Menuju konten utama

Purbaya Heran RI "Diincar" Lembaga Global Meski Utang Terkendali

Menkeu Purbaya heran Indonesia disorot meski pengelolaan defisit dan utang lebih disiplin dari banyak negara maju dan berkembang.

Purbaya Heran RI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Menteri Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencetak defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku heran dengan sorotan berlebihan yang diberikan lembaga-lembaga global kepada Indonesia, meskipun kondisi defisit dan rasio utang negara tergolong terkendali dibandingkan negara lain.

Di tengah tekanan ekonomi global, Purbaya menekankan bahwa Indonesia justru termasuk negara yang paling disiplin dalam menjaga fiskal. Defisit anggaran berhasil ditekan di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara rasio utang juga dijaga di bawah 60 persen PDB. Namun, ia mengaku bingung mengapa Indonesia terus menjadi sasaran perhatian lembaga internasional.

"Karena kan kita dilihat oleh lembaga pemerintah dunia, bisa nggak Indonesia menjaga defisitnya di bawah 3 persen padahal yang lain udah di atas 3 persen,” katanya saat rapat kerja dengan DPD RI, di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (22/6/2026).

Dia menjelaskan, negara seperti Malaysia, Vietnam, India defisit fiskalnya telah melebihi 3 persen. Apalagi Amerika Serikat (AS) yang telah melampaui 5 persen. Hanya Singapura yang defisitnya masih di bawah ambang batas.

“(Tapi) hanya kita yang disorot, saya juga agak bingung sebetulnya. Kenapa?" Kata Purbaya.

Selain itu, ia membandingkan posisi Indonesia dengan sejumlah negara maju yang justru memiliki rasio utang jauh lebih tinggi. Jerman, misalnya, mencatat rasio utang di atas 60 persen PDB, Amerika Serikat di angka 100 persen, sementara Jepang bahkan mencapai 275 persen. Namun, negara-negara tersebut tak mendapatkan sorotan seketat yang diterima Indonesia.

"Tapi kita yang diincar Pak. Saya nggak tau kenapa. Mungkin kita masih kurang doa Pak," selorohnya.

Purbaya menjelaskan, secara keilmuan dan data, posisi fiskal Indonesia tidak dapat dikritik. Defisit tahun 2025 berhasil ditekan hingga 2,81 persen, lebih baik dari proyeksi awal 2,9 persen. Untuk tahun 2026, meskipun beban subsidi BBM dan listrik meningkat, pemerintah mendesain defisit tetap di bawah 3 persen, mendekati 2,9 persen.

"Karena di atas kertas, secara keilmuan selesai Pak. Kita nggak bisa dikritik mana-mana. Tapi di luar, di praktiknya seperti itu. Jadi ya kita lihat aja market seperti apa," imbuhnya.

Meski demikian, ia menyatakan pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal yang diterapkan lembaga global. Purbaya optimistis, dengan perbaikan kondisi geopolitik dan potensi penurunan harga minyak, ruang fiskal Indonesia ke depan akan semakin terbuka.

"Kita stick ke disiplin yang mereka terapkan. Nanti kita tunjukin ke mereka bahwa yang terbaik adalah kita. Negara lain harus contoh kita," ucapnya.

Purbaya juga menyebut Presiden memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan fiskal, terutama saat terjadi bencana atau kondisi darurat. Namun, ia menegaskan setiap kebijakan tetap dijaga agar tidak membahayakan posisi defisit dan rasio utang.

"Ruang kita ada sebetulnya. Tapi itu semua tergantung Bapak Presiden. Bapak Presiden cukup fleksibel," tuturnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana