Menuju konten utama

Purbaya Setop Penarikan Dana SAL di Himbara Demi Jaga Likuiditas

Purbaya menghentikan penarikan SAL dari Himbara dan menambah dana menjadi Rp400 triliun guna menjaga likuiditas, mendorong kredit, dan menopang ekonomi.

Purbaya Setop Penarikan Dana SAL di Himbara Demi Jaga Likuiditas
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengikuti sidang aduan kanal Debottlenecking Satgas P3M-PPE (Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi) di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Sidang tersebut membahas aduan dari PT Indo Acwa Tenaga Saguling terkait perizinan yang terhambat karena moratorium serta PT Sarana Utama Synergy terkait perjanjian kerja sama PLTSa dengan Pemerintah Kota Makassar. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memutuskan menghentikan penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Sebaliknya, ia justru berencana mengembalikan dana yang sudah ditarik menambah penempatan dana pemerintah menjadi total Rp400 triliun. Langkah ini diambil untuk mengatasi kekeringan likuiditas yang mengancam pertumbuhan kredit perbankan dan perekonomian.

Keputusan ini merupakan pembalikan dari kebijakan sebelumnya. Dua minggu lalu, pemerintah mulai menarik dana SAL secara bertahap dari bank-bank BUMN atas permintaan beberapa pihak.

“Kemarin udah diambil Rp100 triliun kalau nggak salah. Jadi tinggal Rp170 triliun di sana. Saya balikin lagi. Jadi Rp200 triliun yang jangka panjang. Tambah Rp100 triliun lagi mungkin yang jangka 3-4 bulan. Terus tambah lagi yang fleksibel Rp100 triliun lagi. Jadi Rp400 triliun,” ujar Purbaya dalam media briefing di Kantornya, Jumat (26/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa pembatalan penarikan ini didasari temuan bahwa likuiditas perbankan mulai mengering setelah dana ditarik. Akibatnya, rencana penyaluran kredit terancam melambat dan berimbas pada pertumbuhan ekonomi.

“Katanya kalau gak dibantu, kredit akan turun. Pertumbuhannya ke 8, 7, 6 persen. Jadi ancaman perlambatan ekonomi amat real. Ketika kita balikin lagi, ya udah. Rencana kredit yang selama ini mereka tahan gara-gara antisipasi kurangnya likuiditas, mereka akan jalankan lagi,” jelasnya.

Bendahara negara itu menyebut, dengan adanya tambahan dana tersebut, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan bisa mencapai 14-15 persen tahun ini. Suku bunga pun diprediksi akan relatif turun seiring dengan membaiknya likuiditas.

Kebijakan ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan agar roda ekonomi tetap berjalan.

“Ini juga atas petunjuk Bapak Presiden. Dia ingin ekonomi jalan lah,” ucapnya.

Purbaya bilang, penarikan SAL pemerintah dari Bank Himbara sebelumnya dilakukan atas instruksi beberapa pihak. Penarikan ini, justru membuat likuiditas di perbankan menjadi kering.

“Karena atas permintaan beberapa pihak, suruh tarik, saya tarik. Rupanya jadi kering dan nggak ada sumber uang lagi. Jadi saya balikin lagi,” ucapnya.

Ketika SAL ditarik perlahan dari Himbara sejak dua minggu lalu, bank-bank mulai mengalami kepanikan. Likuditas menyempit dan penyaluran kredit terhambat.

Menurut Purbaya, dengan kondisi perekonomian saat ini penempatan dana pemerintah ke Bank Himbara menjadi satu-satunya motor penggerak perekonomian.

“Jadi kan ada yang bilang langkah saya salah kan, ternyata itulah satu-satunya engine untuk pertumbuhan ekonomi pada saat ini. Jadi kita balikin lagi. Mungkin mereka waktu itu nggak ngerti. Sekarang udah mengerti. Saya masukin lagi,” ucapnya.

Akhirnya, pihaknya pun membatalkan penarikan dana dari Bank Himbara. alasannya didasarkan pada pertimbangan makroekonomi. Pasalnya, penarikan dana pemerintah juga telah memunculkan sentimen negatif di pasar.

Beredar di kalangan pelaku usaha dan perbankan bahwa pelemahan rupiah dan perlambatan ekonomi disebabkan oleh penarikan anggaran sisa pemerintah itu dari bank negara

“Anda perhatikan kan kemarin lemahnya rupiah seiring dengan mengeringnya likuiditas. Itu beredar di perbankan, di pelaku usaha. Artinya ekonomi akan melambat. Kalau ekonomi melambat orang takut investor keluar,” jelasnya.

