Menuju konten utama

Performative Male: 2 Sisi Koin pada Diskursus Kesetaraan Gender?

Tren performative male bawa diskursus kesetaraan gender ke publik luas, tapi riskan cuma jadi alat menarik lawan jenis.

Performative Male: 2 Sisi Koin pada Diskursus Kesetaraan Gender?
Celana Skena Cowok. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jagat maya kembali diramaikan tren baru yang marak di kalangan Gen Z, yakni performative male. Tidak sebatas fesyen, tren ini juga menunjukkan suatu posisi pemikiran dan sikap dari seorang laki-laki seolah-olah mendukung isu kesetaraan gender. Namun, di balik gaya tampilan serta tindak-tanduk yang idaman, tren performative male justru ditanggapi secara kritis karena dianggap tidak menampilkan ketulusan.

Disarikan laman Urban Dictionary, performative male adalah turunan dari mode nice guys—laki-laki yang berusaha terlalu keras menunjukkan sisi feminin atau berpura-pura menyukai hal-hal yang digandrungi perempuan, misalnya K-Pop, tas jinjing, membaca buku (biasanya genre feminisme), matcha, dan sejenisnya untuk meningkatkan popularitas di mata perempuan.

Sering kali, tren ini membuang jati diri para pria yang sesungguhnya dan hanya memasang wajah performative untuk pasangan atau perempuan yang diincar.

Video-video tentang pria performative male ini semakin banyak bertebaran di media sosial, termasuk di Indonesia. Bahkan, sudah ada kontes bertajuk “Siapa Paling Performative Male” di Jakarta beberapa waktu lalu. Hal ini menunjukkan terjadinya pergeseran selera penampilan Gen Z dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Lantas, yang jadi kekhawatiran publik saat ini adalah mengemukanya krisis identitas dan kepura-puraan dari tren performative male. Saat standar laki-laki idaman perempuan ditonjolkan lewat tindakan dan gaya yang performatif saja, dikhawatirkan banyak laki-laki hanya mengubah penampilan, musik, hingga bacaan mereka agar sesuai dengan standar tersebut—bukan karena ketulusan atau penerimaan.

Terlebih, saat para laki-laki ini mulai bertingkah dan berlagak mengangkat isu-isu perempuan dan kesetaraan gender hanya untuk ‘disukai’ atau sekadar untuk menggaet atensi lawan jenis.

Nina (24), asal Jakarta Selatan, merasa bahwa tren performative male menunjukkan bahwa banyak laki-laki yang sengaja berpenampilan bak idaman wanita saat ini, tapi ternyata menyimpan niat tidak baik.

Menurut Nina, apabila laki-laki memang serius ingin belajar kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, ia semestinya tak harus mengubah tampilan dirinya. Pun mereka bisa melakukannya dengan santai dan tanpa paksaan.

“Kalau terpaksa sampai sengaja banget baca buku-buku feminis tiba-tiba, justru kesannya jadi sus [mencurigakan], apalagi kalau [sifat] aslinya ya ternyata tetap patriarkis,” ucap Nina kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).

Ilustrasi membaca buku

Ilustrasi membaca buku. FOTO/iStockphoto

Sementara Alex (25), laki-laki asal Kota Depok, merasa bahwa tren performative male mesti dilihat secara proporsional agar tidak berubah over judgment. Pasalnya, kata dia, ada laki-laki yang memang menyukai dan nyaman berpenampilan seperti itu, termasuk membaca buku dari berbagai genre.

Menurut Alex, akan sangat mudah membedakan laki-laki yang hanya performative dan laki-laki yang memang tulus mendukung dan memahami isu-isu kesetaraan gender. Hal itu dapat dilihat dari caranya bersikap dan memperlakukan siapa pun tanpa kepura-puraan.

“Biar enggak jadi penghakiman berlebihan, gue harus tekankan dulu, kalau ada aja emang cowok-cowok nyaman style begitu dan enggak ada niat mau pamer. Nah, kalau si performative ini kelihatan banget emang tendensinya, bisa kebaca doi enggak tulus,” ujar Alex kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).

Ara (24), perempuan asal Jakarta Barat, justru mengaku baru tahu soal istilah atau tren performative male setelah booming di media sosial. Menurutnya, apabila laki-laki berusaha keras ingin disukai perempuan dengan mengubah penampilan—bahkan bacaan—tanpa ketulusan, hal itu tak jauh beda dengan sikap manipulatif.

Menurut Ara, kuncinya ada pada ketulusan dan kesungguhan. Ara tak menyoal ada laki-laki yang memiliki penampilan dan bacaan ala performative male selama semua itu dilakukan tanpa kepura-puraan.

“Justru aku lihatnya ini jadi peluang buat laki-laki begitu. Jadi, kayak belajar isu perempuan dengan serius tanpa niatan aneh-aneh. Penampilan sih bukan masalahnya, justru sikap dan niat ini loh yang perlu diperhatikan,” kata Ara kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).

Motivasi dan Konsistensi Perilaku

Peneliti psikologi sosial dari Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, memandang saat ini, membedakan antara dukungan yang tulus terhadap kesetaraan gender dan sekadar citra performatif memang semakin rumit. Namun, secara psikologi sosial, hal itu bisa diamati dari dua hal utama: motivasi dan konsistensi perilaku.

