebijakan yang direspons positif oleh dunia usaha, baik dari dalam maupun luar negeri.
"Kan saya bicara fakta dan statistik, saya selalu bicara seperti itu. Dan itu adalah yang saya sampaikan, dua-duanya fakta, statistik dan inisiatif kebijakan yang sudah kita lakukan. Jadi, kan itu suatu hal yang positif dan diapresiasi oleh para investornya, dalam maupun luar negeri," tegas Rosan.
Sebelumnya, Purbaya menilai iklim investasi Indonesia yang berantakan telah membuat investor lebih memilih untuk menanamkan modalnya di negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Singapura, bahkan Malaysia.
"Iklim investasi kita masih berantakan, betulan. One Single, One Stop Service (OSS/One Single Submission), tapi enggak kelar-kelar. Eh, balik lagi nih, kalau enggak, kita sudah lari ekonominya, investasi udah ngebut. Sekarang kita sama Vietnam kalah, sama Thailand kalah, sama Singapura kalah, sama Malaysia kalah dalam hal menarik investasi,” papar dia, dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Hotel Park Hyatt, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025).
Salah satu kekalahan Indonesia dalam mendatangkan investasi terlihat ketika raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), NVIDIA lebih memilih Johor, Malaysia untuk membangun pusat data AI canggih.
Sayangnya, selama ini perbaikan iklim investasi seringkali hanya dilakukan di atas kertas. Bahkan, ketika Purbaya memanggil anak buahnya dan bertanya hambatan apa yang masih ada dan membuat investasi Indonesia sulit melesat, jawabannya adalah tidak ada.
“Tapi investasi (yang masuk) enggak banyak. Kalau saya tanya pelaku bisnis, gimana? Kusut, gitu kan,” tutur Purbaya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id







