“Kalau kita balik, kan prospek ekonomi balik lagi. Akan lari lagi. Ya orang cenderung investasi negara yang ekonominya akan lari. Akibatnya rupiah akan menguat lagi. Itu teorinya,” imbuhnya.

Purbaya mengungkapkan bagaimana reaksi para direktur Bank Himbara saat diberi kabar soal tambahan dana ini dalam rapat pagi tadi. Mereka yang datang dengan perasaan cemas langsung berubah gembira.

“Dia nari-nari. Mereka datang ke tempat rapat tadi deg-degan. Udah mau marah segala macam. Begitu saya kasih begitu ya mereka happy. Kepalanya jadi nggak berasap katanya,” candanya.

Ia mengungkapkan bahwa para bankir tersebut dalam dua minggu terakhir hampir tidak bisa istirahat karena terus memonitor kondisi likuiditas bank masing-masing, termasuk di akhir pekan.

“Rupanya mereka setiap hari sudah monitor kondisi likuiditas bank dalam dua minggu terakhir. Jadi hampir nggak istirahat termasuk Sabtu, Minggu. Begitu dikasih begitu, yaudah saya bilang kamu besok libur aja semua. Sabtu bisa libur, Minggu,” katanya.

Himbara akan Terima Tambahan SAL

Penambahan dana ini dialokasikan kepada lima bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara, yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, dan BSI. Pemerintah memutuskan tidak menambah bank lain dalam skema ini.

“Nggak, untuk semangatnya seperti itu. Karena kalau mereka cukup, otomatis uangnya akan mengalir ke sistem keuangan. Artinya ke bank-bank yang lain melalui pasar interbank,” jelas Purbaya.

Dengan total dana negara yang kini mencapai Rp400 triliun, pemerintah berharap efek berantai positif akan dirasakan oleh seluruh sektor perbankan melalui mekanisme pasar antarbank.

“Itu yang namanya proses penciptaan uang. Jadi kita memaksa sistem finansial kita hidup melalui invisible hand yang kita kendalikan,” tuturnya.

Sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin, menilai pengembalian SAL ke BI sebagai normalisasi bauran kebijakan untuk menghadapi tekanan global yang tak terduga.

Seiring meredanya tekanan eksternal, masing-masing otoritas mulai kembali ke tupoksi, dengan tetap mempertimbangkan dampak ke ekonomi nasional.

Herman menyebut strategi ini telah melalui pertimbangan matang sesuai mandat masing-masing dan merupakan bagian dari penataan menjelang penyusunan APBN 2027.

“Seiring dengan berkurangnya atau meningkatnya harapan untuk resolve konflik di Timur Tengah, kita harus mulai melakukan, yuk kita coba lihat lagi. Ya kita kembalikan lagi ke masing-masing tupoksi,” jelasnya.

Penempatan SAL di Himbara sendiri merupakan langkah saat likuiditas perbankan mengering. Menurut Herman, kebijakan itu terbukti berhasil mendorong pertumbuhan kredit hingga 11,5 persen.

Namun demikian, Herman menyebut bahwa BI dan pemerintah menarik anggaran SAL untuk persiapan masuk ke fase new normal usai mereda kondisi geopolitik global.

“Ini fase penataan untuk kita bisa masuk ke fase berikutnya. Setelah melewati global uncertainty itu lalu kemudian ditulisnya memasuki new normal. Ini sebenarnya kan penataan saja, penataan baru,” ujarnya.

Adapun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae membenarkan bahwa pemerintah melakukan penarikan SAL. Namun, ia berharap pengembalian dana SAL dilakukan secara bertahap untuk menjaga likuiditas perbankan.

“Saya yakin Menteri Keuangan maupun Gubernur Bank Indonesia mudah-mudahan akan sepakat dengan OJK bahwa ini akan bisa diselesaikan masa transisinya tanpa mengganggu likuiditas bank,” katanya di Kemenko Perekonomian dikutip dari Antara.

Pun OJK berharap penempatan SAL dapat berlangsung lebih lama agar lebih optimal dalam mendukung likuiditas perbankan dan penyaluran kredit.

“Harapannya lebih lama, lebih bagus kan kalau untuk penambahan likuiditas. Ini untuk menekan suku bunga, juga supaya tetap bisa penyaluran kredit efektif,” kata Dian.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana