tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mendapatkan penghargaan Lencana Emas Adi Bhakti Tani Nelayan Maha Utama pada puncak Pekan Nasional Petani Nelayan Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS KTNA) XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Ketua Umum KTNA, Muhammad Yadi Sofyan Noor, mengatakan penghargaan ini sebagai simbol apresiasi masyarakat tani dan nelayan kepada Prabowo dalam kebijakan ketahanan pangan nasional.
Penghargaan ini disebutnya juga mewakili aspirasi dan rasa terima kasih jutaan petani serta nelayan di seluruh Indonesia.
“Pada kesempatan yang berbahagia ini saya mewakili keluarga besar petani nelayan yang jumlahnya kurang lebih 160 juta, mengucapkan terima kasih atas program-program yang dibuat oleh pemerintah,” kata dia dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).
Menurut Yadi, kehadiran Prabowo di tengah ribuan peserta PENAS XVII menjadi dorongan semangat bagi para petani dan nelayan untuk terus berinovasi serta berkontribusi dalam pembangunan nasional.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberi kesehatan, kekuatan, dan perlindungan kepada Bapak Presiden dalam memimpin bangsa menuju Indonesia yang maju, mandiri, berdaulat, dan sejahtera,” ucap Yadi.
Merespons hal itu, Prabowo menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehormatan yang diberikan oleh petani dan nelayan Indonesia.
Menurut Prabowo penghargaan tersebut memiliki makna khusus baginya karena selama puluhan tahun merasa terlibat langsung dalam perjuangan memperjuangkan kepentingan petani dan nelayan Indonesia.
“Ini juga kebetulan pertama kali saya hadir sebagai Presiden Republik Indonesia. Saya sudah hadir di banyak PENAS karena cukup lama menjadi ketua umum HKTI yang selalu berjuang bersama KTNA untuk kepentingan petani dan nelayan di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Katanya, penghargaan itu bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga kebanggaan yang mengingatkannya pada perjalanan panjang bersama para petani dan nelayan di berbagai daerah.
“Selain kehormatan, juga kebanggaan saya. Karena sudah cukup lama saya berjuang bersama para petani dan nelayan di seluruh Indonesia,” kata dia.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































