Menuju konten utama
Mozaik

Pulau Miangas, Jalur Migrasi Purba di Beranda Utara

Bersama Sabang, Merauke, dan Rote, Miangas kerap disebut saat menggambarkan keseluruhan wilayah NKRI. Dulu, pulau ini sempat jadi rebutan AS dan Belanda.   

Pulau Miangas, Jalur Migrasi Purba di Beranda Utara
Header Mozaik Sejarah Pulau Miangas. foto/Fuad

tirto.id - Samudra Pasifik Oktober 1526, armada Spanyol di bawah komando García Jofre de Loaísa berangkat dari La Coruña dengan tujuh kapal dan ratusan pelaut. Mereka mengemban titah Raja Charles V untuk menembus lautan dunia, mencari jalur menuju Kepulauan Rempah, sekaligus menelusuri nasib kapal Trinidad peninggalan ekspedisi Ferdinand Magellan.

Namun badai, kelaparan, dan kudis menyisakan mereka yang hanya berjuang untuk bertahan hidup. Di tengah keputusasaan, mata para pelaut menangkap siluet hijau di ufuk barat. Sebuah pulau kecil, rimbun dengan pohon palem.

Berabad-abad kemudian, pulau mungil ini jadi tempat perburuan manusia dan perdagangan budak, menjadi rebutan dua imperium besar di meja hukum internasional, lalu bertransformasi menjadi ruang hidup yang mempertemukan bahasa, mata uang, dan budaya lintas batas.

Kini, daratan karang itu dikenal sebagai Pulau Miangas, beranda paling utara yang menjaga wibawa Indonesia.

Hikayat Air Mata di Ujung Utara

Pulau Miangas daratannya hanya dua kilometer persegi, namun berdiri tegak di tengah perairan lepas sebagai garis demarkasi antara Indonesia dan Filipina Selatan. Bagian dari gugusan Pulau Nanusa, Kabupaten Talaud, Miangas merupakan hasil benturan tektonik dan vulkanik purba, ditopang batu keras Gunungapi Miangas dan ditindih karang koral yang tajam.

Di dataran rendah, rawa sagu dan laluga menjadi penopang hidup masyarakat, sementara perbukitan karang seperti Palaya, Kramat, dan Endene menjulang sebagai benteng alami.

Laut di sekitarnya ganas, hanya lima ratus meter dari pantai, dasar laut jatuh ke kedalaman seratus sepuluh meter, menciptakan arus berbahaya. Miangas kerap menerima hantaman dari ombak Samudra Pasifik dan Laut Sulawesi.

"Tidak ada korban tewas, namun tiga orang terluka. Gubernur Talaud memberi sinyal bahwa semua rumah telah hancur secara radikal," tulis Delf Courant terbitan 4 Mei 1932 yang melaporkan gelombang pasang dan badai di sekitar Filipina.

Merujuk Alex. J. Ulaen dan kolega dalam Sejarah Wilayah Perbatasan Miangas - F ilipino 1928-2010: Dua Noma Satu Juragan (2011:21), toponimi Miangas didokumentasikan dalam catatan kolonial Belanda dengan banyak sebutan, seperti Isla de Cocos, Las Islas Miangis, Mianguis, Island Meangis, Meangas (Mejages), dan Melangi.

Versi lainnya menyebut nama Ihla de Palmeiras sebagai rujukan yang ditemukan oleh pelaut Portugis, sebagaimana digambar Abraham Ortelius dalam petanya pada 1570.

Sementara dalam salah satu narasi lisan lokal, menukil buku terbitan BRIN berjudul Negeri di Ujung Utara Nusantara: Sejarah Masyarakat Perbatasan Pulau Miangas Kepulauan Talaud Sulawesi Utara (2023:41), Miangas berasal dari bahasa Sangihe dan Talaud, semangi atau sangi, yang berarti menangis, yang disebabkan pembajakan rutin.

Pulau Miangas memang lama menjadi sasaran para perompak dari Mindanao dan Sulu. Tangisan dan ketakutan membekas di pesisir setiap kali kapal perompak merampas hasil bumi dan menculik penduduk untuk dijual di pasar budak Sulu.

Dikisahkan Datu Bawarodi, pemimpin karismatik abad ke-15 dari garis Sumawelambung menghadapi serangan perompak yang tak henti, ia memimpin eksodus rakyatnya ke gugusan Nanusa, menetap di Pulau Marampit.

Di sana, ia menikah dengan perempuan lokal dan melahirkan tiga putra: Langgu, Lomano, dan Larungan. Bersama sekelompok petarung laut yang berani, Larungan, si bungsu, kembali ke Miangas yang saat itu sudah tidak berpenghuni.

