tirto.id - Perseteruan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) vs FIFA memasuki babak baru. Setelah FIFA tolak banding terkait skandal pemalsuan dokumen pemain naturalisasi pada 3 November, FAM memutuskan melakukan banding lanjutan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Sebaliknya, FIFA telah merilis laporan setebal 63 halaman atas permintaan FAM dan menguak berbagai fakta lanjutan atas kasus ini.
FIFA tidak berhenti sampai di situ. FIFA akan memulai investigasi formal terhadap operasional internal FAM. FIFA juga akan meminta bantuan otoritas pidana di lima negara untuk menyelidiki kemungkinan adanya unsur kriminal dalam kasus pemalsuan dokumen resmi ini.
Negara-negara yang akan terlibat dalam penyelidikan meliputi Brasil, Argentina, Belanda, Spanyol, dan Malaysia. Bagi FIFA, kasus yang berkaitan dengan FAM ini bersifat sangat serius.
Fakta-fakta Baru FAM vs FIFA
FAM boleh jadi ketar-ketir dengan tindakan lanjutan yang diambil FIFA. Komite Banding dalam laporan 63 halaman disebut memerintahkan Sekretariat FIFA mengambil langkah untuk melakukan penyelidikan formal bagi FAM.
Penyelidikan itu nantinya turut menilai kecukupan dan efektivitas mekanisme kepatuhan, serta tata kelola FAM. Dari situ, hasil temuan dapat berguna sebagai bahan pertimbangan perlu tidaknya memberikan tindakan disiplin tambahan untuk pejabat FAM.
“Sebagai fokus awal, investigasi harus memeriksa peran sekretaris jenderal FAM dan dua agen berlisensi FIFA yang disebutkan dalam proses ini: Tn. Nicolas Puppo dan Tn. Frederico Moraes,” tulis Komite Banding FIFA dikutip CNA.
“Keterlibatan mereka menimbulkan kekhawatiran serius yang perlu diselidiki secara menyeluruh,” tambah pernyataan itu
Tidak hanya itu, FIFA memberikan kecaman keras pada FAM yang memberikan skors untuk Sekretaris Jenderal Noor Azman Rahman pada Oktober lalu untuk "sekadar basa-basi". Pasalnya, Noor Azman kerap muncul di berbagai acara penting. Contohnya, ia terlihat pada waktu Presiden FIFA Gianni Infantino berkunjung ke Kuala Lumpur yang bersamaan dengan KTT ASEAN.
Komite Banding turut memberikan instruksi agar sekretariatnya melakukan penyelidikan terpisah. Penyelidikan ini dikaitkan dengan penempatan beberapa pemain yang terkena sanksi FIFA yang diterjunkan pada pertandingan persahabatan Malaysia ketika melawan Tanjung Verde, Singapura, dan Palestina bulan Mei serta September. Dengan demikian akan diketahui di mana saja para pemain berpartisipasi, termasuk kemungkinan mendapatkan sanksi tambahan apabila diperlukan.
Adapun proses memberitahu otoritas pidana yang berwenang di Argentina, Belanda, Spanyol, dan Malaysia segera ditindaklanjuti Sekretariat FIFA. Empat negara pertama merupakan tempat kelahiran pemain keturunan Malaysia yang tersandung kasus pemalsuan dokumen oleh FAM.
Langkah tersebut akan memastikan proses investigasi dan pidana segera dapat ditindaklanjuti. FIFA memandang urusan pemalsuan dokumen ini memiliki sifat pelanggaran yang berat, ditambah dengan pelanggaran-pelanggaran lainnya.
Mantan Wapres FAM Imbau Akui dan Terima Sanksi FIFA
Mantan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM), Datuk Seri Ridzuan Sheik Ahmad, menyarankan FAM untuk mengakui kesalahan atas skandal pemalsuan dokumen pemain naturalisasi dan menerima hukuman FIFA alih-alih melanjutkan banding ke CAS. Pasalnya, FAM berpotensi mendapat hukuman yang jauh lebih berat apalagi FIFA telah merekomendasikan penyelidikan oleh empat negara lain terkait kasus pemalsuan dokumen
"Siapa pun bisa berbuat salah, dan kami mengakuinya. Jadi, terima saja hukumannya. Kami tidak bisa melawan FIFA. 'Jari' mereka lebih besar, mereka punya akses ke data di mana-mana," kata Ridzuan dikutip BHarian.
Jika hasil investigasi beberapa negara tersebut menemukan bukti yang memberatkan, maka posisi Malaysia menjadi sangat sulit.
"Kalau kita tidak menemukan apa pun, bagaimana kalau empat negara lain mendapatkan hasil sebaliknya? Skornya 4-1. Bahkan di sepak bola, hasil itu menunjukkan kita kalah," ungkap Ridzuan.
Ridzuan menyarankan FAM agar badan pengurus mempertimbangkan langkah yang diambil, termasuk keputusan membawa kasus ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Sebab, nantinya FAM bisa saja berhadapan dengan laporan rinci yang disampaikan Komite Banding FIFA.
"Kalau kita bawa ke CAS dan kalah lagi, kita akan semakin malu, jadi bahan tertawaan, dan hukumannya bisa lebih berat," tutur Ridzuan.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id




























