Menuju konten utama

PM Malaysia Anwar Ibrahim Rilis Buku Memoar & Ide Reformasi

PM Malaysia, Anwar Ibrahim, meluncurkan buku Rethinking Ourselves: Justice, Reform and Ignorance In Postnormal Times di Bukit Jalil pada Minggu (7/12/2025).

PM Malaysia Anwar Ibrahim Rilis Buku Memoar & Ide Reformasi
PM Malaysia Anwar Ibrahim. instagram/anwaribrahim_my

tirto.id - Perdana Menteri Malaysia, Dato' Seri Diraja Haji Anwar bin Ibrahim, meluncurkan buku Rethinking Ourselves: Justice, Reform and Ignorance In Postnormal Times di Bukit Jalil pada Minggu (7/12/2025).

"Saya sambut peluncuran naskhah ini dengan penuh rasa syukur tatkala perjalanan hidup yang berliku tetap memaculkan idea dan menyuburkan tekad untuk menghasilkan sebuah karya tentang bangsa dan kemanusiaan," tulis Anwar Ibrahim melalui unggahan di Instagramnya, Minggu.

Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa buku terbarunya mendapatkan dukungan dari tiga penerbit terkemuka. Pertama, Hurst London untuk pemasaran di United Kingdom, Eropa, dan Amerika Syarikat.

Kedua, Penguin untuk distribusi di Malaysia dan Asia. Terakhir, Hong Kong University Press untuk penjualan di China dan Asia Timur.

Isi Buku Memoar & Ide Reformasi Karya PM Malaysia Anwar Ibrahim

Anwar Ibrahim menerangkan bahwa buku Rethinking Ourselves berasal dari catatan-catatan sewaktu dirinya dipenjara di Sungai Buloh, Selangor pada 2015-2018.

Istri Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail, adalah orang yang menyusun tersebut menjadi naskah lengkap selama satu dekade.

Oleh sebab itu, Anwar Ibrahim mendedikasikan buku tersebut khusus untuk sang istri.

Anwar Ibrahim mengklaim bahwa buku barunya bukan sekadar memoar, tetapi ide untuk membina negara yang berkemajuan dan berdasar pada kekuatan nilai, keberanian moral, serta martabat rakyatnya.

Salah satu pertanyaan besar yang diangkat Anwar Ibrahim dalam buku tersebut adalah bagaimana memberantas korupsi.

"Naskhah ini mengangkat persoalan besar tentang bagaimana kita menundukkan rasuah yang menjarah maruah bangsa, bagaimana merawat luka perkauman dan menangkis pelampau agama, serta bagaimana sebuah negara pascakolonial mencari kembali kedaulatan minda dan martabat rakyatnya," jelas PM Malaysia tersebut.

Anwar Ibrahim juga membahas tentang tantangan era baru, yakni gelombang digital, kecerdasan buatan, dan transisi energi.

"Saya turut mengangkat zeitgeist atau cabaran zaman baharu, termasuk arus digital, kecerdasan buatan dan peralihan tenaga, yang menuntut negara ini mengejar kemajuan tanpa kehilangan jiwa. Teknologi memperkasa kita, namun nilai dan perikemanusiaan memberi makna kepada kemajuan," jelasnya.

Baca juga artikel terkait ANWAR IBRAHIM atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Iswara N Raditya