Di puncak bukit setinggi seratus lima meter yang kini disebut Gunung Kota, mereka menyusun benteng batu karang dengan celah sempit sebagai jebakan maut bagi musuh. Pertahanan lapis kedua dibangun di Pulau Baronto, ujung selatan Miangas yang dilindungi tebing curam.

Dengan tombak dan meriam lantakan, mereka mengubah Miangas menjadi benteng maritim yang tangguh. Larungan inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang masyarakat Miangas saat ini.

Menjadi Rebutan Kolonialis

Perairan dalam sekitar Miangas merupakan bagian dari Wallacea, wilayah kepulauan unik yang tidak pernah menyatu dengan Paparan Sunda maupun Sahul, bahkan saat zaman es. Laut dalam dan arus ganas menjadikannya batas biogeografi yang memisahkan evolusi Asia dan Oseania.

Di sanalah manusia purba menemukan jembatan menuju Oseania. Kajian berjudul "The Pleistocene Maritime Migration of Modern Humans in Northern Wallacea: The Cases of Topogaro in Sulawesi and Bubog in Mindoro" (2023) menunjukkan rute utara Wallacea yang melintasi Mindanao, Talaud, hingga Maluku sebagai jalur utama migrasi Homo sapiens puluhan ribu tahun silam.

Penelitian tersebut merekam jelas jejak migrasi di Leang Sarru, ceruk batu di Talaud yang bertetangga dengan Miangas. Ekskavasi membuktikan manusia prasejarah sudah beradaptasi di sana sejak 35 ribu tahun lalu. Mereka piawai memanen kerang dan membuat perkakas batu untuk mengolah pesisir.

Ribuan tahun kemudian, jalur yang sama dilintasi perahu bercadik penutur Austronesia. Mereka membawa teknologi pertanian dan tembikar bercap merah, merajut jaringan genetik dan budaya dari Taiwan, Filipina, Sulawesi, hingga Mikronesia. Miangas berdiri sebagai batu loncatan alami dalam pusaran arus lintas samudra itu.

Memasuki abad ke-14 hingga ke-19, jalur purba ini berubah menjadi Zona Sulu, imperium maritim yang digerakkan perdagangan. Sebelum itu, jejaring Melayu sudah lebih dulu menyentuh pesisir, membawa bahasa perdagangan, Islam, dan teknologi perahu.

Catatan pelaut asal Inggris, Thomas Forrest abad ke-18, mengagumi ketangkasan penduduk Talaud dan Nanusa membuat kapal layar kayu yang tangguh. Namun, menurut J.F Warren dalam The Sulu Zone 1768-1898 (2007), permintaan pasar Tiongkok atas teripang, sirip hiu, dan sarang burung walet mendorong Kesultanan Sulu mensponsori armada perompak Iranun dan Balangingi.

Dengan kapal cepat dan meriam, mereka menyapu pantai Miangas, Sangihe, dan Talaud menjadi target langganan. Laporan Belanda mencatat ratusan orang ditawan dalam hitungan jam, digiring ke pasar budak Jolo.

Menurut Herman Johannes Lam dalam Miangas (Palmas): Scattered Annotations, Made and Collected (1932:39), masyarakat Miangas pun terpaksa mengungsi ke bukit, membangun dua benteng karang demi bertahan.

Pada akhir abad ke-19, usai menaklukkan Spanyol, Amerika Serikat mengambil alih Filipina lewat Perjanjian Paris 1898. Mereka yakin garis batas mencakup Miangas. Namun, Belanda yang berabad-abad mengelola wilayah ini menolak. Ketegangan memuncak pada 1906 saat Jenderal Leonard Wood mendarat di Miangas dan mendapati bendera Belanda berkibar.

AS mengklaim warisan Spanyol dan kedekatan geografis, sementara Belanda mengajukan bukti perjanjian VOC dengan pangeran lokal sejak 1677. Kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Belanda akhirnya menemukan jalan damai ketika kedua pihak sepakat menyerahkan sengketa Miangas ke Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag.

Perjanjian khusus ditandatangani pada 23 Januari 1925, menunjuk Max Huber, ahli hukum asal Swiss sekaligus Presiden Mahkamah Internasional, sebagai arbiter tunggal. Seperti dilaporkan De Indische Courant, pada 5 April 1928, ia membacakan putusan dengan bukti bahwa Belanda telah mengelola Miangas sejak abad ke-17, sehingga wilayah ini merupakan bagian sah dari Hindia Belanda.

