tirto.id - Demonstrasi massa masih dilakukan di Jakarta dan sejumlah daerah lainnya pada Rabu (3/9/2025). Berikut rangkuman aksi unjuk rasa hari ini.
Aksi protes terhadap kebijakan DPR RI masih bergaung di Jakarta. Pada Rabu, area depan Gedung DPR RI di Senayan masih dikerumuni sejumlah massa.
Tuntutan para massa aksi juga masih seputar kebijakan dan anggota DPR RI yang dinilai tidak selaras dengan kondisi masyarakat hari ini, serta protes atas kekerasan aparat selama 25-31 Agustus lalu.
Aksi pada Rabu tersebut menandai 10 hari gelombang unjuk rasa yang terus terjadi sejak 25 Agustus. Eskalasi protes sempat mereda setelah meningkat tajam akibat meninggalnya Affan Kurniawan karena dilindas mobil rantis Brimob pada 28 Agustus lalu.
Rangkuman Demo 3 September 2025 Hari Ini, di Mana Saja?
Di Jakarta, demonstrasi dilakukan di depan Gedung DPR/MPR RI di Senayan. Hari ini, ada sejumlah kelompok massa yang melakukan demonstrasi di sana.
Kelompok pertama adalah puluhan massa dari Aliansi Perempuan Indonesia. Terdiri dari puluhan perempuan mengenakan atribut berwarna merah muda (pink), mereka berunjuk rasa untuk menyampaikan kegelisahan terhadap kebijakan pemerintah dan tindakan represif aparat.
Kelompok massa ini menyoroti kekerasan aparat dalam penanganan demonstrasi pada 25-31 Agustus yang telah memakan korban jiwa.
Melansir Antara, Kelompok Aliansi Perempuan Indonesia melakukan unjuk rasa hingga Rabu siang. Sekitar pukul 13.00 WIB, kelompok massa ini membubarkan diri.
Sementara itu, kelompok kedua adalah massa mahasiswa dari organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Massa ini datang ke Gedung DPR RI setelah unjuk rasa para perempuan bubar.
Tuntutan yang dibawa oleh massa GMNI tersebut adalah perubahan sikap DPR RI yang dirasa masih enggan mendengarkan aspirasi rakyat.
Aksi unjuk rasa juga digelar di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Demonstrasi massa ini dilakukan di depan gerbang Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung.
Massa dari kelompok Gerakan Masyarakat (Gema) Kabupaten Bandung datang ke titik lokasi tersebut untuk menyuarakan kegelisahan atas kerusakan lingkungan yang terjadi di kabupaten tersebut.
Mereka menuntut dilakukannya evaluasi atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkait dengan penggunaan lahan untuk keperluan energi dan pariwisata di Kabupaten Bandung.
Selain Kabupaten Bandung dan Jakarta, demonstrasi juga dilakukan di Pasuruan. Unjuk rasa di sana dilakukan oleh Aliansi Cipayung Pasuruan Raya, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HMI, GMNI, PMII, dan IMM.
Demonstrasi di Pasuruan tersebut membawa serta tujuh poin tuntutan, yakni terkait sampah, infrastruktur jalan, transportasi umum, narkoba, penyerapan tenaga kerja, pelanggaran HAM di Alas Tlogo, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Unjuk rasa ini diikuti oleh puluhan massa mahasiswa di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan.
Demonstrasi juga digelar di Kalimantan Barat (Kalbar) oleh Aliansi Mahasiswa Kalbar. Massa mahasiswa dilaporkan berunjuk rasa di Gedung DPRD Kalbar untuk menuntut tidak kekerasan aparat terhadap masyarakat sipil.
Selain itu, massa mahasiswa di Kalbar juga menuntut pencabutan tunjangan DPR dan peningkatan kesejahteraan para pendidik.
Sebelumnya, eskalasi gelombang protes akibat sikap anggota DPR RI dan kekerasan aparat kepolisian terhadap masyarakat sipil terus meningkat.
Hingga kini, media sosial masih ramai dengan unggahan-unggahan berisi protes kepada pemerintah, Polri, TNI, dan DPR RI.
Salah satu bentuk protes di media sosial tersebut diartikulasikan lewat tuntutan 17+8. Tuntutan tersebut merupakan rangkungan mandat masyarakat kepada sejumlah instansi pemerintah.
Tuntutan itu menyoroti sejumlah isu, seperti investigasi korban meninggal akibat kekerasan aparat polisi, reformasi Polri, penarikan TNI ke barak, reformasi DPR RI, hingga menyangkut ketenagakerjaan.
Selain tuntutan 17+8, protes masyarakat sipil juga diartikulasikan lewat tren tema warna brave pink dan hero green. Tema warna merah muda dan hijau itu digunakan warganet sebagai tema warna untuk unggahan maupun foto profil di akun media sosial mereka.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id




























