Rekam Jejak Joko Driyono di PSSI: dari 1991 hingga Kini

Oleh: Iswara N Raditya - 22 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Joko Driyono punya sejarah panjang di PSSI. Dia sudah berkarier di sana sejak 28 tahun silam.
tirto.id - Joko Driyono bukan orang sembarangan. Ia punya rekam jejak panjang di kancah sepakbola nasional, sejak nyaris tiga dekade silam.

Jokdri, demikian ia karib disapa, adalah salah satu orang yang paling lama bertahan di kepengurusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Setidaknya sudah 28 tahun Jokdri bercokol di sana, tepatnya sedari 1991. Mundurnya Edy Rahmayadi membuka jalan bagi Jokdri untuk menempati posisi tertinggi di PSSI. Ia kini menggantikan Edy sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum.

Sebelum membahas rekam jejak Jokdri di PSSI, kita perlu tahu bahwa sebenarnya dia adalah mantan pesepakbola. Ia bahkan pernah tampil di kompetisi usia muda Piala Soeratin saat masih memperkuat klub amatir dari tanah kelahirannya, Ngawi.

Jokdri juga pernah tercatat sebagai pemain Putra Gelora, klub internal Persebaya yang didirikan H.M. Mislan. Haji Mislan adalah ayah Vigit Waluyo, yang saat ini sedang menjadi sorotan karena diduga terlibat kasus pengaturan skor.

Jokdri bahkan nyaris benar-benar menjadi pesepakbola profesional di klub Arseto Solo. Namun, saat itu ia justru memilih fokus kuliah di Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Kendati begitu, kecintaannya terhadap sepakbola tak lantas pudar. Joko Driyono kemudian sempat menjalani profesi sebagai jurnalis olahraga. Bersinggungan dengan orang-orang sepakbola selama menjadi wartawan membuat Jokdri punya jaringan yang luas dan itu menguntungkan.

Joko Driyono kembali ke sepakbola meskipun tidak lagi berlaga di lapangan rumput. Ia dipercaya mengelola Pelita Jaya FC sebagai manajer. Klub yang nantinya kerap bergonta-ganti nama ini didirikan pada 1986 oleh pengusaha Nirwan Dermawan Bakrie.

Menjadi manajer klub mapan macam Pelita Jaya FC tentunya menjadi pengalaman berharga bagi Joko Driyono yang saat itu termasuk orang baru dalam sepakbola tanah air. Akhirnya, tak lama setelah pergantian dekade, Jokdri mulai bersinggungan dengan PSSI.


Melintas-Batas Rezim PSSI


Joko Driyono masuk ke lingkaran internal PSSI pada periode kepengurusan 1991-1999 di bawah pimpinan Azwar Anas selaku ketua umum. Azwar Anas kala itu juga menjabat Menteri Perhubungan, lalu berlanjut jadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Kepemimpinan Azwar Anas di PSSI berakhir tak lama setelah Soeharto lengser pada Mei 1998. Namun Joko Driyono bertahan. Ia masih ikut serta dalam kepengurusan PSSI ketika Agum Gumelar menjadi ketua umum untuk periode 1999-2003.

Setelah Agum, giliran Nurdin Halid yang menguasai PSSI sejak 2003 hingga akhirnya tumbang pada 2011. Lagi-lagi, terjungkalnya Nurdin Halid tidak membuat karier Jokdri ikut berakhir. Ia tetap bertahan, bahkan mampu melewati masa-masa sulit yang menerpa PSSI dan persepakbolaan nasional setelah itu.

PSSI kala itu guncang dan melahirkan dualisme kepengurusan serta dualisme kompetisi. Beberapa orang lama di rezim Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie tersingkir seiring diambil-alihnya kekuasaan PSSI oleh kubu Djohar Arifin Husin yang disokong Arifin Panigoro.

Joko Driyono turut serta dalam rombongan PSSI 'tandingan' pimpinan La Nyalla Mattalitti yang pada 2011 membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Jokdri saat itu menjabat sebagai CEO PT Liga Indonesia, operator kompetisi Indonesian Super League (ISL).

Selain itu, Joko Driyono menjadi anggota Joint Committee (JC) wakil dari KPSI--yang dibentuk pada 2012 sebagai upaya untuk mewujudkan rekonsiliasi dengan PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin.

Di pihak lain, PSSI yang dipimpin Djohar Arifin Husin membentuk operator PT Liga Prima Indonesia Sportindo dan menggulirkan kompetisi bernama Indonesian Premier League (IPL) yang pada waktu itu diakui oleh FIFA sebagai kompetisi resmi di Indonesia.


Jabatan Tertinggi


Kepiawaian dan pengalaman Jokdri terbukti di masa-masa sulit itu. Dalam Kongres Tahunan PSSI di Surabaya pada 17 Juni 2013, Joko Driyono ditunjuk untuk menempati posisi sebagai Sekjen PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin, padahal ia masih menjabat sebagai CEO PT Liga Indonesia yang bertalian dengan kubu seberang.

Singkat cerita, berkat andil Joko Driyono, tampuk pimpinan PSSI berhasil dikuasai lagi oleh kubu La Nyalla Mattalitti. Djohar Arifin Husin pun harus terdepak setelah melalui dinamika yang cukup rumit di internal PSSI.

La Nyalla Mattalitti terpilih sebagai ketua umum dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Surabaya pada 18 April 2015. Jokdri seolah-olah turut meramaikan situasi dengan masuk dalam bursa ketua umum.

Sebelum KLB di Surabaya itu digelar, Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI sehingga kepengurusan yang dipimpin La Nyalla tidak diakui. Tanggal 30 Mei 2015, FIFA menjatuhkan skorsing ke PSSI.

Kompetisi resmi sepakbola Indonesia memang vakum selama masa skorsing. Namun, ada kompetisi bernama Indonesia Soccer Championship (ISC) yang digulirkan guna mengisi waktu sekaligus agar tetap menghasilkan pundi-pundi laba.

Kompetisi tak resmi ini dikelola oleh PT Gelora Trisula Semesta (GTS). Siapa pemimpinnya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Joko Driyono.


Tanggal 13 Mei 2016, skorsing FIFA berakhir setelah Menpora mencabut pembekuan PSSI tiga hari sebelumnya. Tiba saatnya bagi Joko Driyono untuk beraksi lagi.

La Nyalla Mattalitti terpaksa meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI pada pada 3 Agustus 2016 karena tersangkut kasus korupsi. KLB PSSI pun kembali digelar, tanggal 10 November 2016.

Muncullah Edy Rahmayadi selaku Ketua Umum PSSI yang baru. Edy saat itu masih menjabat sebagai Pangkostrad. Dia ditemani Joko Driyono sebagai Wakil Ketua Umum. Pamor Jokdri semakin mentereng setelah pada 23 September 2017 ia menempati posisi Wakil Presiden AFF (federasi sepakbola Asia Tenggara).

Di era Edy Rahmayadi, nama ISL yang sebelumnya sangat lekat dengan Joko Driyono tidak digunakan lagi. Sebagai gantinya, digulirkan kompetisi level tertinggi dengan nama Liga 1. Nantinya terungkap bahwa Joko Driyono adalah pemilik saham mayoritas Persija Jakarta, klub peraih gelar juara Liga 1 2018.

Dengan terpilih sebagai plt pada 20 Januari lalu, Joko Driyono memastikan bahwa ia akan memperpanjang (lagi) napasnya di PSSI. Jabatan akan dia emban setidaknya hingga 30 Juni 2018.

Inilah jabatan tertinggi yang ia emban selama hampir tiga dekade berkarier, meski banyak juga yang tak suka karena Jokdri dianggap 'orang lama' yang cuma jadi beban sepakbola Indonesia.

Baca juga artikel terkait PSSI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Rio Apinino
DarkLight