Jaring Sammi dan Harmoni Dua Bangsa

Hari ini, masyarakat Miangas hidup dari laut dan tanah, menjadi nelayan dan petani umbi. Mereka masih merawat pengetahuan ekologis untuk bertahan hidup yang berakar pada kearifan leluhur, seperti membaca kalender bulan di langit dan memahami pergerakan udara dengan tujuh belas nama arah mata angin dalam bahasa lokal.

Kearifan itu mewujud nyata dalam tradisi Eha, masa jeda spiritual di mana segala bentuk eksploitasi alam diharamkan. Selama lima hingga delapan bulan laut dibiarkan tenang, tiga bulan daratan tidak disentuh, bahkan buah kelapa pun tak boleh dipetik.

Menurut Wilson MA Therik dan Frinsisika Jelinda Sahadula (2017), pantai konservasi seperti Wolo dan Perre menjadi wilayah tabu, dijaga oleh rasa hormat sekaligus takut pada teguran semesta. Pelanggaran Eha biasanya berbuah sanksi sosial, seperti berkeliling kampung sambil memukul tambur atau membayar denda sesuai kesalahan yang dibuat.

Puncak masa Eha adalah ritual Manammi, perayaan panen laut besar-besaran. Pemimpin adat yang bergelar Ratumbanua, memimpin doa di pasir pantai, mencabut larangan Eha, lalu jaring Sammi sepanjang dua ribu meter diturunkan ke laut.

Berhari-hari sebelumnya, kaum pria bergotong royong menenun janur kelapa dan akar rotan menjadi jaring raksasa. Saat fajar merekah, seluruh penduduk turun ke pantai, tanpa sekat status sosial.

Mereka membentuk lingkaran manusia, menarik tali Sammi dari dua arah, menggiring ribuan ikan yang telah dibiarkan berkembang biak selama berbulan-bulan ke perairan dangkal. Masyarakat Miangas, selain merayakan hasil tangkapan, juga persaudaraan dan gotong royong.

Ikan-ikan yang berlimpah hasil tangkapan tidak pernah ditimbun untuk keuntungan pribadi. Tetapi terlebih dahulu dibagikan kepada janda, yatim, dan orang tua yang tak lagi mampu melaut. Baru setelah itu sisanya dinikmati bersama, sebagian dibakar di atas pasir untuk pesta komunal, sebagian diolah menjadi tinapa, ikan asap yang awet disimpan.

Namun, kehidupan komunal ini tidak berarti Miangas menutup diri. Menurut studi Wulansari A.P.G. Frederik (2011), kehidupan ekonomi masyarakat Miangas sangat bergantung pada Filipina, khususnya Balut dan Mindanao. Perjalanan ke Filipina sering kali lebih mudah daripada ke Sulawesi, sehingga interaksi dagang dan kekerabatan berlangsung masif. Bahkan sekitar 25.000 orang Indonesia tinggal di Mindanao karena faktor ekonomi dan fasilitas yang lebih baik.

Rupiah dan Peso pun beredar bersamaan di warung-warung dan pasar lokal. Nelayan Miangas membawa ikan segar, ikan asap, dan kopra, lalu pulang dengan kebutuhan pokok dan lembaran Peso. Sirkulasi dua mata uang ini merupakan strategi bertahan hidup rakyat perbatasan yang cair dan realistis.

Namun demikian, penelitian itu mencatat banyaknya transaksi ilegal sebab jalur resmi mahal dan rumit, memaksa warga memakai "jalur tikus" laut menuju wilayah Filipina.

Pertukaran barang tersebut membawa serta pertukaran budaya. Masyarakat Miangas tumbuh dengan identitas hibrida, fasih berbahasa Indonesia, Talaud, Melayu Manado, Sangir, Bisaya, hingga Tagalog. Kristenisasi Miangas pada masa kolonial Belanda berkembang bersamaan dengan jaringan gereja Filipina dan Pasifik.

Merujuk Studi Tentang Aspek-Aspek Sosial-Budaya Masyarakat Daerah Perbatasan: Studi Kasus Masyarakat di Pulau Miangas (2012:110), kombinasi oral itu lalu meresap ke seni pertunjukan, seperti mabbare, festival keliling kampung pada natal dan tahun baru. Diiringi bunyi-bunyian, gitar, dan ukulele, menjadi ekspresi religius sekaligus perekat sosial.

Begitu juga tradisi kulintang, ansambel gong khas Mindanao dan Sulu. Budaya gong maritim ini tersebar sampai Sulawesi utara dan kepulauan perbatasan, termasuk Miangas dan Talaud.

Dari itu semua, jika dimaksimalkan, Pulau Miangas punya potensi wisata yang sangat besar, terutama untuk wisata bahari, sejarah perbatasan, dan antropologi budaya.

Baca juga artikel terkait PULAU TERLUAR atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi