Menuju konten utama

Permintaan Kredit Melambat Akibat Minimnya Kepercayaan Publik

Rendahnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi makro ekonomi nasional inilah yang lantas membuat permintaan (demand) terhadap kredit melambat.

Permintaan Kredit Melambat Akibat Minimnya Kepercayaan Publik
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK Oktober 2024, via Zoom, Jumat (1/11/2024). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengakui kepercayaan masyarakat terhadap kondisi makro ekonomi nasional masih rendah. Ini seiring ketidakpastian yang terjadi di dalam dan luar negeri.

Dari dalam negeri, arah kebijakan pemerintah terkait sejumlah program prioritas termasuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dinilai masyarakat dan investor belum terlalu jelas arah dan tujuannya, bahkan ada yang khawatir akan menjadi sumber kredit macet bagi perbankan.

Dari luar negeri, ketidakpastian muncul karena masih banyak konflik geopolitik yang belum juga terselesaikan.

"Nah, tantangan untuk ini yang nanti kita bisa discuss lebih lanjut saya kira. Tapi, intinya adalah bahwa memang bisa jadi ini merupakan isu simplikal, bisa jadi ini merupakan isu yang mungkin terkait dengan persoalan-persoalan mendasar seperti yang saya sampaikan tadi. Artinya, confidence masyarakat terhadap situasi makro, itu mungkin masih kurang," aku Dian, dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan redaktur media massa, dikutip Senin (4/7/2025).

Rendahnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi makro ekonomi nasional inilah yang lantas membuat permintaan (demand) terhadap kredit melambat. Pada akhirnya, kondisi ini berdampak pada penyaluran kredit bank yang sampai saat ini masih lesu.

"Sehingga, memang demand kredit dan lain sebagainya itu kemudian menjadi tidak terlalu positif, kalau bisa dikatakan begitu " lanjut Dian.

Dari dat OJK, pada Juni 2025 penyaluran kredit korporasi tercatat masih tumbuh 8,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan penyaluran kredit konsumsi masih tumbuh 10,78 persen (yoy). Namun, penyaluran kredit UMKM hanya tumbuh 2,18 persen (yoy). Secara total, pertumbuhan kredit perbankan sampai Juni 2025 juga hanya sebesar 7,77 persen (yoy), lebih rendah dari periode Desember 2024 yang masih tumbuh mencapai 10,46 persen (yoy).

Melambatnya kinerja penyaluran kredit ini praktis berdampak pada melambatnya dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perbankan. Sampai akhir Juni 2025, penghimpunan DPK bank hanya tumbuh 6,96 persen, lebih rendah dari tahun lalu yang masih sebesar 8,45 persen.

"Namun, tumbuh meningkat secara bulanan dari 0,8 persen menjadi 2,63 persen," inbuh Dian.

Jika dirinci dari komponennya, komponen giro dan deposito tumbuh melambat, dengan masing-masing pertumbuhan dana giro dan deposito sebesar 10,39 persen dan 4,39 persen, lebih rendah dari periode bulan sebelumnya sebesar 13,48 persen dan 6,63 persen.

"Sedangkan tabungan ternyata masih tumbuh meningkat, dari 5,91 persen menjadi 6,84 persen. Nah, (jadi) hingga Juni 2025 DPK tumbuh 5,56 persen year-to-date. Ini utamanya didorong oleh growing dari pemerintah dan pembagian hasil usaha, serta bantuan sosial pada Juni 2025," beber Dian.

Baca juga artikel terkait OJK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra