tirto.id - Selama ini, sepak terjang orang Bugis-Makassar dalam catatan sejarah Nuantara kerap hanya didominasi oleh narasi Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka. Padahal masih banyak sosok lain yang kiprahnya tak kalah menonjol.
Setelah kejatuhan Kesultanan Gowa-Tallo akibat gempuran koalisi Arung Palakka-VOC serta lahirnya Perjanjian Bongaya (1667), menurut Rismawidiawati dalam “Perkawinan Politik dan integrasi di Sulawesi Selatan Abad XVII-XVIII” (2013), Kerajaan Bone yang dipimpin Arung Palakka memang bertransformasi menjadi kiblat politik baru bagi orang Bugis.
Meski demikian, hal itu tidak lantas membuat kondisi politik benar-benar aman bagi Arung Palakka. Ia tetap membutuhkan dukungan dari kerabat-kerabat Bugisnya, dibandingkan hanya bergantung pada VOC.
Maka itu, serangkaian perkawinan politik pun diselenggarakan oleh Arung Palakka demi menyambung hubungan dinasti antara Bone dengan kerajaan-kerajaan Makassar-Bugis seperti Gowa-Tallo, Luwuk, dan lain-lain. Tradisi kawin-mawin ini terus bertahan bahkan setelah Arung Palakka mangkat, sehingga pada tahun-tahun berikutnya Bone tetap berada pada kemapanan.
Perubahan mulai tampak pada permulaan abad ke-18. Bergantinya abad rupanya menjadi penanda bergantinya angin politik dengan lahirnya seorang bangsawan dari Wajo yang kelak berhasil memutar balik keadaan.
Kehidupannya sebagai legenda tidak kalah revolusionernya dengan Arung Palakka. Seperti juga Arung Palakka yang resah karena merasa dijajah orang Makassar, sosok ini juga resah akan penindasan yang dilangsungkan kerajaan warisan Arung Palakka pada kerajaannya. Dialah La Maddukelleng alias Arung Singkang, petualang Bugis yang naik takhta di Borneo.
Insiden di Gelanggang Sabung Ayam
La Maddukelleng diperkirakan lahir di Peneki pada tahun 1700. Menurut Jacobus Noorduyn dalam “Arung Singkang (1700-1765): How the Victory of Wadjo’ Began” (1972), ia lahir dari trah bangswan Peneki yang merupakan keturunan Kerajaan Wajo.
Sementara menurut naskah Lontaraʼ Sukkuʼna Wajoʼ, Arung Singkang muda telah mengabdi pada Raja Wajo, yaitu Arung Matoa La Salewangeng To Tenrirua. Menurut naskah tersebut, tidak lama setelah dikhitan, Arung Singkang ditugaskan menjadi semacam abdi pembawa tepak sirih bagi sang raja.
Suatu hari, Raja Wajo menghadiri upacara pelubangan telinga putri Kerajaan Bone, ditemani oleh Arung Singkang abdinya. Sebagaimana pesta-pesta Bugis di masa itu, pada pesta tersebut digelar sabung ayam yang melibatkan Raja Wajo.
Pada pelaksanaannya, sabung ayam yang semula ditujukan sebagai hiburan, justru melahirkan keributan yang serius. Salah satu pemicu keributan adalah Arung Singkang yang menikam seorang pemain sabung ayam (orang Bone) yang bertindak tidak sopan pada rajanya. Tindakan Arung Singkang itu sontak merembet ke peserta lain, sehingga terjadi insiden berdarah yang memakan banyak korban: orang Wajo dan Bone.
Singkat cerita, orang-orang Wajo yang kalah jumlah bergegas kembali ke kampung halamannya. Di sisi lain, datang utusan Raja Bone yang meminta agar provokator keributan sabung ayam diserahkan kepada Raja Bone untuk dihukum.
Arung Matoa sebagai Raja Wajo yang menyayangi Arung Singkang berkilah pada utusan itu bahwa orang yang dimaksud telah kabur, dan utusan dari Bone pun pulang dengan tangan kosong. Arung Matoa dan Arung Singkang tahu bahwa orang Bone akan datang kembali dan menyerang Wajo, sehingga diputuskan agar Arung Singkang melarikan diri dari Wajo.
Raja di Laut Malaka, Sultan di Pasir
K.A. Wellen dalam The Open Door: Early Modern Wajorese Statecraft and Diaspora (2014) menyebutkan bahwa Arung Singkang menumpang kapal dagang Bugis menuju lautan Melayu. Di masa yang sama saat ia merantau, para pelaut Bugis tengah berperang membela kepentingan raja-raja Melayu.
Para pelaut Wajo umumnya memihak Raja Kecik dari Siak, sementara pelaut Bugis lainnya yang berada di bawah naungan Opu Lima bersaudara berkoalisi dengan Sultan Johor, musuh Raja Kecik.
Kakak Arung Singkang yang bernama Daeng Matekko tewas dibunuh oleh orang Johor saat membela kepentingan Raja Kecik. Akhirnya, Arung Singkang berusaha membalaskan dendam kakaknya bersama dengan para pelaut Wajo lain dengan membuat onar di kota Johor.
Setelah meraih kemenangan di Johor, Arung Singkang semakin tersohor. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke Selat Makassar dan perlahan-lahan membangun kekuatan angkatan laut di pulau-pulau kecil di selat tersebut.
VOC sempat menjulukinya sebagai “Raja Bajak Laut” lantaran ia terus-menerus mengganggu kapal kargo Kompeni yang keluar masuk Makassar. Selama menjadi bajak laut di Selat Makassar, Arung Singkang juga menjalin hubungan baik dengan Sultan Paser di Kalimantan Tenggara (sekarang masuk Provinsi Kalimantan Timur).
Menurut Noorduyn (1972), Arung Singkang sangat dipercaya oleh Sultan Paser dan kemudian diangkat sebagai menantu sultan. Setelah Sultan Paser wafat, istri Arung Singkang diangkat sebagai sultanah, walaupun kemudian secara de facto Singkang-lah yang aktif menjadi sultan.
Upaya Pembebasan Wajo
Setelah memiliki kekuatan besar, Arung Singkang kembali ke tanah kelahirannya dan membebaskan Wajo dari belenggu musuh bebuyutan (Bone). Bermodal 40 kapal perang, pada tahun 1736 Arung Singkang beserta pasukan Bugis-Paser mendarat di Majene dan langsung mengarahkan moncong senjata kepada para vasal Bone, yaitu Balanipa dan Tanete. Pasukan Arung Singkang terus menerobos ke wilayah orang Mandar dan berhasil mendapatkan harta rampasan perang yang banyak.
Setelah 75 hari menembus dan melewati negeri-negeri bawahan Bone, akhirnya pasukan Arung Singkang berhasil mencapai Singkang. Ia kemudian mengikuti persidangan koalisi Bugis (tellumpoccoe) yang akhirnya memdakwa bahwa ia tidak bersalah dalam insiden sabung ayam berdarah beberapa waktu lalu.
Pada Februari 1739, ia memimpin pasukan sekutu menuju Makassar dengan tujuan menyerang benteng Belanda. Meskipun berhasil merebut Gowa, empat serangan ke benteng Kompeni gagal. Pasukannya dikalahkan secara telak oleh Belanda pada 20 Juli 1739.
Setelah kembali, Arung Singkang berhasil menahan serangan balik VOC pada Januari 1741. Setelah upaya yang tidak berhasil ini, Wajo praktis berada di luar pengaruh Belanda selama hampir satu setengah abad.
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































