Menuju konten utama

Purbaya Kaji Pajak Tambahan untuk Barang Cina di Tokopedia dkk

Purbaya mengaku mendapat masukan menambah pajak barang impor dari Cina usai diskusi dengan pelaku usaha domestik lewat siaran langsung di TikTok anaknya.

Purbaya Kaji Pajak Tambahan untuk Barang Cina di Tokopedia dkk
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kanan) memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025 di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (20/10/2025).ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, membuka peluang untuk mengenakan pajak tambahan terhadap produk impor asal Cina. Langkah ini dinilai perlu agar barang-barang produksi dalam negeri tidak terus-menerus berada dalam posisi tidak kompetitif di pasar domestik.

Ia menuturkan, usulan tersebut muncul setelah menerima berbagai masukan dari diskusi dengan pelaku usaha domestik di sejumlah daerah lewat siaran langsung di TikTok anaknya.

"Dari situ (live TikTok) juga waktu diskusi dengan orang-orang di Makassar, di mana, gitu. Di Jawa Barat, di kawasan industri. Ada masukan juga yang menarik," ujar Purbaya saat Halal Bihalal dengan media di Kemenkeu, Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, masukan itu memperkuat dugaan selama ini bahwa perdagangan secara luring atau offline terganggu oleh perdagangan daring. Namun, temuan yang lebih lainnya adalah dominasi pelaku usaha asing dalam ekosistem perdagangan online di Tanah Air.

"Yang saya pikir adalah online sebagian besar orang Indonesia juga. Rupanya yang banyak juga yang dikuasai bukan orang Indonesia," jelasnya.

"Jadi kita akan pikirkan langkah yang lebih taktis nanti supaya yang offline bisa hidup. Tapi kalau misalnya kita switch ke online juga harusnya yang Indonesia yang hidup. Nanti kita pikirin," ucapnya.

Salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan pemerintah adalah kebijakan fiskal yang membuat produk lokal memiliki daya saing lebih baik.

Purbaya mengungkapkan bahwa produk dari Cina diduga mendapatkan subsidi dari pemerintahnya sebesar 15 persen saat diekspor, sehingga harganya menjadi lebih murah.

"Kalau barang dari Cina bersaing dengan barang dari sini secara langsung kita at cost disadvantage atau at price disadvantage," kata Purbaya.

"Kenapa? Saya denger kalau orang Cina ekspor itu dapat 15 persen tunjangan dari pemerintahnya. Betul apa enggak untuk barang-barang di sini akan saya double check. Tapi di luar ada yang bilang seperti itu," tambahnya.

Meskipun data tersebut masih akan didalami, Purbaya menegaskan pentingnya mengambil langkah untuk menyetarakan posisi produk dalam negeri.

"Kalau itu kasusnya maka akan kita harusnya ambil langkah yang membuat barang kita bisa lebih bersaing di pasar dalam negeri sendiri," ujarnya.

Ketika ditanya apakah langkah yang dimaksud berupa pengenaan pajak tambahan terhadap produk impor dari Cina, Purbaya merespons dengan hati-hati. "Saya tampung usul Anda, saya pikir nanti," katanya.

Pemerintah, lanjut Purbaya, tengah mengkaji beberapa opsi yang sempat ditunda sebelumnya. Langkah-langkah tersebut akan disesuaikan dengan hasil perhitungan dampak terhadap ekosistem perdagangan online secara menyeluruh.

"Nanti kita tinggal ada beberapa yang kemarin kita tunda. Nanti kita akan kenakan, saya hitung lagi dampaknya yang ke online seperti apa," tuturnya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana