tirto.id - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki hari ke-69 pada Kamis (7/5/2026). Upaya negosiasi kesepakatan damai menunjukkan sinyal positif, namun ketidakpastian masih jadi situasi umum di tengah eskalasi konflik yang masih terjadi.
Memasuki hari ke-69, informasi seputar Perang Iran didominasi oleh pembicaraan tentang potensi kesepakatan penghentian perang antara Iran dan AS. Teheran dan Washington dilaporkan terus berbalas tanggapan tentang tuntutan dalam proposal kesepakatan tersebut.
Setelah pekan lalu Teheran mengirim proposal penghentian perang ke AS, Washington telah mengirim respons tersebut dengan dokumen tandingan pada Minggu (3/4). Pada Rabu (6/5), Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa pembicaraan tersebut berlangsung “sangat baik”.
“Kami memiliki pembicaraan yang sangat bagus dalam 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan membuat kesepakatan,” tutur Trump kepada jurnalis di Gedung Putih.
Secara resmi, Teheran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri mereka menyebut bahwa proposal yang dikirim AS tersebut kini tengah “dalam peninjauan” dan akan mengomunikasikan tanggapan setelah “memutuskan pandangannya”.
Akan tetapi, seturut Al Jazeera, seorang pejabat parlemen Iran dan mantan menteri luar negeri yang tak disebut namanya memperkirakan bahwa Teheran akan mengirim tanggapan tersebut pada hari ini, Kamis. Menurut sumber itu, Teheran tengah bersiap mengirimkan tanggapan via Pakistan selaku mediator.
Proposal yang dikirim Washington dilaporkan berbentuk dokumen satu halaman yang memuat 14 poin kesepahaman. Belum jelas apa isi lengkap dari dokumen itu, namun proposal dilaporkan memuat tuntutan AS agar Iran melonggarkan cengkeramannya di Selat Hormuz sementara AS mencabut blokade militernya di pelabuhan Iran secara bertahap.
Blokade AS Tetap Jalan, Program Nuklir Iran Tetap Dibahas
Blokade AS terhadap pelabuhan Iran hingga kini masih berlangsung. Militer AS menyebut bahwa pesawat tempur mereka baru-baru ini telah melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran karena diduga telah mencoba menerobos blokade.
Isu terkait program nuklir Iran juga disebut telah menunjukkan secercah sinyal positif dengan kedua negara yang berkonflik tampaknya telah mengendurkan tuntutan pada titik tertentu.
Meski begitu, apa yang dilaporkan tengah terjadi di “meja perundingan” itu tak tampak dalam pernyataan publik Trump. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Trump baru-baru ini tetap menekankan bahwa ia “tidak dapat membiarkan” senjata nuklir Iran dalam klaim terbarunya tentang perang yang “akan segera berakhir”.
Trump juga masih menunjukkan sikap yang keras dalam unggahan di media sosial miliknya. Salah satu unggahan terbaru Trump memuat ancaman kepada Iran untuk melakukan eskalasi jika tidak tercapai kesepakatan.
“Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya,” tulis Trump.
Sikap yang provokatif juga tampak di pihak Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengejek operasi militer AS untuk membuka Selat Hormuz dalam unggahan sosial media terbarunya. Ghalibaf menyebut, “Operasi Trust Me Bro gagal” dan Washington kini beralih kembali ke “Operasi Fauxios”.
Kendati tetap ada pesan provokatif dan ancaman dari AS dan Iran, namun Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan bahwa ia berharap momentum negosiasi saat ini dapat mengarah pada perdamaian kawasan.
Pernyataan Shehbaz Sharif itu beriringan dengan keterangan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang mengungkapkan harapan Iran akan dukungan Cina. Melalui akun X miliknya, Araghchi menyebut Teheran berharap bantuan Cina dalam upaya mereka membentuk kerangka kerja regional “pasca-perang baru”.
Israel Masih Menyerang Lebanon Selatan
Sementara Iran dan AS berunding, situasi antara Israel dan Lebanon masih penuh ketidakpastian. Tentara Zionis dilaporkan masih terus melakukan serangan ke wilayah Lebanon selatan.
Hal serupa juga dilakukan kelompok bersenjata Hizbullah. Kelompok yang berbasis di Lebanon itu menyebut bahwa para pejuangnya telah melakukan 17 serangan terarah terhadap pasukan Israel di wilayah Lebanon. Serangan itu disebut mereka sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata dari negara Zionis tersebut.
Perluasan konflik Perang Iran di Lebanon selatan juga diwarnai temuan baru tentang pelecehan simbol keagamaan oleh tentara Israel. Foto seorang tentara Israel sedang melecehkan patung Bunda Maria di Desa Debel, Distrik Bint Jbeil, Lebanon beredar pada Rabu.
Di Israel sendiri, sirene dilaporkan berbunyi di kawasan utara negara tersebut. Tak lama setelahnya, militer Israel menyebut adanya “target udara yang mencurigakan” yang diluncurkan dari Lebanon.
Masih belum pastinya situasi terkait Perang Iran juga terus menekan perekonomian dunia. Selat Hormuz masih jadi hambatan besar bagi kelancaran distribusi perdagangan dunia.
Perusahaan pelayaran raksasa Jerman, Hapag-Lloyd, menyebut bahwa tertutupnya Selat Hormuz sejauh ini telah menyebabkan mereka merugi sekitar USD60 juta per minggu hanya untuk bahan bakar dan asuransi.
Kerugian itu disebut terjadi karena mereka harus menghindari jalur perairan selat itu demi menghindari kekhawatiran serangan Iran dan potensi sanksi terkait prosedur transit yang dikendalikan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