Dukungan yang tulus biasanya lahir dari nilai yang sudah diinternalisasi. Artinya, seseorang benar-benar percaya bahwa kesetaraan gender itu penting, bahkan ketika tidak ada yang menonton atau memberi apresiasi.

“Misalnya, seorang pria yang secara aktif mendukung perempuan di ruang kerja atau berani berbicara ketika melihat ketidakadilan, bahkan jika itu merugikannya secara sosial,” kata Wawan kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).

Sebaliknya, performative male cenderung hanya muncul di ruang yang “aman” dan “terlihat keren”. Misalnya, memamerkan buku feminis di medsos atau saat nongkrong di kafe, tapi tetap bersikap seksis dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam psikologi, kata Wawan, sikap demikian disebut impression management atau upaya membentuk citra tertentu agar diterima lingkungan. Maka dukungan yang otentik terhadap kesetaraan gender tidak hanya tampak di permukaan, tapi juga terlihat dalam pilihan hidup dan tindakan nyata, terutama dalam situasi yang menantang.

Tren performative male, kata Wawan, adalah pisau bermata dua bagi gerakan feminisme. Di satu sisi, ada dampak positif, seperti ketika ada laki-laki—meskipun awalnya hanya untuk pencitraan—akhirnya tulus terlibat dalam wacana feminisme. Hal itu dapat membantu untuk menormalisasi diskusi kesetaraan di ruang-ruang publik.

Bahkan, dalam teori disonansi kognitif, orang yang mulai berpura-pura bisa jadi lama-lama percaya karena otaknya ingin konsisten antara tindakan dan keyakinan. Jadi, tren ini bisa menjadi pintu masuk menuju perubahan sikap yang lebih dalam.

Outfit library date

Outfit library date. FOTO/iStockphoto

Namun, dampak negatifnya juga nyata. Saat keterlibatan laki-laki bersifat dangkal atau sebatas simbolik, gerakan feminisme malah direduksi menjadi gaya hidup atau estetika. Ini berisiko mengaburkan perjuangan struktural dan membuat gerakan kehilangan arah.

“Bahkan bisa muncul ketidakpercayaan—perempuan jadi sulit membedakan siapa sekutu yang tulus dan siapa yang hanya menumpang tren,” ujar Wawan.

Untuk menjadikan keterlibatan dalam gerakan kesetaraan gender otentik dan berkelanjutan, laki-laki butuh pendekatan yang lebih dalam daripada sekadar viralitas. Pertama, pria harus mendapatkan pendidikan gender kritis—bukan sekadar slogan—dengan belajar memahami struktural tentang patriarki, privilege, dan sejarah perjuangan perempuan.

Kedua, penting untuk membentuk ruang refleksi maskulinitas—tempat laki-laki bisa membongkar cara berpikir lama tanpa merasa dihakimi. Di sinilah peran komunitas sangat penting.

Selanjutnya, kata Wawan, gerakan ini butuh mekanisme akuntabilitas. Bukan berarti saling mengawasi untuk mencari kesalahan, tapi menumbuhkan kultur kritik yang membangun dan konsisten.

“Penting untuk menggeser narasi dari ‘menjadi penyelamat perempuan’ menjadi mitra perjuangan. Keterlibatan laki-laki dalam feminisme bukan soal heroisme, tapi soal keberanian untuk melepaskan dominasi dan membangun dunia yang adil bersama-sama,” jelas Wawan.

Dua Sisi Koin

Sementara itu, staf pengelolaan pengetahuan dari Yayasan Kalyanamitra, Dewi Rahmawati, memandang bahwa dukungan tulus terhadap kesetaraan gender dapat dilihat dari tindakan nyata dan konsistensi individu dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.

Hal itu pun tidak hanya berarti termanifestasikan melalui unggahan di media sosial, seperti tren performative male yang cenderung memperlihatkan sisi pencitraan semu.

Dukungan yang tulus terlihat dari tindakan atau aksi nyata. Seperti, mendukung organisasi feminis atau organisasi yang memperjuangkan hak perempuan, memperjuangkan kebijakan properempuan, atau mengubah sikap untuk lebih egaliter.

Namun, Dewi menilai tren performative male juga memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari tren ini, misalnya, dapat meningkatkan kesadaran dan diskursus tentang kesetaraan gender di kalangan pria dan masyarakat luas.

Namun, dampak negatifnya beberapa orang mungkin hanya melakukan performative male sebatas untuk mendapatkan pengakuan sosial tanpa benar-benar mau belajar dan memahami isu kesetaraan gender. Perilaku Ini bisa mengalihkan perhatian dari isu sebenarnya dan justru merusak kredibilitas gerakan feminis.

Karenanya, beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan yang lebih mendalam tentang isu kesetaraan gender dan feminisme. Mendukung diskusi dan refleksi diri tentang peran dan tanggung jawab laki-laki dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Termasuk, ikut mengembangkan kebijakan dan program mendukung kesetaraan gender di tempat kerja, sekolah, hingga komunitas.

“Dan mendorong kelompok pria mengambil peran aktif yang mendukung dalam gerakan feminis, bukan hanya sebagai simbol atau ‘token’ kesetaraan gender,” ujar Dewi kepada wartawan Tirto, Jumat (8/8/2025).

Baca juga artikel terkait TREN TIKTOK atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - News Plus
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi