tirto.id - Dalam naskah Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji diceritakan tentang hidup seorang Raja Johor yang tersohor bernama Sultan Mahmud Shah II. Ia digambarkan sebagai sosok yang durhaka terhadap rakyatnya lantaran gemar berbuat jahat dan sewenang-wenang.
Salah satu korban kejahatannya adalah istri Laksamana Johor, Megat Seri Rama. Sang laksamana begitu dendam pada raja karena telah membunuh istrinya dengan alasan yang dibuat-buat. Atas dasar itu, pada suatu hari, ketika raja sedang bepergian dengan menggunakan tandu, Megat Seri Rama membunuhnya.
Peristiwa rajapati itu begitu membekas dalam benak orang Melayu sehingga Sultan Mahmud Shah II diberi gelar Mahmud Mangkat Dijulang. Sepeninggalnya, rakyat Johor dihantui krisis suksesi karena raja tidak meninggalkan anak. Akhirnya, diputuskan Tun Bendahara (Pedana Menteri) Johor yang naik takhta, sehingga Dinasti Melaka berakhir di masa kekuasaan Sultan Mahmud Shah II.
Menurut Timothy P. Barnard dalam Raja Kecil dan Mitos Pengabsahannya (1994) yang juga mengutip naskah Tuhfat al-Nafis, sebelum dibunuh, Sultan Mahmud Shah II telah bersenggama dengan seorang selirnya yang bernama Encik Pong dan sang selir pun kemudian mengandung.
Berkat bantuan orang-orang laut yang setia dengan Sultan Mahmud Shah II, Encik Pong dapat diselamatkan dari rencana pembunuhan yang didesain oleh para pendukung Tun Bendahara yang kala itu sudah naik takhta dengan gelar Sultan Abdul Jalil.
Encik Pong berhasil dibawa ke Singapura, dan setelah lahir anaknya kemudian diadopsi oleh Tumenggung Muar. Dari Singapura, anak yang tidak diketahui identitasnya oleh orang banyak itu dibawa kembali oleh Tumenggung Muar ke Johor untuk dibesarkan.
Singkat cerita, ketika menginjak umur menjelang remaja, sang pangeran mulai dikenali oleh Sultan Abdul Jalil dan menjadi buronan kerajaan. Ia lantas meminta perlindungan kepada seorang saudagar kaya Minangkabau kenalan Tumenggung Muar bernama Nahkoda Malin.
Dari sanalah perjalanan sang pangeran menjelajah negeri Andalas (Sumatra) demi meraih haknya yang luput dimulai. Di kemudian hari ia dikenal sebagai Raja Kecik.
Merantau dan Menuntut Balas
Raja Kecik muda dibawa oleh Nahkoda Malin ke Pagaruyung. Menurut Hikayat Siak seperti disampaikan oleh Leonard Andaya Y. dalam Kerajaan Johor 1641-1728 (1978), Raja Kecik dibawa menghadap Yang Dipertuan Maharaja Pagaruyung.
Raja Minangkabau amat menyayanginya karena ketampanan dan kecerdasan sang pangeran cilik. Sementara Ibunda Suri Minangkabau, Putri Jamilan, iba melihatnya karena seorang yatim, maka itu ia pun mengadopsinya.
Sebagai pangeran Melayu yang dibesarkan di Alam Minangkabau, Raja Kecik pun menjalankan tradisi orang Minang yang gemar merantau ketika dirinya menginjak usia 13 tahun. Atas izin Raja Minangkabau, Raja Kecik akhirnya merantau ke hilir Sungai Batanghari di Jambi.
Dari sana ia berdagang keliling menuju ke arah selatan Sumatra selama bertahun-tahun. Perjalanannya sempat terhenti di wilayah kekuasaan Sultan Palembang dan ia mengabdi sebagai punggawa Kesultanan Palembang selama beberapa waktu serta mendapat gelar Tuan Bujang.
Setelah mengiringi Sultan Palembang ke wilayah Kuantan dan Bangka, Raja Kecik meminta izin untuk menikahi seorang putri yang berdiam di hulu Sungai Musi di Rawas. Dari wilayah Rawas ia berkenalan dengan Sultan Jambi dan mengabdi sebagai tentara. Setelah berhasil membantu Sultan Jambi menumpas saudaranya yang memberontak, Raja Kecik meminta izin untuk mudik ke Pagaruyung.
Sekembalinya ke Pagaruyung dengan modal pengetahuan yang luas, Raja Minangkabau mafhum bahwa adik angkatnya ingin menuntut balas kepada para pemberontak yang telah membunuh dan menggulingkan ayahnya.
Dengan serangkaian upacara adat, Raja Kecik pun diangkat menjadi Putra Alam Minangkabau yang berdaulat. Nantinya hal ini dibuktikan dengan diberikannya stempel yang melegitimasi naturalisasi Raja Kecik dari sebelumnya Pangeran Melayu menjadi Pangeran Minangkabau.
Atas instruksi Raja Minangkabau, Raja Kecik diminta pergi ke wilayah hilir Sungai Siak. Di sana ia akan menggalang kekuatan bersama dengan para perantau Minangkabau, para batin (kepala suku) di Bengkalis dan para pelaut Bugis yang dikepalai Daeng Parani untuk menyerbu Johor.
Sekutunya yang disebutkan terakhir ini merupakan yang paling besar kekuatannya, sehingga ia meminta kepada Raja Kecik jika berhasil merebut takhta maka harus mengangkat dirinya menjadi Yang Dipertuan Muda (perdana menteri).
Menjadi Sultan Johor-Riau dan Mendirikan Siak Sri Indrapura
Gempar Negeri Johor lantaran tiba-tiba ditantang pasukan Raja Kecik yang memenuhi Selat Malaka. Rupanya, kedatangan Raja Kecik bersama armadanya disambut oleh para hulubalang Johor yang memang mendukungnya. Meriam-meriam di Istana Johor telah diisi oleh air, sehingga Raja Kecik tidak terkena serangan apa pun dari dalam istana.
Dengan kekuatan yang demikian besar, Sultan Abdul Jalil pun akhirnya menyerah dan mengakui kesalahannya pada Raja Kecik. Ia diampuni dan Raja Kecik mengambil alih takhta.
Seperti disampaikan oleh Asril dalam "Raja Kecil Pendiri Kerajaan Siak Sri Indrapura" (2009), Raja Kecik yang berhasil mendapatkan haknya lantas memindahkan pusat pemerintahan Johor ke wilayah Bintan dan kerajaannya pun berganti nama menjadi Johor-Riau.
Tindakan ini diambil Raja Kecik lantaran ia sadar bahwa bekas punggawa yang memberontak terhadap ayahnya belum sepenuhnya dapat dipercaya. Dan benar saja, Datuk Bendahara yang sebelumnya ia ampuni justru kemudian mengundurkan diri ke Pahang dan mengangkat diri sebagai Raja Pahang.
Untuk mengantisipasi pemberontakan Abdul Jalil, Raja Kecik secara kekeluargaan memanggil Raja Pahang. Namun, dalam prosesnya Abdul Jalil justru terbunuh karena kesalahpahaman. Atas dasar itu Tengku Sulaiman dan Tengku Tengah meminta bantuan Daeng Perani yang berbalik membenci Raja Kecik yang tidak memberinya jabatan Yang Dipertuan Raja Muda dan bahkan mengusirnya dari Johor.
Maka keadaan pun berbalik, Raja Kecik dikepung koalisi Pahang dan Bugis di Bintan pada tahun 1721. Karena terdesak, Raja Kecik lari ke wilayah Siak dan membangun kembali kekuatan. Ia meninggalkan takhta Johor pada 1723 dan mendirikan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kerajaannya secara unik memadukan tradisi Melayu dan tradisi Minangkabau yang dibawa para punggawa setia yang menyertainya selama invasi Johor.
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id




























