tirto.id - Presiden RI Prabowo Subianto mengaku bahwa Indonesia masih membutuhkan impor sejumlah barang penting dari Amerika Serikat (AS). Terutama untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan penting seperti BBM, gandum hingga kedelai.
Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan Indonesia dalam bernegosiasi dengan Trump dalam hal besaran tarif resiprokal.
"Jadi akhirnya terjadi pertemuan dua kepentingan. Kita juga butuh, sebagai contoh, kita masih impor BBM, kita masih impor gas, kita masih perlu impor gandum, kita masih perlu impor kedelai, dan sebagainya. Jadi akhirnya kita bisa dapat suatu titik pertemuan," ungkap Prabowo di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Rabu (16/7/2025).
Selain kebutuhan-kebutuhan dimaksud, Prabowo juga menyinggung kebutuhan pembelian Pesawat Boeing dari AS untuk menopang pengembangan bisnis maskapai Garuda Indonesia.
"Ya, memang kita kan perlu untuk membesarkan Garuda. Garuda adalah kebanggan kita. Garuda adalah flag carrier nasional. Garuda lahir dalam perang kemerdekaan kita. Jadi Garuda harus menjadi lambang Indonesia," ucap Prabowo.
Dia menegaskan akan membesarkan Garuda Indonesia dan memenuhi kebutuhan pesawat-pesawat baru. Penerapan tarif 19 persen oleh Donald Trump pun dipastikan Prabowo bukan suatu masalah untuk memenuhi kebutuhan itu.
"Kita bertekad, saya bertekad untuk membesarkan Garuda. Dan untuk itu kita butuh pesawat-pesawat baru. Saya kira nggak ada masalah karena kita butuh, mereka ingin jual. Pesawat Boeing juga cukup bagus. Kita juga tetap dari Airbus," ujar dia.
Sebagai informasi, Indonesia mendapatkan penurunan tarif impor dari Donald Trump menjadi 19 persen setelah sebelumnya dikenakan 32 persen. Dibandingkan dengan negara-negara lain di Asean, Indonesia menjadi negara dengan tarif terendah kedua setelah Singapura yang hanya dipukul tarif sebesar 10 persen.
Sedangkan, negara lain seperti Vietnam mendapatkan tarif resiprokal sebesar 20 persen, Filipina 20 persen, Malaysia 25 persen, Brunei Darussalam 25 persen, Thailand 36 persen, Kamboja 36 persen, Myanmar 40 persen, dan Laos sebesar 40 persen.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































