Menuju konten utama

Respons Moody's, Prabowo akan Gelar Indonesia Economic Outlook

Langkah ini merespons keputusan lembaga pemeringkat Moody’s yang menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Respons Moody's, Prabowo akan Gelar Indonesia Economic Outlook
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran menteri untuk memaparkan kondisi ekonomi nasional dalam acara "Indonesia Economic Outlook" yang akan digelar pada Jumat, 13 Februari 2026.

Agenda ini merupakan langkah pemerintah merespons keputusan lembaga pemeringkat Moody’s yang menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

"Bapak Presiden tadi meminta agar kami membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk sarasehan ekonomi, yaitu 'Indonesia Economic Outlook' yang akan diselenggarakan pada Jumat nanti," kata Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan pers seusai rapat terbatas di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Dalam rapat tersebut, Airlangga melaporkan hasil penilaian berbagai lembaga pemeringkat global seperti Moody's, Fitch, dan S&P.

Ia mencatat dari ketiga lembaga tersebut, Moody's memberikan penilaian negatif terhadap outlook ekonomi Indonesia.

Airlangga menegaskan penilaian Moody's tersebut perlu dijawab dengan penjelasan detail mengenai potensi peningkatan penerimaan negara serta rencana proyek-proyek strategis yang akan dikelola oleh Danantara.

"Tentu perlu diperhatikan terkait dengan penjelasan yang diperlukan, utamanya mengenai penerimaan negara yang juga berpotensi meningkat, serta terkait dengan rencana dari Danantara," ujarnya.

Sebelumnya, Moody’s Investors Service tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas ambang batas layak investasi (investment grade).

Namun, Moody’s menurunkan outlook RI menjadi negatif setelah melakukan asesmen dan kunjungan ke Jakarta pada 27-29 Januari 2026.

Selama proses tersebut, Moody’s telah berdiskusi dengan sejumlah instansi, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, OJK, Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

Meski mengubah prospek ke arah negatif, Moody’s tetap menilai ketahanan ekonomi Indonesia sebagai pilar utama profil kredit negara.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil diperkirakan stabil dalam jangka menengah berkat dukungan kekayaan sumber daya alam dan struktur demografi. Selain itu, beban utang pemerintah dinilai tetap terkendali seiring penerapan kebijakan fiskal dan moneter yang pruden.

Baca juga artikel terkait MOODYS atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Insider
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama