tirto.id - Para peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi 2026 dibekali pemahaman dan simulasi Tactical Floor Game (TFG). Materi ini diharapkan dapat membantu para petugas haji dalam mengurai kompleksitas persoalan di lapangan, khususnya saat puncak haji pada Armuzna (Arafah, Musdhalifah, dan Mina).
Materi dan simulasi ini disampaikan Koordinator TFG, Letnan Kolonel Infanteri Surnadi. "Hal ini sangat bermanfaat bagi para petugas haji. Materi ini telah saya sampaikan sejak 2024 hingga 2025 dan berlanjut sampai 2026," kata dia usai mengisi materi Diklat PPIH Arab Saudi 2026, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026).
Dalam simulasi TFG ini, para peserta diberikan gambaran menyeluruh terkait pola pergerakan petugas dan jemaah, penempatan pos, serta mekanisme pengamanan dan pengendalian di setiap wilayah tugas.
Sunardi mengatakan, tujuan dari pelaksanaan materi ini adalah agar para petugas haji, ketika menjalankan tugas di Arab Saudi, dapat menempati daker atau pos masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Dengan demikian, kata dua, tugas dapat dilaksanakan dengan baik, aman, dan lancar. "Jemaah pun merasa terlindungi serta terbimbing dalam menjalankan rangkaian ibadah haji," kata dia.
Menurut Sunardi, TFG ini juga menjadi gambaran awal bagi para petugas dalam memahami tugas-tugas ke depan.
"Nantinya, baik dalam kegiatan maket maupun gladi posko, tugas dan fungsi tersebut akan semakin diperdalam dan difungsikan secara nyata di lapangan," kata dia.
Selain itu, kata Sunardi, dalam TFG ini juga dijelaskan dan disimulasikan bagaimana mekanisme pergerakan petugas, pendorongan petugas dan jemaah, serta hal-hal penting yang perlu diperhatikan oleh petugas di wilayah Armuzna.
Menurut dia, poin terpenting bagi petugas haji saat kegiatan Armuzna adalah kemampuan mengatur waktu. "Pengaturan waktu sangat krusial dalam setiap pergerakan, baik pergerakan petugas sendiri maupun dalam mengawal dan mengawasi jemaah," kata dia.
Saat pelaksanaan Armuzna, petugas haji akan dibagi tiga satuan tugas (satgas). Petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara akan menjadi penanggung jawab di Arafah. Tim ini akan diberangkatkan ke Arafah lebih dahulu untuk mengecek kesiapan teknis, mulai dari tenda hingga toilet.
Rencananya, para petugas Daker Bandara akan diberangkatkan ke Arafah pada 7 Dzulhijjah, sementara para jemaah mulai didorong ke Arafah mulai 8 Dzulhijjah. Sementara petugas dari Daker Makkah akan berangkat terakhir untuk memastikan tidak ada jemaah haji yang tertinggal di Makkah.
Di sisi lain, petugas Daker Makkah akan bertugas di Musdhalifah. Karena itu, para petugas di kelompok ini akan berwukuf sangat singkat, karena pukul 14.00 sudah harus geser ke Musdhalifah untuk menunggu para jemaah yang kemungkinan akan didorong mulai sore harinya.
Sedangkan petugas dari Daker Madinah juga langsung ke Mina, tidak mabit di Musdhalifah. Mereka akan melakukan murur seperti jemaah haji lansia dan risiko tinggi atau risti.
Menurut Sunardi, konsep TFG juga akan sangat membantu para petugas haji dalam pergeseran ini. "Mulai dari pergerakan dari sektor-sektor Makkah menuju Arafah, dari Arafah ke Muzdalifah, Muzdalifah ke Mina, Mina ke Jamarat, hingga kembali ke Makkah untuk melaksanakan thawaf ifadah," kata Sunardi.
Ia mengatakan, semua pergerakan tersebut akan diatur dengan perencanaan yang matang. Termasuk penugasan petugas di Madinah, Mina, maupun pengamanan pos dan rute-rute tertentu.
"Penempatan petugas dilakukan secara maksimal agar tidak terjadi tumpang tindih tugas, khususnya di Mina. Seluruh penugasan telah direncanakan dan dipetakan secara sistematis, termasuk penempatan nama-nama petugasnya," pungkas dia menegaskan.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






























